Home / ACEH / Kasus Penggelapan Sabu Oknum Polisi Dinilai Cacat Hukum

Kasus Penggelapan Sabu Oknum Polisi Dinilai Cacat Hukum

Sidang pembacaan pledoi oleh para terdakwa kasus penggelapan barang bukti narkotika jenis sabu di Pengadilan Negeri Idi, Senin (15/7). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Sidang pembacaan nota pembelaan atau pledoi kasus penggelapan barang bukti narkotika jenis sabu oleh sejumlah oknum Kepolisian Resort Aceh Timur digelar di Pengadilan Negeri Idi, Senin (15/7).

Penasehat hukum enam oknum polisi (5 oknum Satuan Reserse Narkoba dan 1 anggota Polsek) serta dua terdakwa warga sipil, Teuku Reza Harmiyansyah, SH dan Zulfikar, SH, mempertanyakan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dinilai sama sekali tidak mendasar.

“Sangat disayangkan, tuduhan JPU terhadap klien kami sama sekali tidak bisa dibuktikan di persidangan. Kalau hanya berdasarkan BAP, buat apa ada persidangan ini,” kata Teuku Reza kepada Klikkabar.com di PN Idi, Senin (15/7).

Teuku Reza menyebutkan, dalam sidang pembuktian, tidak ada satu pun fakta yang bisa dibuktikan oleh JPU baik itu keterkaitan maupun keterlibatan klien mereka di dalam kasus ini terutama terkait barang bukti narkotika jenis sabu yang dituduh telah digelapkan oleh para terdakwa.

“Saksi-saksi yang dihadirkan tidak ada yang mengarah kesana, begitu juga dengan barang bukti hasil penggelapan (sabu). Kita juga meragukan keaslian barang bukti sabu seberat 77 gram yang dihadirkan oleh JPU,” imbuhnya.

Saat pembacaan pledoi, para terdakwa juga menyebut sejumlah nama petinggi atau atasan di institusi tempat mereka berdinas selama ini, yakni Polres Aceh Timur. Mereka diduga sebagai sosok kunci yang paling bertanggungjawab dalam kasus ini.

“Kita dengar dari pembacaan pledoi oleh para terdakwa, semuanya menyebut nama-nama pimpinan mereka yang kita duga erat kaitannya tentang kasus ini karena mereka juga ikut (memeriksa terdakwa) dari awal. Tapi dua kali kesempatan yang diberikan untuk hadir di persidangan, mereka tidak datang,” imbuhnya.

Dari awal pemeriksaan hingga penahanan, Teuku Reza juga menyebut bahwa para terdakwa dikurung, diintimidasi dan disiksa agar mengakui perbuatan yang dituduhkan kepada mereka serta tak jarang mereka juga dipukuli serta tidak dibolehkan untuk dijenguk bahkan oleh keluarga mereka sendiri.

Sementara itu, penasehat hukum dua oknum Satuan Polisi Air (Polair) yang juga ikut terseret dalam kasus ini, Arif Fadillah, SH, juga mengutarakan hal yang sama dan menyebut bahwa klien nya sama sekali tidak bersalah.

“Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) para terdakwa kan sudah dicabut di persidangan dan mereka juga membantah pernah melakukan perbuatan (penggelapan sabu) seperti yang dituduhkan,” timpalnya.

Sebelumnya di sidang tuntutan, Kamis (11/7), tim JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur menuntut 3 oknum Sat Polair dengan hukuman pidana 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan penjara.

Dan untuk 5 oknum Satuan Reserse Narkoba, 1 anggota polsek dan 3 warga sipil, dituntut hukuman pidana 17 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan penjara.

“Seluruh terdakwa didakwa melanggar Pasal 114 ayat (2) Jo. Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” kata Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejari Aceh Timur, Muliana, SH, kepada Klikkabar.com, Kamis (11/5).

Lihat Juga: 9 Polisi Aceh Timur Dituntut 10 hingga 17 Tahun Penjara

Para Terdakwa Kasus Penggelapan Sabu Baca Pledoi Sambil Menangis

Kasus Penggelapan Sabu, 8 Polisi di Aceh Timur Sidang Perdana