Home / ACEH / Klaim Sawit Tak Rusak Hutan, Plt Gubernur Aceh Asbun?

Klaim Sawit Tak Rusak Hutan, Plt Gubernur Aceh Asbun?

Pohon kelapa sawit yang ditebang di kawasan hutan lindung di pinggiran DAS Sungai Alas-Singkil (Lae Soraya) di Subulussalam, Provinsi Aceh, Kamis (10/1/2019). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, MT membuat kegaduhan pasca pernyataan kontroversialnya tentang kelapa sawit dan keterkaitannya dengan kerusakan lingkungan di Aceh.

Politisi Partai Demokrat yang juga mantan anggota DPR RI Periode 2009-2014 ini menyebut bahwa sama sekali tidak ada perkebunan kelapa sawit di Aceh yang merusak lingkungan seperti informasi negatif yang selama ini beredar di negara luar.

Nova juga dengan tegas menyebut bahwa menurunnya harga jual minyak kelapa sawit (CPO) milik petani akibat ditolak oleh negara luar termasuk negara-negara Uni Eropa, karena fitnah soal lingkungan.

“Luas lahan kebun kelapa sawit di Aceh mencapai lebih dari 140 ribu hektare lebih, sebanyak 51 persen kebun kelapa sawit adalah milik rakyat dan sisanya sebanyak 49 persen milik perusahaan perkebunan atau pengusaha,” kata Nova dilansir dari laman Antara saat melakukan kunjungan ke Aceh Barat, Senin (15/7).

Baca Juga: Asai Nanggroe Bak Rimba Tuhan, Refleksi Earth Day 2018

Tuai Kecaman

Tak ayal, komentar Nova lantas menjadi bahan perbincangan terutama di laman media sosial Facebook dan sejumlah WAG. Akun Junaidi Hanafiah bahkan dengan lantang menantang Nova untuk ikut bersamanya turun ke lapangan, melihat lokasi kelapa sawit yang jelas-jelas telah merusak lingkungan atau hutan Aceh.

Postingan Junaidi yang juga wartawan senior itu hingga saat ini telah dikomentari sebanyak 85 kali dan dibagikan ulang sebanyak 20 kali.

Warganet pun terlihat kompak memberikan komentar bernada kritis dan tak jarang ada yang meluapkan kekesalannya terhadap Nova yang juga alumni Magister Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung itu.

Tidak berhenti sampai disana, Junaidi juga ikut membagikan beberapa foto yang diambil dari ketinggian yang memperlihatkan dengan jelas gambaran deforestasi (perubahan fungsi hutan menjadi non hutan) yang diakibatkan oleh kelapa sawit.

“Semua foto kelapa sawit ini ditanam secara ilegal di dalam hutan di Aceh. Kata Plt, sawit tidak merusak lingkungan dan banyak yang fitnah tentang sawit. Aceh Memang Hebat,” tulis Junaidi.

Pohon kelapa sawit yang ditanam di kawasan hutan lindung di pinggiran DAS Sungai Alas-Singkil (Lae Soraya) di Subulussalam, Provinsi Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Fakta Lapangan

Pernyataan Nova juga bertolak belakang dengan data yang dimiliki oleh Forum Konservasi Leuser (FKL), dimana hutan Aceh yang telah rusak atau mengalami deforestasi seluas 2.778 ha telah berhasil mengalami pemulihan atau restorasi yang tersebar di beberapa daerah diantaranya Aceh Tamiang, Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Subulussalam.

Hingga awal 2019 FKL telah merestorasi seluas 1.200 Ha kebun sawit di Aceh Tamiang yang masuk hutan lindung di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Baca Juga: 265.320 Pohon Sawit Ditebang di Aceh

“Jika ditotal secara keseluruhan, jumlah sawit yang telah ditebang mencapai 265.320 batang di seluruh Aceh dengan asumsi 1 ha ditanami 120 sawit,” kata Rudi kepada Klikkabar.com usai memantau proses restorasi 21 Ha sawit di Lae Soraya, Subulussalam, awal tahun kemarin.

Rudi menjelaskan, restorasi yang sering dilakukan FKL dengan cara menebang sawit bukan berarti pihaknya menentang atau anti terhadap tumbuhan kelapa sawit.

KEL sejatinya adalah harta dunia dan menjadi salah satu hutan hujan utuh paling penting yang tersisa di dunia. Terbukti, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada di inti KEL telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

“Kami hanya berusaha untuk melindungi dan menyembuhkan hutan dan memang hutan yang paling banyak rusak karena berubah jadi kebun sawit,” jelasnya.

Selain dijuluki sebagai ibukota Orangutan dunia karena kepadatan populasinya, KEL juga menjadi rumah bagi tiga rawa gambut raksasa yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan karbon paling kaya di dunia yakni Rawa Tripa, Rawa Kluet dan Rawa Singkil.

Hutan-hutan rawa gambut yang basah ini selain menyerap air saat banjir karena lahan gambut bersifat layaknya spon, juga berfungsi menangkap sebagian besar karbon dari atmosfer dan menyimpannya dengan aman di bawah tanah.

Sementara itu, Aceh dengan luas wilayah 5.677.081 hektar mengalami kehilangan tutupan hutan seluas 15.071 Ha. Angka ini menurun dibanding deforestasi pada tahun 2017, yaitu sebesar 17.820 Ha.

Kabupaten tertinggi yang mengalami deforestasi adalah Aceh Tengah (1.924 Ha) disusul Aceh Utara (1.851 Ha), Gayo Lues (1.494 Ha) dan Nagan Raya (1.261 Ha). Saat ini tutupan hutan di Aceh tersisa 3.004.352 Ha dan terus berkurang setiap saat.

Lihat Juga: Kawasan Ekosistem Leuser Terus Dibakar

Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Kian Kritis

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil