Home / ACEH / DPRA: Tak Becus, GM PLN harus Diganti

DPRA: Tak Becus, GM PLN harus Diganti

Iskandar Usman Al-Farlaky

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH—Ketua Fraksi Partai Aceh di DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky, mendorong Gubernur Aceh Nova Iriansyah untuk segera menyelesaikan krisis listrik di Aceh, menyusul sering padamnya listrik selama bulan puasa di tanah rencong. Jika pada proses manajemennya tidak benar, GM PLN Aceh juga didorong untuk dicopot

“Gubernur tidak boleh diam saja atas fenomena yang tidak baik ini. PLN juga sudah ingkar janji, katanya selama puasa listrik dijamin aman. Nyatanya kok begini, jadi kacau balau. Ini menganggu kekhususan orang beribadah. Giliran rakyat telat bayar langsung ditindak,” kata Iskandar tadi malam.

Politisi muda Partai Aceh ini menyarankan gubernur untuk menelusuri permasalahan dan mencari jalan keluar yang paling tepat. “Sekarang kan alasannya selalu gangguan interkoneksi PLN di Sumut. Pemerintah harus berpikir bagaimana agar kita tidak lagi tergantung dengan Sumut urusan energi listrik ini. Jika manajemennya tidak benar, maka GM PLN Aceh sebaiknya dicopot saja,” ujarnya.

Dia juga menyarankan agar pemerintah dan PLN memanfaatkan semua potensi sumber daya alam di Aceh untuk pemenuhan energi listrik di Aceh sehingga Provinsi Aceh akan terhindar dari pamadaman yang bekepanjangan.

“Kita semua harus berpikir bagaimana mencari jalan keluar atas krisis listrik yang ada. Studi kelayakan terhadap SDA Aceh untuk listrik harus dilakukan,” ungkapnya.

Menurut hemat dia, kondisi listrik saat ini untuk Aceh secara total dibutuhkan sebesar 410 Mega Watt. Namun, sebagian yang terpenuhi hanya 260 Mega Watt.  Sementara sisanya dari interkoneksi Medan sebesar 160 Mega Watt- 180 Mega Watt.

“ PLTU yang ada di Nagan juga selalu lamban dan kerap bermasalah. Kondisi ini berpengaruh kepada pasokan arus listrik kepada pelanggan,” katanya.

Katanya, PLN harus melakukan langkah agar segera terwujudnya tambahan pasokan listrik dari Arun yang diperkirakan mencapai 250 Mega Watt.

“Untuk Banda Aceh  PLTG Krueng Raya  sebesar 50 Mega Watt juga harus dimanfaatkan. Energi baru dan terbarukan juga harus dimanfaatkan, yakni rencana PLTA Tampur 1 dan 2 di Aceh Timur. Jika ini berhasil dibangun, maka akan menghasilkan listrik sebesar 554 Mega Watt, masing-masing Tampur I sebesar 428 Mega Watt dan Tampur II 126 Mega. Watt,” ungkapnya.

Menurut Al-Farlaky,  Beberapa tahun sebelumnya Daewoo Enginering- Korea Midland Power, perusahaan swasta asal Korea Selatan pernah melirik potensi itu. Kecuali itu, yang bisa digarap termasuk energy panas bumi (Geothermal) Seulawah dan juga pembangunan PLTU 2×200 Mega Watt di Meulaboh yang menurut laporan kontraknya sudah ada.

Ditambahkanya, selama ini yang kerap mengalami pemadaman listrik merupakan kawasan yang masih menggunakan jaringan interkoneksi dengan Medan, Sumatera Utara. Ia juga berharap, dengan adanya pemanfaatan sumberdaya dan tenaga pembangkit yang ada supaya dipacu sehingga Aceh tidak lagi mengalami pemadaman listrik meski saat beban puncak.