Home / NASIONAL / Mengapa Prabowo Tidak Terima Ucapan Selamat?

Mengapa Prabowo Tidak Terima Ucapan Selamat?

 

Prabowo Subianto. (Foto: Suara.com)

Oleh: Denny JA

Peneliti senior di LSI Denny JAS

Sehari setelah pemilihan presiden, 18 April 2019, media ramai memberitakan. Sebanyak 21 kepala negara asing mengucapkan selamat kemenangan kepada Jokowi. Antara lain Perdana Menteri Mahathir Muhammad dari Malaysia, Perdana Menteri Lee Hsien Loong dari Singapura, dan Presiden Recep Tayyib  Erdogan dari Turki.

Tapi hasil  Perhitungan resmi KPU belum selesai. Berdasarkan jadwal, penetapan pemenang pemilu paling telat 22 Mei 2019. Masih sekitar sebulan lagi jadwal yang ditunggu itu. Tentu saja pada tanggap 18 April 2019, belum ada penetapan resmi KPU.

Prabowo pun belum pula mengucapkan selamat kepada Jokowi atas kemenangan. Sebaliknya, bahkan Prabowo juga mengklaim kemenangan. Kubu Prabowo bahkan menyiapkan perayaan kemenangan.

Lalu, mengapa 21 kepala negara sudah mengucapkan kemenangan? Apa sumber informasi yang digunakan? Sehingga 21 pimpinan politik sebuah negara asing meyakini ucapan selamat kemenangan sudah layak dinyatakan?

Tak lain dan tak bukan, satu satunya informasi  klaim kemenangan datang dari Quick Count 6 lembaga survei. Publikasi Quick Count itu LIVE setidaknya di 13 stasiun TV.

Hasil Quick Count itu sama. Jokowi menang di angka yang meyakinkan. Selisih kemenangan itu jauh di atas margin of error. Walau saling tahu bahwa lembaga resmi KPU belum menetapkan pemenang, 21 kepala negara asing memberikan respon yang berbeda dibandingkan Kubu Prabowo.

Sebanyak 21 kepala negara asing mempercayai sisi ilmiah Quick Count 6 Lembaga Survei.  Sebanyak 21 kepala asing juga meyakini mustahil 13 stasiun TV bekomplot secara rahasia, berkonspirasi mempublikasi Quick Count yang hasilnya seragam.

Sementara Kubu Prabowo tak meyakini hasil Quick Count 6 Lembaga Survei. Kubu Prabowo tak meyakini publikasi 13 TV, termasuk TV One yang selama ini sering mereka puji.

-000-

Tapi bagaimanalah yang ideal itu? Tradisi mana yang akan kita suburkan sebagai momen tepat untuk sang capres yang kalah mengucapkan pengakuan kekalahan?

Apakah di hari pemilihan itu juga setelah gelagat Quick Count aneka lembaga survei menunjukkan hasil yang sama?

Ataukah setelah KPU menetapkan hasil sekitar sebulan setelah hari pencoblosan? Ataukah setelah MK menetapkan pemenang setelah hasil KPU digugat? Ataukah tak akan pernah dan tak perlu sama sekali?

Akan lahirkah pernyataan dari capres yang kalah kepada para pendukung seperti ini:

“Rakyat Indonesia sudah bicara. Kita sudah sama berjuang. Tapi keberuntungan belum tiba. Yang terpilih adalah calon presiden yang lain.

Saya menyerukan dari hati yang terdalam. Wahai pendukungku dari segala pelosok tanah air. Mari sekarang kita berdiri bersama Presiden yang terpilih. Ketika masa kampanye, ia lawan tanding kita. Kini ia pemimpin kita bersama!”

Isu ini penting direnungkan karena setiap lima tahun kita memilh presiden

-000-

Ada baiknya kita menyelam, membaca sejarah. William Jennings Bryan, calon presiden Amerika Serikat di tahun 1896 selalu dikenang. Saat itu ia bukanlah capres yang menang. Ia capres yang kalah.

Namun ia pertama yang dicatat sejarah meletakkan tradisi ucapan pengakuan kekalahan dalam pertarungan pemilu presiden di Amerika Serikat.

Saat itu, di tahun 1896, sekitar 123 tahun lalu, belum ada facebook, twitter atau instagtam. Belum ada televisi bahkan radio. Juga belum ada teknologi telefon. Tapi sudah ada sikap negarawan yang menjadi tumbuhnya peradaban maju.

Telegram menjadi satu satunya alat komunikasi menyampaikan pesan jarak

Jauh. Di tahun itu, 1896, 123 tahun lalu, William Jennings Bryans mengucapkan selamat kemenangan kepada lawan tandingnya, William McKenley.

Pernyataan kekalahan dari  Bryan menjadi standard yang acapkali diikuti oleh capres Amerika Serikat   kemudian. Tulis Bryan, “bersama kita sudah sepakat bahwa kehendak dan pilihan rakyat Amerika menjadi sumber hukum.  Rakyat Amerika sudah bicara. Selamat atas kemenangan anda. Selamat menjadi presiden Amerika Serikat selanjutnya.”

Teknologi terus bergerak. Telegram kemudian diganti oleh telefon. Selesai pemilu presiden, di malam itu juga atau sehari sesudahnya, pers selalu siaga menunggu capres yang kalah menelfon capres yang menang untuk mengucapkan pengakuan kekalahan.

Tak ada aturan dalam pemilu Amerika Serikat bahwa capres yang kalah harus mengucapkan pengakuan kekalahan. Namun itu tradisi yang ditumbuhkan oleh spirit demokrasi para pemimpin dan elit berpengaruh.

-000-

Ucalan pengakuan kekalahan dari sang kandidat tentu gabungan dua hal. Ia lahir dari keyakinan pribadi bahwa pemilu sudah berlangsung jujur, adil, dan bersih sesuai aturan. Walau dirasakan ada ketidak sempurnaan, tapi secara umum, proses pemilu tak cacat signifikan.

Tapi tak cukup dengan keyakinan pribadi atas pemilu yang relatif bersih. Harus hadir pula sikap negarawan dari sang kandidat.

Pemimpin dengan karakter negarawan menyadari. Patriotisme di atas politik partisan. Untuk kepentingan negara, memelihara kultur demokrasi, untuk menjaga kebersamaan dan persatuan, sikap fairness atas kekalahan penting dipupuk. Sikap sportif itu penting ditularkan dan diwariskan.

Bagi negarawan, pemilu bukan semata tanding kalah menang hidup dan mati. Pemilu semata cara damai untuk mengelola dan mengganti kekuasaan.

-000-

Kembali ke laptop, kapankah sebaiknya ucapan pengakuan kekalahan itu dinyatakan? Tak ada aturan soal itu sama sekali.

Ada ucapan itu atau tidak, hasil KPU akan diumumkan dan berlaku. Polri dan TNI mengawal. Yang lebih penting: rakyat banyak melihat dan mencatat. Om Google merekam segala hal ihwal yang membuat segala tindak tanduk akan abadi dalam dunia maya.

Empat kali sudah pemilu presiden era reformasi. Jejak digital ada di sana. Quick Count lembaga yang kredibel sudah berhasil menggunakan ilmu pengetahuan untuk tahu hasil lebih cepat. Penetapan KPU sebulan kemudian, tak beda soal pemenang.

Dan 21 kepala negara asing, yang mengucapkan selamat kemenangan kepada Jokowi, dengan semua jaringan serta kapasitas, sangat mengerti soal itu.