Home / ACEH / Karena Mahfud MD Bukan Orang Aceh

Karena Mahfud MD Bukan Orang Aceh

Mahfud MD. (Foto: IST)

Oleh: Fadhli [Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta]

Statemen Mahfud MD yang disiarkan melalui stasiun televisi beredar luas di jagat media sosial. Video berdurasi  1 menit lebih itu menjadi viral karena menyebutkan beberapa provinsi yang menjadi basis kemenangan calon presiden Prabowo Subianto itu sebagai provinsi garis keras dalam hal agama (Islam garis keras). Salah satu provinsi yang disebutkan oleh Mahfud MD adalah Aceh. Sontak banyak pihak yang geram atas pernyataan tersebut.

Secara pribadi, Saya sebagai orang Aceh tidak keberatan dengan isi keseluruhan pandangannya tersebut. Garis keras justru menunjukkan bahwa orang Aceh sangat konsisten dengan keimanannya. Saya pikir statement tersebut sangat politis dan erat kaitannya dengan kegaduhan pasca pilpres beberapa waktu lalu. Maka apapun hasilnya, Saya pikir yang banyak mengeruk untung tetap saja tidak jauh-jauh dari Jakarta.

Saya melihat Aceh memang sangat ngotot dengan corak keislamannya. Islam adalah agama yang mendarah daging bagi orang Aceh. Oleh karena itu jangan sekali-kali menyinggung Islam di depan orang Aceh. Perlu menarik garis sejarah yang cukup panjang ke belakang untuk memahami bagaimana Islam menjadi kosmologi berpikir orang Aceh.

Makanya, hari ini kita tidak bisa melihat Aceh dan Islam secara terpisah. Keduanya ibarat dua sisi koin uang logam yang tak terpisahkan.

Lihat Juga: Sejarawan Bela Mahfud MD Soal 4 Daerah Garis Keras

Saya dapat memaklumi statemen Mahfud MD tersebut, tidak sepenuhnya keliru. Hanya saja, satu kesalahan fatal Mahfud MD ketika menyatakan pemikirannya tersebut. Iya, benar, karena Mahfud MD bukan orang Aceh. Beberapa waktu lalu di Aceh dihebohkan oleh ceramah seorang Teungku.

Dalam dakwah tersebut sang Teungku mengatakan “bangsa Aceh adalah bangsa yang paleng pungo keu peng, pangkat, dan jabatan” maksudnya gila dengan uang, pangkat dan jabatan. Bahkan keluar kata “cot boh u langet” dan “teungik-ngik”.

Kalimat-kalimat tersebut yang secara harfiah terdengar kasar justru disambut hangat dengan canda tawa oleh orang Aceh. Orang Aceh tidak merespons negatif statemen tersebut, malah ia disebarkan sebagai bahan lelucon dan otokritik.

Pada akhirnya saya tersadar bahwa orang di Aceh sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan pandangan Anda, Pak Mahfud MD. Pada dasarnya kami senang mencela diri sendiri, karena itu adalah bagian dari bagaimana kami mengungkapkan ekspresi kecintaan kami dengan cara yang berbeda.

Hanya saja, ketika Pak Mahfud mengatakan tersebut, masyarakat Aceh tersinggung, marah, tidak terima karena yang mengatakannya adalah bukan bagian dari orang kita, Aceh tercinta. Orang Aceh tidak terima jika orang lain yang mengatakannya.

Baca Juga: 6 Peraturan di Aceh yang Bikin Heboh

Gara-gara Pilpres, Dua Warga Aceh Dibui

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil