Ahok dan Sophia Latjuba Juru Bicara Tim Sukses Ahok-Djarot yang juga kader Partai Nasdem | Foto: Instagram Sophia Latjuba
KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Harta kekayaan yang dimiliki Calon Gubernur Jakarta Ir Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, kalah jauh dibandingkan dengan harta kekayaan yang dimiliki Calon Gubernur Aceh, Abdullah Puteh.
Seperti data yang dikeluarkan oleh KPK, kekayaan Abdullah Puteh dua kali lebih banyak dibandingkan dengan harta kekayaan yang dimiliki Ahok.
Abdullah Puteh memiliki harta kekayaan sebesar Rp. 55.823.477.147 ditambah dengan $38.462. Sedangkan Ahok memiliki kekayaan senilai Rp.25.655.887.496 ditambah dengan $.7.229.
Sebagaimana diketahui Ahok yang masih menjabat sebagai Gubernur Jakarta saat ini, kembali maju mencalonkan diri bersama Djarot.
Pasangan ini diusung oleh Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP), Partai Hanura, Partai NasDem, Partai Golkar dan PPP kubu Djan Faridz.
Baru-baru ini Ahok dianggap telah mengeluarkan pernyataan yang sangat kontroversi tentang Surat Al Maidah ayat 51, gara-gara pernyataannya Ahok pun dilaporkan ke Kepolisian, bahkan demo menolak Ahok digerakkan hampir di seluruh kota di Indonesia.
Seperti dilansir dari situs Ahok, Basuki T Purnama yang akrab dipanggil Ahok lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, Belitung Timur. Ia melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMU) dan perguruan tinggi di Jakarta dengan memilih Fakultas Teknologi Mineral jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti.
Setelah menamatkan pendidikannya dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi (Insiyur geologi) pada tahun 1989, Basuki pulang kampung–menetap di Belitung dan mendirikan perusahaan CV Panda yang bergerak dibidang kontraktor pertambangan PT Timah.
Menggeluti dunia kontraktor selama dua tahun, Basuki menyadari betul hal ini tidak akan mampu mewujudkan visi pembangunan yang ia miliki, karena untuk menjadi pengelolah mineral selain diperlukan modal (investor) juga dibutuhkan manajemen yang profesional.
Untuk itu Ahok memutuskan kuliah S-2 dan mengambil bidang manajemen keuangan di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya Jakarta. Mendapat gelar Master in Bussiness Administrasi (MBA) atau Magister Manajemen (MM) membawa Basuki diterima kerja di PT Simaxindo Primadaya di Jakarta, yaitu perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor pembangunan pembangkit listrik sebagai staf direksi bidang analisa biaya dan keuangan proyek. Karena ingin konsentrasi pekerjaan di Belitung, pada tahun 1995 Basuki memutuskan untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamannya.
Kiprah politiknya dimulai saat bergabung dibawah bendera Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB) yang saat itu dipimpin oleh Dr Sjahrir. Pada pemilu 2004 ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009.
Setelah 7 bulan menjadi DPRD, Ahok pun maju sebagai calon Bupati Belitung Timur di tahun 2005, Ahok mempertahankan cara kampanyenya, yaitu dengan mengajar dan melayani langsung rakyat dengan memberikan nomor telfon genggamnya yang juga adalah nomor yang dipakai untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Dengan cara ini ia mampu mengerti dan merasakan langsung situasi dan kebutuhan rakyat. Dengan cara kampanye yang tidak “tradisional” ini, yaitu tanpa politik uang, ia secara mengejutkan berhasil mengantongi suara 37,13 persen dan menjadi Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Padahal Belitung Timur dikenal sebagai daerah basis Masyumi, yang juga adalah kampung dari Yusril Ihza Mahendra.
Di tahun 2007 Ahok pun mencoba untuk maju sebagai calon gubernur Bangka Belitung, Namun sayang, ia gagal menjadi Gubernur Babel.
Dalam pemilu legislative 2009 ia maju sebagai caleg dari Partai Golkar dan berhasil mendapatkan suara terbanyak dan memperoleh kursi DPR berkat perubahan sistem pembagian kursi dari nomor urut menjadi suara terbanyak.
Klikkabar.com Jujur Mengabarkan
