Home / BERITA TERBARU / Teuku Iskandar, Intelektual yang Dihormati di Belanda [Bagian 2]

Teuku Iskandar, Intelektual yang Dihormati di Belanda [Bagian 2]

[Foto: bukalapak.com]

Oleh: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A [Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim]

KLIKKABAR.COM, BIREUEN –  Di ruang kerja Prof. Dr. Teuku Iskandar, kami berdiskusi. Katanya di kampus terkemuka seperti di Belanda, pelanggaran etika ilmiah juga terjadi tapi tidak separah di Indonesia. Dia pernah dikecewakan karena karyanya yang diplagiat oleh sarjana asing. Ia lalu menceritakan kenangan di tahun 2009 ketika diundang Unsyiah memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Unsyiah ke-48.

Katanya banyak yang hadir termasuk Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Topik orasi yang disampaikan berjudul “Hikayat Aceh Mencatat Fajar Menyingsing Kerajaan Aceh Darussalam, Bustanussalatin Senjakalanya.”

Ada rasa senang dan bahagia yang terpancar dari wajahnya ketika ia menceritakan hal ini. Yang menurut hemat penulis, rasa bahagia ini muncul karena merasa diapresiasi dan dihargai oleh keluarga besar Unsyiah. Ada sebuah pengakuan akan kontribusinya pada ilmu pengetahuan.

Intelektual terkemuka di bidang Sastra Aceh dan Melayu ini telah menghasilkan sejumlah karya. Jika kita membuka situs AbeBooks.co.uk terlihat urutan buku-buku karya Prof. Dr. Teuku Iskandar  dari “Kamus Dewan” (Kuala Lumpur. Dewan Bahasa dan Pustaka. Kementerian Pelajaran),

“Kamus Dewan” (1st ed Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lampur,1984),

“Kamus Dewan” (Dewan Bahasa dan Pustaka, 1986),

“Kamus Dewan” (Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1970),

“De Hikajat Atjeh,”

“Cataloque of Malay, Minangkabau, and South Sumatran Manuscripts in the Netherlands,” hingga bunga rampai “In Memoriam: Sir Richard Winstedt (Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, Volume 40, Part 2).”

Semua karyanya masuk dalam seller rating tertinggi (bintang lima) dengan quantity available, satu. Itu artinya, karyanya menjadi rujukan dan dicari banyak peneliti internasional.

Teuku Iskandar memperoleh gelar doktor di Universiteit Leiden tahun 1955. Ia menulis disertasi “De Hikajat Atjeh” di bawah bimbingan promotor Prof. Dr. A. Teeuw. Tiga tahun kemudian (1958) disertasinya diterbitkan menjadi buku.

Setelah menyelesaikan program doktor, Dr. Teuku Iskandar kembali ke Indonesia, menetap di Jakarta. Presiden Soekarno memintanya untuk membantu, membangun dunia pendidikan tinggi di Aceh. Sedangkan di waktu itu ia sudah mendapat tawaran kerja di Bank Indonesia (sebelumnya bernama De Javasche Bank) di Jakarta. Tawaran itu tidak diambil, ia lebih memilih membangun dunia pendidikan di Aceh.

Pembukaan Fakultas Ekonomi Unsyiah yang merupakan fakultas pertama di Unsyiah berbarengan dengan diresmikannya Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam oleh Presiden Soekarno pada 2 September 1959.

Dr. Teuku Iskandar menjadi dekan pertama. Pada waktu Unsyiah didirikan tahun 1961, rektor pertamanya adalah Kolonel M Jasin yang kala itu juga Panglima Daerah Militer I/Iskandar Muda, sedangkan Dr. Teuku Iskandar wakilnya.

Namun di waktu itu sebutannya bukan rektor tapi Pj Presiden. Barulah pada periode kepemimpinan Drs. A. Madjid Ibrahim (1965-1972) dimulainya sebutan rektor untuk pimpinan universitas dan ini berlaku secara resmi di seluruh universitas di Indonesia, berdasarkan keputusan menteri (dapat dibaca dalam Pikiranmerdeka.co, 4 Desember 2017). Makanya banyak yang menyebut, rektor pertama Unsyiah adalah Prof. Drs. A. Madjid Ibrahim. Sebenarnya yang menjadi rektor pertama Unsyiah adalah Kolonel M Yasin.