Home / BERITA TERBARU / Teuku Iskandar, Intelektual yang Dihormati di Belanda [Bagian 3]

Teuku Iskandar, Intelektual yang Dihormati di Belanda [Bagian 3]

Prof.Dr.Teuku Iskandar bersama istri di kediamannya. [Foto: Teuku Cut Mahmud Aziz]

Oleh: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A [Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim]

KLIKKABAR.COM, BIERUEN  –  Penulis penasaran dan  bertanya,“Mengapa pejabat militer yang menjabat Pj Presiden (Rektor) di Unsyiah, mengapa bukan akademisi seperti Prof?”

Jawabannya,”Karena kondisi Aceh di waktu itu membutuhkan pimpinan militer dan ini dapat dimaklumi. Walaupun saya menjadi wakil tapi yang menjalankan manajemennya adalah saya.”

Jika dikaitkan dengan tulisan yang termuat dalam pikiranmerdeka.co (4 Desember 2017), bahwasanya pada 29 Juni 1958 Penguasa Perang Daerah Istimewa Aceh membentuk Komisi Perencana dan Pencipta Kota Pelajar/Mahasiswa. Dan komisi inilah yang memberi nama Unsyiah.

Ungkap Teuku Iskandar,”Tidak mudah membangun Aceh di waktu itu. Saya menyadari tidak bisa sendiri, butuh dukungan orang lain. Pak Madjid Ibrahim adalah sahabat saya. Saya beberapa kali menemuinya, meminta bantuan untuk bantu saya, bangun Aceh tapi beliau tidak bersedia. Karena beliau sudah ada pekerjaan di Jakarta. Saya ajak beberapa kali, akhirnya beliau bersedia.”

Orang yang berhasil Teuku Iskandar yakinkan tersebut, di kemudian hari menjadi Rektor Unsyiah dan menjabat Gubernur Aceh periode 1978-1981. Diyakini banyak pihak, Prof. A. Madjid Ibrahim adalah konseptor Aceh Development Board (ADB) yang menjadi cikal bakal lahirnya Bappeda dan Bappenas. Untuk mengenang jasanya, Pemerintah Aceh memberikan penghargaan bagi kabupaten/kota yang berhasil menyusun dokumen perencanaan pembangunan yang berkualitas dengan penghargaan “Anugerah Perencanaan Prof. A. Madjid Ibrahim” (Aceh.antaranews.com, 17 April 2017).

Penulis mendapat informasi yang lain, sebenarnya konsep ADB tidak hanya semata dari pemikiran Prof. A. Madjid Ibrahim tapi juga ada peran pemikiran Prof. Ali Hasjmy dan beberapa pemikir Unsyiah. Ada satu sumber yang menyebutkan, Kantor ADB di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Di depan ADB ada dua pohon asam besar. Kalau tidak salah, katanya, kantornya bercat biru. Di sana ada tertulis juga nama Teuku Iskandar. Tapi ia lupa posisinya sebagai apa. Tapi perlu dikrosscek kembali. Tapi yang jelas, keberadaan Bappeda dan Bappenas lahir dari pemikiran besar pemikir Unsyiah.

Melihat perawakan dan rupa Prof. Dr. Teuku Iskandar, mengingatkan penulis pada sosok intelektual terkemuka Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Teuku Jacob. Yang keduanya sama-sama alumni universitas di Belanda.

Kalau Teuku Jacob, alumnus Universiteit Utrecht. Ia adalah putra Aceh yang berhasil meraih Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM dan menjabat Rektor UGM (1982-1986). Untuk menghargai jasa-jasanya dalam mengembangkan ilmu antropologi ragawi maka UGM mengabadikan nama Teuku Jacob menjadi nama gedung dan museum bioantropologi dan paleoantropologi UGM, yaitu “Gedung T. Jacob.” Ia terkenal dengan julukan “Bapak Paleoantropologi Indonesia” (Lab-biopaleoantropologi.fk.ugm.ac.id).

 

Mungkin Unsyiah dapat melakukan hal yang sama seperti halnya UGM, untuk menghargai  jasa Prof. Dr. Teuku Iskandar dalam mendirikan Unsyiah. Namanya  dapat dipertimbangkan untuk diabadikan menjadi nama salah satu gedung di Fakultas Ekonomi Unsyiah, seperti halnya peresmian Ruang Adnan Ganto Multimedia Center Unsyiah yang baru saja dilakukan.

Demikian pula Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya yang mungkin juga dapat mempertimbangkan nama Prof. Dr. Teuku Iskandar menjadi salah satu nama jalan di Pidie Jaya. Karena Almarhum adalah putra Aceh kelahiran Trienggadeng.

Setelah beberapa tahun menetap di Banda Aceh karena panggilan jiwa sebagai ilmuwan, Teuku Iskandar pindah ke Malaysia untuk mengajar di beberapa universitas di sana. Ia juga bekerja di Dewan Bahasa dan Pustaka di Kuala Lumpur. Ia menjadi dosen dan diangkat sebagai guru besar di Universitas Brunei Darussalam. Keberadaannya di Brunei atas permintaan Sultan Brunei Darussalam. Setelah belasan tahun berada di sana, ia kembali ke Belanda dan menjadi guru besar di Universiteit Leiden. Ia menjadi intelektual yang dihormati di Belanda.

Prof. Dr. Teuku Iskandar mengatakan, “Saya dapat undangan dari Sultan Brunei. Ini undangannya.” Ia memperlihatkan ke penulis. Di undangan mewah tersebut tertera nama Sultan Hassanal Bolkiah. Lalu penulis tanya,”Prof akan ke Brunei?”

“Tidak mungkin lagi saya penuhi undangan seperti ini,” ujarnya.

“Saya sudah lemah. Dulunya saya aktif mengikuti acara kerajaan di Malaysia dan Brunei. Karena selalu diundang. Tapi sekarang sudah sulit.” Mendengar ini, penulis hanya terdiam.

“Apakah Prof ada keinginan untuk pulang ke Aceh,” tanya penulis lagi.

“Iya, pernah terpikir,” katanya.

Memperlihatkan, ia punya keinginan untuk kembali ke Aceh.

Prof. Dr. Teuku Iskandar telah tiada. Tapi karyanya akan selalu dikenang sepanjang masa. Selama karyanya dibaca, maka ia akan selalu hadir di kehidupan kita.

Pramoedya Ananta Noer berkata,“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Insha Allah jika berkesempatan ke Belanda dalam tahun ini, penulis akan ziarah ke makam Prof. Dr. Teuku Iskandar di Leiden. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan menerima segala amal ibadahnya.