Home / BERITA TERBARU / Berbuka di Serambi Mekkah, Bertakbir di Madinah

Berbuka di Serambi Mekkah, Bertakbir di Madinah

Oleh: Murizal Hamzah [Wartawan dan Penulis Buku]

KLIKKAKBAR.COM, JAKARTA – Saya hampir tidak percaya, hingga pukul 15.00 WIB hanya sekitar 30 jamaah umrah di ruang tunggu keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Senin (3/6/2019).

Menurut tiket, pesawat take off pukul 16.30 Wib. Dream Tour – travel yang melayani kami – meminta 3 jam sebelum Saudi Arabia lepas landas, penumpang sudah di bandara. Ya begitulah, hingga memasuki perut pesawat berbadan besar itu, hanya ada 27 penumpang plus beberapa pramugari.

“Bapak, penumpangnya di bawah 50 orang, Bapak bebas duduk nanti!” bisik petugas Dream Tour yang mengantar jamaah umrah dari pintu kedatangan hingga menuju belalai lorong ke pintu pesawat.

Begitu memasuki perut pesawat, pramugari warga Indonesia memberi kebebasan penumpang duduk bebas. Saya memilih di sayap kiri yang sebelahnya 2 kursi kosong. Sedangkan istri Ezki Tri Rezeki Widianti duduk di depan dekat exit door yang lebih lapang. Hanya ada 7 penumpang di kelas bisnis.

Pesawat delay 30 menit dari jadwal keberangkatan pukul 16.30 Wib. Begitu jarum panjang jam menunjuk pukul 17.47 Wib, saya bersiap berbuka seperti jam berbuka puasa di Jakarta.Beberapa kurma dan air minum mineral sudah di tangan.

Sebelum tumpahan air membasahi bibir, saya mengintip ke jendela. Ternyata jingga matahari masih berkuasa unjuk warnanya. Saya terkesima, karena pesawat melawat ke Sumatera alias barat, waktu berbuka bertambah sekitar 1 jam lagi.

Setelah hampir 1 jam pesawat melayang santai di angkasa Indonesia, saya perkirakan ini sudah waktunya berbuka puasa. Di luar, sinar matahaari sudah meredup. Artinya ini sudah waktunya berbuka. Saya berbuka dengan beberapa butir kurma dan meneguk air putih.

Setelah berbuka, pramugari – tidak ada pramugara – mengumumkan waktu berbuka puasa yang saya perkirakan di atas langit Serambi Mekkah alias Aceh. Setelah mengumumkan berbuka berpuasa, mereka mendorong kereta membagikan kurma, teh, kopi dan air putih untuk membatalkan puasa. Sejam kemudian dilanjutkan membagi makanan berat. Karena penumpang kurang, pramugari menawarkan berulang kali apakah mau makan lagi?

Sebelumya, seorang pramugari menyatakan bisa jadi ketika pesawat mendarat setelah mengudara selama 9 jam, jamaah umrah disambut malam Idul Fitri. Sebelum terbang, tiga hari sebelumnya saya sudah berzakat fitrah di masjid dekat rumah. Artinya, sudah lengkap puasa dan zakat sebelum berhari raya di Madinah.

Menjelang mendarat di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah, pramugari mendeklarasikan malam ini adalah malam takbiran. Besok sudah Hari Raya Idul Fitri 1440 H. ucapan takbir bergema di perut pesawat dengan komposisi kursi 3-4-3.

Pesawat mendarat sekitar pukul 10 malam waktu Madinah. Suasana menuju imigrasi sepi. Setelah menempel sidik jari di mesin imigrasi, karyawan Dream Travel mengurus kopor dan mengantar ke bus berbadan besar. Alhamdulillah semua dilalui dengan lancar.

“Di sini malam takbiran tidak ada yang keliling kota seperti di Indonesia. Warga keluar rumah duduk-duduk di kafe atau trotoar,” ungkap pemandu umrah Ustad Safril yang disapa Bang Ucok karena dari Medan, Sumatera Utara.
Sekitar pukul 1 dini hari, rombongan sebanyak 6 orang memasuki Hotel Shaza yang berada sekitar 30 langkah ke Masjid Nabawi.

“Besok paling telat jam 3.30 dini hari udah ada di masjid untuk Subuh dan menunggu Shalat Idul Fitri. Jangan pulang ke hotel. Tempatnya cepat penuh. Ini ada waktu sekitar 2 jam untuk istrirahat,” jelas Bang Ucok.

Benar, pukul 03.30 subuh, halaman Masjid Madinah sudah penuh. Saya mendapat posisi dekat pintu masuk serambi Masjid Madinah yang berderet payung elektrik. Sementara di Indonesia dengan selisih 4 jam, umat di Tanah Air masih berpuasa dan saya sudah ber-Idul fitri. Ya jadilah kami berpuasa selama 29 hari.

Mengapa pesawat kosong jelang Idul Fitri? Kami menduga karena orang Indonesia cenderung ber-Hari Raya di Tanah Air. Namun hal ini terbantah. Usai sembahyang Idul Fitri, di sebelah kiri saya dari Banten menyatakan pesawatnya penuh terbang sehari sebelummya. Mereka mau ber-Hari Raya di Madinah atau Mekkah. Justru permintaan meningkat dengan pesawat Emirat Arab.

“Penumpang pesawat kami full,” jelas Teguh pegawai negeri ini. []