Home / BERITA TERBARU / Myanmar Kembali Lakukan Kejahatan Perang di Rakhine

Myanmar Kembali Lakukan Kejahatan Perang di Rakhine

Kaum ibu-ibu saat ikut sebagai peserta Aksi Peduli Muslim Rohingya di Masjid Agung Darusshalihin di Idi, Aceh Timur, Rabu, 13 September 2017. (Zamzami Ali/Klikkabar.com).rohingya

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Amnesty International menuding pihak militer Myanmar terbukti melakukan kejahatan perang seperti pembunuhan dan penyiksaan terhadap etnis minoritas di negara bagian Rakhine, termasuk muslim Rohingya.

Amnesty Internatonal seperti dilansir dari laman CNN Indonesia mengklaim memiliki bukti baru bahwa militer Myanmar masih melakukan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya di Rakhine.

Dalam laporan terbaru berjudul “No One Can Protect Us: War Crimes and Abuses in Myanmar’s Rakhine State”, Amnesty International menyebut militer Myanmar mengerahkan ribuan pasukan dengan artileri berat ke Rakhine dalam beberapa bulan terakhir.

Pasukan itu dikerahkan menyusul penyerangan pemberontak Arakan Army (AA) terhadap pos-pos keamanan di wilayah itu pada 4 Januari lalu.

Sejak saat itu, Amnesty International mendokumentasikan setidaknya tujuh operasi militer di luar hukum yang menewaskan 14 warga sipil di Rakhine dan melukai puluhan lainnya.

Baca Juga: Satu Nelayan Aceh Timur Meninggal dan Dikebumikan di Myanmar

“Dalam satu insiden pada akhir Januari, seorang anak laki-laki etnis Rakhine berusia tujuh tahun meninggal setelah mortir yang terindikasi kuat ditembakkan oleh militer Myanmar meledak di desa Tha Mee Hla, Kotapraja Rathedaung, selama pertempuran antara militer dan AA,” bunyi laporan Amnesty International.

Organisasi pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM) itu juga mengungkapkan bahwa pada pertengahan bulan Maret, sebuah mortir militer Myanmar meledak di desa Ywar Haung Taw, Kotapraja, Mrauk-U.

Insiden itu melukai setidaknya empat orang dan menghancurkan sebuah rumah milik Hla Shwe Maung, seorang pria etnis Rakhine berusia 37 tahun.

Amnesty Internasional mendasari temuan itu dari 81 wawancara, termasuk 54 wawancara langsung warga di Rakhine sekitar akhir Maret lalu. Selain itu, organisasi itu juga melakukan 27 wawancara jarak jauh dengan sejumlah warga yang tinggal di daerah terkena dampak konflik.

“Mereka berasal dari kelompok etnis Rakhine, Mro, Rohingya dan Khami, yang beragama Buddha, Kristen, dan Islam. Amnesty International juga menganalisis foto, video, dan citra satelit, serta mewawancarai pekerja kemanusiaan, aktivis hak asasi manusia, dan pakar lainnya,” bunyi laporan itu.

Lihat Juga: Laporan Genosida PBB Soal Rohingya Ditolak Myanmar

Kapal Myanmar Karam, 12 Nelayan Dievakuasi ke Aceh Timur

Pengakuan Mengejutkan Muslim Rohingya yang Diselamatkan di Aceh Timur