Home / ACEH / Media Asing Kembali Sorot Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh

Media Asing Kembali Sorot Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh

Salah satu gaya hidup di barat adalah pesta malam antara lelaki dan wanita berkumpul, berjoget-joget sembari minum bir, sebuah gaya hidup yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sangat menjaga harga diri wanita

Salah satu gaya hidup di barat adalah pesta malam (night party) antara lelaki dan wanita berkumpul, berjoget-joget sembari minum bir, sebuah gaya hidup yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sangat menjaga harga diri wanita

KLIKKABAR.COM – Media asing Dailymail menyoroti hukum cambuk di Aceh dengan artikel berjudul “Muslim woman screams out in pain as she is caned 23 times in Indonesia for ‘standing too close to her boyfriend’”.

Mereka bahkan memperlihatkan foto para pelaku rata-rata wanita berjilbab yang tampak kesakitan saat dicambuk.

Dailymail menjelaskan kalau Aceh menjadi salah satu Provinsi di Indonesia yang menggalakkan Syariat Islam. Mereka yang melanggar akan dihukum cambuk di depan publik. Seorang wanita bahkan harus dicambuk 23 kali, karena berdiri terlalu dekat dengan kekasihnya. Wanita tersebut menjadi satu dari 13 orang yang harus dihukum cambuk pada hari itu.

Hukum cambuk berlaku bagi pelanggar norma Islam diantaranya berjudi, minum alkohol, dan hubungan seks sesama jenis. Dailymail menegaskan kalau pelaku dianggap melanggar karena bersentuhan, berpelukan atau berciuman dengan pasangan yang bukan muhrim.

“The six couples were found guilty of breaking Islamic law that bans intimacy – no touching, hugging and kissing – between unmarried people,” tulis mereka pada Senin (17/10).

Sementara seorang pelaku berusia 22 tahun yang sedang hamil, baru akan menjalani hukum cambuknya begitu anaknya lahir ke dunia.

Dailymail bahkan sempat mewawancarai Nur Elita, yang juga pernah dihukum cambuk di pekarangan masjid Baiturrahumim, Banda Aceh tahun lalu akibat terlalu dekat dengan pria teman kuliahnya.

Nur dan temannya tersebut harus menerima lima cambukan yang mennyakitkan. Setelah dicambuk, Nur bahkan harus dibopong dan dilarikan ke rumah sakit.

Pemberitaan media asing yang menyorot pelaksanaan Syariat Islam di Aceh sepertinya tidaklah seperti fakta yang terjadi di lapangan. Seperti pemberitaan seorang wanita bahkan harus dicambuk 23 kali, karena berdiri terlalu dekat dengan kekasihnya. Padahal fakta yang sebenarnya si wanita bukanlah kekasih yang resmi sesuai dengan hukum negara dan agama yang berlaku di Indonesia.

Selanjutnya yang harus diketahui oleh dunia, bahwa pelaksanaan hukuman cambuk di Aceh sudah dikonsepkan secara matang, hanya berlaku untuk ummat Islam dan membuat malu atau jera pelaku agar tidak mengulanginya.

Oleh karenanya dibutuhkan peran pemerintah, ulama dan cendikiawan untuk mensosialisasikan pelaksanaan syariat Islam kepada masyarakat nasional dan dunia, agar syariat Islam yang diterapkan di Aceh dapat dipahami secara baik oleh mereka, bukan dengan informasi yang sepotong-potong. (Redaksi/Rima)