Home / BERITA TERBARU / Pilkada Jakarta, Megawati Pasang Badan untuk Ahok

Pilkada Jakarta, Megawati Pasang Badan untuk Ahok

Ahok saat bersama Ketua Umum PDIP Megawati sebelum mengambil cuti untuk kampanye pilkada 2017.

Ahok saat bersama Ketua Umum PDIP Megawati sebelum mengambil cuti untuk kampanye pilkada 2017.

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pasang badan untuk membela mati-matian petahana calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Meskipun Ahok tersandung kasus dugaan penistaan agama gara-gara pidato di Kepulauan Seribu.

Hari Jumat tangga 4 November 2016 besok, gabungan ormas Islam akan melakukan aksi besar-besaran dengan turun ke jalan. Mereka melakukan demo dan menyampaikan sejumlah tuntutan.

Di antaranya, mengecam dan menuntut Ahok yang diduga melakukan penistaan terhadap ulama dan agama Islam itu diproses secara hukum. Selain itu, massa juga akan menyuarakan untuk mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak melakukan intervensi hukum untuk mengusut proses penegakan hukum terhadap Ahok atas penistaan agama.

Megawati mengungkapkan rasa kesalnya, terhadap rencana pelaksanaan demonstrasi besar-besaran tanggal 4 November nanti. Dia menyayangkan demonstrasi yang seharusnya dijadikan ajang penyaluran aspirasi, dianggap dijadikan sarana perang antaragama.

“Kalau saya lihat seperti ini, ke mana sebenarnya kebesaran Islam itu secara agama? Mengapa kita kalau ingin bertindak yang beda tapi orang lain untuk bisa menerima, selalu menerima dengan nama agama?” keluh Megawati di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (31/10).

Presiden kelima ini mempertanyakan asumsi bahwa orang yang boleh menjadi pemimpin di Indonesia diharuskan memiliki ras, keyakinan, dan agama tertentu. Megawati mengungkapkan kekhawatirannya mengenai akibat yang akan ditimbulkan dari demo 4 November nanti

“Lalu ajakan (demonstrasi) yang bulat melalui medsos (media sosial). Enggak ada pemimpin yang kalau tidak beragama Islam, tidak boleh nonmuslim, rasnya harus Indonesia asli. Saya mikir, sebetulnya yang Indonesia asli siapa?,” jelasnya.

Menurut Megawati, adanya penolakan terhadap Ahok menunjukkan bukti bahwa toleransi masyarakat saat ini mulai memudar. Dia minta kepada masyarakat untuk menyadari akan pentingnya toleransi.

Dalam pandangan Megawati, dalam memilih seorang pemimpin, masyarakat perlu meluaskan pandangan mengenai pemimpin seperti yang sebenarnya dibutuhkan. Oleh sebab itu, masyarakat diminta tidak mempermasalahkan ras atau agama dalam memilih seorang pemimpin. Masalah SARA tak perlu dibesar-besarkan.

“Ahok yang saya sanjungkan itu, kenapa dia enggak boleh (maju Pilgub)? Apa karena dia matanya sipit? Nonmuslim? Ke mana pikiran yang namanya rasional dan sangat logic dan objektif? Apakah kita tidak seharusnya bahagia sekali melihat dunia sekarang? Orang kelaparan?” ujarnya.

Dengan mengusung Ahok sebagai calon gubernur DKI, lanjut Megawati, hal itu tidak dianggapnya memihak kepada ras atau agama tertentu. Megawati mengungkapkan penyesalannya mengenai demonstrasi besar-besaran yang akan dilaksanakan pada 4 November nanti.

“Bukan berarti saya membela orang nonmuslim, membela kaum China. Saya membela negara Republik Indonesia yang saya cintai. Lah kalau urusan memilih Pak Ahok kok terus pakai begituan? Orang mau milih pemimpin kok direlasikan dengan agama dan ras,” keluh Megawati.

“Tidak seperti nanti tanggal 4 itu yang dikatakan, maaf, jihad atau begini. Ini pemerintah Republik Indonesia. Tidak bisa diinjak-injak begitu saja,” pungkasnya.

[Merdeka]