Ananda Bahri
Oleh: Ananda Bahri
Bangsa Indonesia lahir diawali sebuah perjuangan dan perlawanan yang panjang dari seluruh elemen masyarakat disetiap daerah, sabang sampai dengan merauke, baik kalangan pemuda-pemudi, kalangan terpelajar juga kalangan relegius seperti santri, ulama, pemuka agama, tokoh masyarakat, masyarakat adat dan lain sebagainya, sejarah ini mengajarakan kita bagaimana merebut kemerdekaan dengan persatuan dan kesatuan yang berhasil mengantarkan rakyat Indonesia sampai kepada cita-cita kemerdekaan, adapun perjuangan merebut kemerdekaan ini mencatat peristiwa penting yang mengharuskan kita kembali mengkaji makna dan peran dari persatuan dan kesatuan itu sendiri.
Adapun point penting diantaranya harus tercatat dengan jelas dan terang oleh generasi saat ini bahwa perjuangan parsial selama 3,5 disetiap daerah tidak membuat kolonialisme menyerah, perang konvensional terus melahirkan pertikaian disetiap daerah, sampai dengan sebuah gerakan Kebangkitan Nasional 20 mei 1908 menjadi embrio lahirnya gerakan-gerakan persatuan dari Aceh sampai Papua sehingga kemudian sampai dengan tercetusnya Sumpah Pemuda 20 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 28 oktober 1928.
Sumpah pemuda yang tercetus 88 tahun silam merupakan sebuah embrio stimulus bagi kaum pemuda dan generasi bangsa untuk terus mempertahankan tekad persatuan berbangsa dan bertanah air. Kesadaran persatuan yang harus terus kita rawat dan jaga ditengah kondisi perang pemikiran yang menjerat kita generasi muda yang lebih dikenal generasi Y sangat memberikan dampak buruk bagi pola pikir generasi muda di era globalisai yang serba ingin instant ini.
Pemuda di Era Globalisasi
Dewasa ini pemuda dihadapkan pada pilihan untuk ikut ambil bagian atau diam serta mengabaikan apapun kondisi yang berkaitan dengan sosial-politik,ekonomi-budaya, dan keberlangsungan masa depan bangsa, besarnya potensi konflik-konflik intra maupun antar bangsa harusnya dapat dikritisi dan dipelajari lebih dekat oleh kalangan pemuda, sebab pertumbuhan jumlah penduduk yang kian meningkat atau Bonus Demografi yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, ketersediaan pangan,air bersih dan energi merupakan gerbang besar lahirnya konflik baru.
Kita harus menyadari persaingan global saat ini tidak membutuhkan gerakan militansi untuk menghancurkan suatu bangsa, tidak lagi harus melalui perang konvensional yang menghabiskan anggaran biaya yang cukup besar, tetapi cukup dengan cara-cara perang baru yang lebih kasat mata, sehingga sering kali kondisi ini sukar sekali untuk kita pahami dan kenali secara jelas dan nyata, namun efek yang dihasilkan bisa melebihi dari metoda perang konvensional pada umumnya.
Perang Asimetris,perang hibrida dan perang proxy adalah trend perang yang terjadi saat ini, perang ini bisa saja masuk dari berbagai lini dan kondisi daerah maupun Negara, yang mungkin diantaranya melalui investasi besar-besasran agar dapat melakukan eksploitasi serta menguasasi sumber daya alamnya, membuat berbagai pakta perdangan guna menekan dan mengintervensi hasil pertanian, kemudian memberikan kondisi nyaman agar kita terus terlena menjadi bangsa yang konsumtif, menghancurkan generasi mudah dengan budaya konsumtif itu sendiri dan kemudahan untuk melakukan hal-hal negative menggunakan internet dan smartphone.
Kondisi ini dapat menjadikan mereka ingin mengambil bagian-bagian penting dari bangsa kita, membeli dan menguasi media massa untuk melakukan pembentukan opini, merekayasa kondisi sosial, serta memicu terjadinya konflik antar masyarakat juga merupakan tujuan nyata dari perang-perang yang saya sampaikan diatas.
Hal diatas dapat berubah menjadi kebangkitan dan kemajuan asalkan pemuda mau dan harus terus berada dibarisan terdepan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam segala kondisi sosial-politik,ekonomi dan budaya disetiap daerah dan bangsa secara keseluruhan, pemuda harus kembali bangkit menjadi pendorong terciptanya perubahan nyata dalam berbangsa dan bernegara seperti halnya dorongan pemuda untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa ini dengan berani mengambil keputusan mengasingkan bung karno dan bung hatta ke rengasdenklok, seperti ini juga halnya kita kedepan mendorong pemimpin disetiap lini untuk terus memberikan kontribusi nyata terhadap perbuhan-perubahan menuju kesejahteraan sipil socaity.
Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka” (Qs.13:11)
Dari ayat diatas Allah memberikan kekebasan kepada kita untuk memilih apakah mendiamkan kondisi pada diri kita atau berubah dengan mengambil bagian didalam sebuah perubahan. Semoga refleksi sumpah pemuda yang ke 88 tahun ini mampu memberikan kita semangat muda semangat untuk kembali bersatu, bersinergi menjaga dan mewujudkan persatuan dan kesatuan demi menjaga keselamatan bangsa dan Negara.
Penulis merupakan Demesioner Sekertaris Jenderal Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia yang juga aktivis di HMI cabang Banda Aceh.