Home / BERITA TERBARU / Kisah Manusia yang Hidup 10 Tahun di Gorong-gorong Jakarta

Kisah Manusia yang Hidup 10 Tahun di Gorong-gorong Jakarta

gorong-gorong (liputan6.com)

gorong-gorong (liputan6.com)

KLIKKABAR.COM – Memiliki tempat tinggal yang layak pasti menjadi impian semua orang, baik yang belum maupun yang sudah berkeluarga. Apalagi bisa memiliki rumah di Ibu Kota Jakarta. Namun, ada sebagian orang yang memaksakan tinggal di Jakarta, tetapi tidak bisa menikmati kenyamanan hidup sebagai manusia biasanya. Mereka rela tinggal di gorong-gorong.

Ruang sempit yang bau pun mereka nikmati setiap hari. Itu mereka lakukan karena tidak memiliki tempat tinggal. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai pemulung barang-barang bekas. Gorong-gorong yang paling diincar pemulung untuk menjadikan tempat tinggal biasanya di Kali Cideng, Gambir, Jakarta Pusat.

Seorang penjual minuman di kawasan tersebut, Sutar (52), menceritakan jika gorong-gorong itu sudah dijadikan tempat tinggal para pemulung sejak 10 tahun lalu atau sekitar tahun 2006.

“Memang ada yang tinggal sejak 10 tahun lalu di situ,” kata Sutar pada VIVA.co.id.

Sutar menjelaskan, orang yang tinggal di gorong-gorong itu selalu bergantian. Dia mengaku pernah berjumpa dengan salah satu pemulung yang pernah tinggal di situ. Mereka berkata jika dalam gorong-gorong terdapat banyak sekat-sekat.

“Yang tinggal ganti-gantian, enggak selalu pemulung yang sama. Pernah ada juga yang sekeluarga tinggal di situ,” kata dia.

Tapi, karena sudah tercium oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI, mereka dilarang untuk tinggal di gorong-gorong itu lagi sekarang ini.

Jika dilihat dari luar, gorong-gorong berbentuk kotak dan gelap. Banyak sampah seperti bungkus makanan ringan, bahkan sampah benda pribadi seseorang. Meski kini gorong-gorong itu sudah tak digunakan sejumlah pemulung untuk tinggal, tapi, ternyata tempat itu difungsikan sejumlah pemulung yang bingung untuk buang air.

“Sekarang masih ada yang sering ke situ (pemulung). Mereka pakai untuk buang air kecil bahkan buang air besar,” kata dia.** (Viva)