Home / BERITA TERBARU / Kisah Orang Yahudi yang Ditusuk di Pidie

Kisah Orang Yahudi yang Ditusuk di Pidie

Kuburan Yahudi di Kerkoff di Banda Aceh. [Foto: Ratna]

Oleh: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., MA

Saya ingin menceritakan kisah orang Yahudi yang menjadi korban penusukan di Stasiun Sigli tahun 1935. Cerita ini pernah saya tulis di buku “Pluralisme, Dialog & Keadilan,” terbitan Interfidei (2011). Tidak salah sekadar mengisahkan kejadian sejarah tersebut dengan menghindari, melakukan plagiat atas karya sendiri.

Ada satu tempat sejarah terkenal di Banda Aceh  yaitu Kerkoff perkuburan tentara Hindia Belanda yang menjadi korban dalam Perang Kolonial Belanda di Aceh (1873-1904). Kalau kita memasuki lokasi tersebut, di dinding pintu gerbang tertera nama-nama dan pangkat dari tentara KNIL (The Royal Dutch Indies Army), yang dikebumikan.

KNIL adalah tentara marsose, sekelas pasukan elit Belanda. Yang menjadi tentara marsose justru lebih banyak orang Indonesia, yang direkrut Hindia Belanda untuk melawan orang Indonesia.

Ada 2.200 kuburan tentara marsose di sana. Peutjoet (Phoe-teu-tjoet) adalah sebutan lain dari Kerkoff yang diambil dari nama anak laki-laki Sultan Iskandar Muda. Di sana terbagi dalam empat lahan perkuburan, yaitu perkuburan Katolik, Protestan, Yahudi dan keluarga Sultan (Peutjoet 1984 dalam Mahmud Aziz, Teuku Cut, 2011).

Sebelumnya banyak yang tidak menyangka di sana ada lokasi 23 kuburan Yahudi. Umumnya orang-orang Yahudi Rumania. Ada juga dari Austria dan Rusia yang ke Kota-Radja (Banda Aceh) setelah mengikuti progran naturalisasi (1850-1934), dengan pindah menjadi warna negara Belanda (Mahmud Aziz, Teuku Cut, 2011).

Di sana ada satu batu nisan dengan tulisan;

L Birkenfeld

Geb te BOJAN

Boekowina

OUD 43 JAAR

OVERL. TE KOETARADJA

10 OCT 1935

RUST IN VREDE

Lieve man En Vader

Nama lengkapnya Leon Birkenfeld. Ia bekerja dan menetap di Sigli. Ia meninggal setelah ditusuk oleh orang Aceh di Stasiun Kereta Api di Sigli pada 1935. Saya mengetahui ini dari cerita yang disampaikan Prof. Teuku Iskandar di tahun 2010 (waktu itu beliau Guru Besar Emeritus Sastra Aceh di Universiteid Leiden, yang juga salah seorang pendiri Universitas Syiah Kuala).

Sebagaimana dikisahkan beliau, suatu hari ketika hendak turun dari kereta, Birkenfeld menghardik seorang laki-laki yang duduk di pintu kereta. Ia marah, ketika hendak turun mengapa masih ada orang di pintu. Mungkin karena hardikannya kasar, membuat laki-laki itu tersinggung.

Setelah Birkenfeld keluar, laki-laki itu mengikutinya dan menusuknya. Waktu kejadian itu, Teuku Iskandar masih sekolah di Sigli. Berhubung sekolahnya dekat dengan stasiun maka kehebohan itu terdengar hingga ke sekolah.

Semua pada ribut, ia dan teman-teman sekelas penasaran, ingin ke luar ruangan tapi dilarang oleh guru. Birkenfeld dirawat di rumah sakit. Ketika dalam proses penyembuhan, ia latihan berjalan, dan ternyata jahitan operasinya terbuka kembali. Dan inilah yang menyebabkan ia meninggal dan lalu dibawa ke Kota-Radja dan dikubur di sana (Mahmud Aziz, Teuku Cut, 2011).

Dari cerita yang disampaikan Prof. Teuku Iskandar, membuat saya penasaran. Lalu saya menuju Nationaal Archief di Den Haag (The Hague), untuk mencari arsip koran Belanda. Saya terkejut menemukan koran yang isinya sama dengan cerita yang disampaikan Prof. Teuku Iskandar. Isi petikan korannya:

De aanslag op den heer Birkenfeld

Koetaradja. De toestand van den heer Birkenfeld, die op 28 September op het station te Sigli door een Atjeher is aangevallen en gewond, is gunstig. De doktoren verwachten geen complicaties. De dader moest zich te Koeta Radja komen verantwoorden wegens een smokkel-affaire, waaraan hij, volgens zijn zeggen, onschuldig was. Hij bevond zich daarom op het station, waarna hij den heer Birkenfeld aanviel (Aneta)

Kop: De aanslag op den heer Birkenfeld

Krantentitel: Het Vaderland: Staat-en letterkundig nieuwsblad

Datum, editie: 03-10-1935, Ochtend

Leon Birkenfeld ditusuk di stasiun pada 28 September 1935. Diperkirakan meninggal pada 6 atau 7 Oktober. Jenazahnya dikebumikan di Kerkoff, Kota-Radja pada 10 Oktober 1935.

*Penulis adalah Dosen Prodi Hubungan Internasional di FISIP Universitas Almuslim

Lihat Juga: Darussalam, Tanah Suci Tiga Kampus

6 Peraturan di Aceh yang Bikin Heboh

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil