Home / BERITA TERBARU / Surat Terbuka untuk Yusny Saby: Prof, Kami di Desa Merindukan Anda

Surat Terbuka untuk Yusny Saby: Prof, Kami di Desa Merindukan Anda

yusnya-saby_20160204_175027

Yusny Saby (fot via aceh.tribunnews.com)

Prof Yusny, Kami di Desa Merindukan Pemikiran Anda

Bugak, 1 September 2016.

Fajrizal, biasa dikenal dengan panggilan Fajri Bugak.

Assamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Pak Prof Yusny Saby, saleum meusyen dari kami di Bugak untuk Prof di Banda Aceh. Sebelum saya mengawali surat saya untuk Prof, izinkan saya menceritakan sedikit tentang kondisi Desa Bugak yang sekarang. Desa tempat Prof dilahirkan dan melalui masa muda.

Prof Yusny Saby, saat ini kondisi Desa Bugak amat memprihatikan. Kami di desa saat ini sedang dilanda krisis yang sangat berat. Para pemuda desa sedang dilanda kegelisahan karena susahnya mencari kerja. Kehadiran kampus di Bireuen tidak mampu memberikan ide serta terobosan untuk kemaslahatan kami masyarakat desa.

Beberapa lembaga pendidikan yang ada di Mukim Bugak minim mendapatkan bantuan pemerintah. Sarana publik seperti jalan akses di beberapa desa dalam Kemukiman Bugak sulit untuk dilalui, seperti jalan Desa Bugak Krueng, Bugak Blang, Bugak Mesjid, Bugak Punjot, Pante Paku, Pante Sukon, Pante Ranub, Pante Peusangan. Kami butuh lobi dan desakan Prof Yusny Saby di tingkat provinsi dan nasional.

Prof, kami di desa, hari Selasa, 31 Agustus 2016 kemarin, bangga ketika membaca surat kabar harian terbitan Aceh, ternyata lelaki asal Desa Bugak mampu memberikan sumbangsih pemikiran untuk Aceh. Hijrah Prof Yusny Saby dari Bugak hingga ke Philadelphia, Amerika Serikat, seperti yang ada dalam buku “Sang Motivator”, sebuah buku tentang Prof, saya rasa tak perlu diceritakan dalam surat terbuka ini. Biarlah masyarakat membaca langsung di buku itu.

Tetapi Prof… pemikiran dan jaringan yang Prof punya saat ini tak salahnya sedikit Prof fungsikan untuk menyahuti permitaan kami di desa. Prof Yusny bisa menyampaikan keluh kesah kami kepada pemangku kepentingan di Aceh dan Jakarta. Sehingga kami di desa merasakan ketokohan dan kejeniusan Prof.

Prof, kami di desa membicarakan tentang kesuksesan Prof untuk Aceh. Prof Yusny Saby, Anda saat ini menjadi tokoh untuk Aceh. Sayang Prof, ide dan pemikiran Prof tidak pernah Prof bagikan untuk kami yang ada di desa-desa. Prof tidak melakukan sesuatu untuk kemaslahatan masyarakat Bugak yang notabenenya tempat kedua orang tua Prof Yusny Saby membersarkan Prof.

Prof Yusny, kenapa Prof begitu pelit berbagi ilmu untuk kami yang di desa? Bukankah membangun desa asal tempat kita dilahirkan dan dibesarkan merupakan sebuah pengabdian untuk negeri?

Prof Yusny Saby, walaupun Pak Prof tidak mau mengfungsikan jaringan untuk kemaslatan kami di desa, sesekali pada saat Prof pulang ke desa Bugak tegur dan sapa tokoh-tokoh masyarakat dan pemuda-pemuda desa, berbaurlah dengan masyarakat, berdiskusilah.

Prof Yusny Saby, kami di desa merindukan pemikiran Anda. []

Penulis bertempat tinggal satu desa dengan Yusny Saby. Jarak rumah
dengan Prof Yusny Saby hanya 30 Meter. Anak penjual pisang goreng di depan
sekolah MIN Bugak.