
KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH- Islam adalah agama yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan agama merupakan sesuatu yang saling berkaitan dan melengkapi. Agama merupakan sumber ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan merupakan sarana mengaplikasikan segala sesuatu yang tertuang dalam ajaran agama.
Saat ini, yang menjadi salah satu penyebab kemunduran peradaban umat, khususnya umat Islam adalah adanya pemisahan (dikotomi) antara ilmu agama dengan ilmu umum, padahal jika dikaji secara historis dari sejarah peradaban Islam, ilmuwan-ilmuwan muslim zaman dulu seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusd di samping ahli pada bidang ilmu pengetahuan umum, juga ahli ilmu agama.
Demikian antara lain disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) dengan tema “Integrasi Ilmu dalam Islam” di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu malam 26 Oktober 2016.
“Ajaran Islam tidak pernah melakukan dikotomi antar ilmu satu dengan yang lain. Karena dalam pandangan Islam, ilmu agama dan umum sama saja berasal dari Allah. Islam juga menganjurkan umatnya bersungguh-sungguh mempelajari setiap ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan Alquran merupakan sumber dan rujukan utama, ajaran-Nya memuat semua inti ilmu pengetahuan, baik yang menyangkut ilmu umum maupun ilmu agama,” ujar Prof Farid Wajdi.
Menurutnya, pemisah kedua ilmu tersebut awalnya hanya sekedar spesifikasi, agar terjadi penggalian ilmu secara mendalam yang profesional dan mampu mengaktualisasikan untuk kemajuan peradaban, hanya saja belakangan telah terjadi stigma (anggapan) yang sangat jauh, sehingga timbul kesan ilmu agama hanya mengarah pada pembentukan spiritual saja dan tidak menganggap menyentuh pergaulan sosial sehingga menjadi pemicu kemunduran peradaban Islam.
Sebaliknya dengan pemahaman yang berbeda di tengah masyarakat kita yang sudah terlena dan terlarut pada pandangan skeptis dimana ilmu dunia banyak mengiring kepada sikap liberalisasi umat, mendekati umat pada kesesatan bahkan dipandangnya ilmu itu hanya sebatas di dunia yang dapat menyesatkan dan menjauhkan diri dari hukum-hukum Islam.
“Karenanya agar tidak terlena dengan berlarutnya kedua pandangan tersebut maka perlu menjadi perhatian serius supaya tidak menimbulkan stigma negatif bagi kelangsungan hidup dan kemajuan peradaban umat. Sehingga hubungan antara sains dengan agama perlu, karena ilmu pengetahuan tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu pengetahuan pincang,” jelasnya.
Pada pengajian KWPSI tersebut, Farid Wajdi yang juga Ketua PW Al-Washliyah Aceh menyebutkan, saat ini Aceh sangat membutuhkan seorang figur pemimpin yang bisa membawa Aceh meraih kejayaan. Sebab, persyaratan lain telah dipenuhi, tinggal lagi figur pemimpin yang belum dimiliki.
“Struktur kemajuan Aceh saat ini sebenarnya sudah terpenuhi. Hanya figur yang belum ada. Kebutuhan terhadap struktur sudah ada yang jika dikalkulasikan mencapai 80 persen, sementara kebutuhan kita terhadap figur sekitar 20 persen. Nah, yang 20 persen ini belum ada. Meski sudah memiliki perangkat dan struktur menuju kejayaan, tapi kita tidak bisa menuju ke arah itu, “ jelasnya.
Farid lalu memberi contoh Afrika Selatan. Menurutnya, negara tersebut memiliki sosok fenomenal pada diri Nelson Mandela. Mandela berhasil mengantarkan Afrika Selatan setelah tadinya negara tersebut hancur lebur.
Ia lalu membandingkan dengan Aceh dimana menurutnya belum ada pemimpin yang betul-betul memahami pentingnya kemajuan ilmu pengetahuan di Aceh.
KlikKabar.com Jujur Mengabarkan