Home / BERITA TERBARU / 7 Penyebab Konflik di Kantor

7 Penyebab Konflik di Kantor

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Konflik antar pegawai di kantor tidak mungkin terelakkan. Paling tidak, ada 7 penyebab Konflik di kantor seperti dikutip dari Popular, Sabtu (6/7/2019).

  1. Komunikasi yang Buruk

Hubungan antara diri sendiri dan orang lain tidak bisa dipisahkan dengan komunikasi. Komunikasi yang buruk masih menjadi penyebab utama terjadinya kesalahpahaman yang berujung pada konflik di tempat kerja.

  1. Perbedaan Kepribadian

Perbedaan kepribadian dan karakter tiap-tiap karyawan. Gaya bicara seseorang yang berbeda dengan lingkungan tempat Anda dibesarkan dapat menyinggung Anda.

  1. Kompetisi

Kompetisi dalam bekerja sebetulnya diperlukan untuk menciptakan tempat kerja yang memiliki semangat tinggi dan tingkat produktivitas baik. Jika dilakukan tidak sehat, kompetisi membuat konflik antar karyawan.

  1. Sistem Organisasi yang Tidak Efektif

Setiap perusahaan memiliki sistem organisasi yang mengatur alur instruksi pekerjaan. Jika sistem organisasi tersebut tidak efektif, dapat dipastikan hal tersebut menjadi pemicu konflik.

  1. Kurangnya Rasa Persaudaraan

Walaupun bekerja di bawah satu atap yang sama, seseorang bisa saja tidak benar-benar mempunyai teman yang benar-benar tulus. Kurangnya rasa persaudaraan dapat memicu konflik seperti permusuhan antar karyawan.

  1. Titik Tekanan

Seringkali karyawan mendapatkan kritik yang dapat memicu terjadinya konflik. Mengapa kritik dapat menjadi penyebab konflik di tempat kerja? Karena setiap orang memiliki titik tekanan atau suatu hal yang dapat menjadi trigger dirinya bereaksi terhadap situasi tertentu. Terutama jika disulut dengan kata-kata yang membangkitkan emosi, misalnya saja dikritik dengan sebutan ‘malas’.

  1. Masalah Pribadi

Setiap karyawan memiliki masalah pribadi yang berbeda-beda. Tanpa masalah, seseorang tidak akan benar-benar hidup. Beberapa tanda-tanda seseorang memiliki masalah pribadi adalah sering terlambat ke kantor, kurang produktif, mengambil waktu istirahat terlalu lama, sering izin karena sakit, atau sering gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu.