Home / BERITA TERBARU / Teuku Iskandar, Intelektual yang Dihormati di Belanda

Teuku Iskandar, Intelektual yang Dihormati di Belanda

Teuku Cut Mahmud Aziz (kiri) dan Prof. Dr. Teuku Iskandar (kanan) di rumahnya, Leiden.

Oleh: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A

[Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim]

(Bagian Pertama)

KLIKKABAR.COM, BELANDA – Tulisan ini ditulis untuk mengenang Prof. Dr. Teuku Iskandar, seorang guru besar Sastra Aceh dan Sastra Melayu di Universiteit Leiden. Ia berjasa membangun Aceh melalui dunia pendidikan. Ia adalah salah seorang tokoh pendiri Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Ilmuwan yang masyhur tersebut telah meninggal dunia pada 5 September 2012 di Leiden, Belanda, dalam usia 88 tahun. Almarhum dikebumikan di sana. Penulis bertemu dengannya sewaktu melakukan penelitian di Leiden.

Di tahun 2009 sebelum tiba di Negeri Kincir Angin, penulis menerima surat elektronik dari supervisor di Universiteit Leiden, Dr. Clara. Isinya, “Last month I met an old friend, Dr. Teuku Iskandar, who published the Hikajat Atjeh in 1958. He is an Acehnese nobleman who has been living and working in Leiden most of his life. I told him about you and he will be pleased to meet you when you come.”

“Tentu, dengan senang hati, Dr. Clara,” jawab penulis.

“Sebuah kehormatan dan kebahagiaan bagi saya jika dapat bertemu langsung dengan Prof. Teuku Iskandar, ilmuwan asal Aceh yang dihormati di Belanda.”

Setahun kemudian di Kota Leiden, suatu siang di Perpustakaan dan Pusat Kajian KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies), seorang teman,dosen IAIN Imam Bonjol yang studi Program Ph.D, Islamic Studies di Universiteit Leiden bertanya kepada penulis.

“Apakah Pon Cut (nama panggilan) sudah bertemu Prof. Teuku Iskandar?”

“Belum,” jawab penulis.

Sambungnya.

“Cut, kamu harus bertemu dengan beliau. Beliau orang penting dan dihormati di sini. Beliau pakar Hikayat Aceh. Apalagi kamu orang Aceh, pasti beliau sangat senang. Saya pernah dengar dari teman Aceh, beliau senang sekali kalau dikunjungi anak-anak Aceh.”

Lalu penulis katakan.

”Saya pasti silaturahmi ke beliau. Insha Allah dalam beberapa hari ke depan.”

Demikian pula ketika meminjam buku di KITLV, seorang petugas perpustakaan, orang Malaysia yang telah menjadi warga Belanda, setelah mengetahui nama awal penulis “Teuku,” bertanya ke penulis.

”Apakah kamu saudara Teuku Iskandar? Dia orang penting di sini!” Dilanjutkan dengan pertanyaan,”Apakah Teuku sama dengan Teungku?

Saya berpikir, kamu orang penting!”

Mendengar ini, penulis tersenyum, dan menjelaskan perbedaan sebutan Teuku dan Teungku di dalam masyarakat Aceh dan di masyarakat Malaysia.

Pada Minggu pagi di tengah udara cerah, penulis bersama dua teman asal Aceh, Reza Idria dan Juanda Djamal mengayuh sepeda dengan tujuan ke kediaman Prof. Teuku Iskandar. Kami tiba di rumah bercat putih bergaya klasik yang berada di sudut jalan yang terpisah dari perumahan yang lain.

Dari bentuk dan letak rumahnya memperlihatkan pemiliknya seorang yang berada. Lingkungan rumah terlihat asri. Di seberang tampak hamparan rumput yang luas yang menjadi tempat permainan angsa, burung, dan kuda.

Di depan pintu rumah kami disambut dengan penuh keramahan. Istri Teuku Iskandar, warga negara Belanda cukup fasih berbahasa Indonesia. Teuku Iskandar masih fasih berbahasa Aceh. Penulis tidak lupa memperkenalkan diri, merupakan bimbingan supervisor Dr. Clara.

Lalu kami diarahkan ke ruang kerja Teuku Iskandar, ruang kerja yang juga berfungsi sebagai perpustakaan. Di dinding tampak ribuan buku berjejer. Sambil mencicipi hidangan dan teh, kami mendengar cerita Teuku Iskandar sewaktu bertugas di Banda Aceh di tahun 1959 hingga awal 60-an. Dari ceritanya tergambar bahwa “penjaga hikayat Aceh” ini adalah tokoh sejarah yang bersahaja, bertutur kata lembut, dan rendah hati.

Pria kelahiran Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, 14 Oktober 1924 merupakan dekan pertama Fakultas Ekonomi Unsyiah tahun 1959, yang waktu itu masih berada di bawah koordinasi Universitas Sumatera Utara (USU). Sewaktu bertugas di Aceh, istrinya ikut serta dan mengaku senang tinggal di Aceh.

Namun demikian, sempat mengalami kejadian yang mencekam, suatu malam ketika mereka sedang berada di rumah, tiba-tiba terdengar kontak senjata dan mereka langsung tiarap ke lantai. Istrinya begitu takut.

Ketika Fakultas Ekonomi memperlihatkan perkembangannya, Teuku Iskandar berkeinginan menjadikan Fakultas Ekonomi berdiri sendiri, terpisah dari USU. Namun, keinginan tersebut tidaklah mudah, penuh tantangan.

Karena ada orang yang menyangsikan kesiapan Aceh untuk berdiri sendiri dan berkeinginan mendirikan universitas. Ia tidak peduli dan terus berupaya. Setelah pisah, kenyataannya.

”Kita mampu melakukannya,” ungkapnya. Ada kata-kata beliau yang masih penulis ingat,”Awak Nyan pike tanyoe ureung bangai! Bahasa Aceh yang artinya “Mereka pikir kita orang bodoh!”

Dilanjutkan dengan cerita, pada masa DI/TII Teuku Iskandar menjadi salah seorang delegasi yang ikut serta dalam rombongan untuk bertemu dengan Teungku Daud Breueh. Di samping itu, ia juga menjadi penerjemah bahasa Inggris dan bahasa Belanda untuk Gubernur Aceh, Ali Hasjmy bila kedatangan tamu asing ke Aceh dan bertemu gubernur.

Di tengah asyik bercerita, lalu istrinya menghampiri kami, meminta maaf, mengingatkan kami bahwa waktu telah menunjukkan jam dua belasan. Kami kemudian diajak ke ruang makan. Di atas meja terhidang masakan khas Aceh, ikan asam keueung. Kuah ikannya terasa asam dan pedas. Yang bumbu rempah-rempahnya dipengaruhi dari India.

Dari meja makan terlihat pohon teumeuru dan pohon belimbing yang tumbuh di pinggir pekarangan rumah. Di luar Aceh untuk mudah mengetahui apakah rumah itu milik orang Aceh atau bukan maka tanda umumnya adalah ada atau tidaknya kedua pohon itu ditanam di pekarangan rumahnya.

Ketika hendak pamitan, istrinya menawari baju hangat agar kami terhindar dari udara dingin selama di Belanda.

“Silakan ambil, jangan malu-malu. Kami punya banyak,” ujarnya. Lalu kami bertiga mengambilnya.

Penulis tinggal di Ossgets yang hampir setiap hari jika ke Universiteit Leiden, mengayuh sepeda melewati rumah Prof. Teuku Iskandar. Mudah mengingat lokasi rumahnya karena berdekatan dengan Leiden Centraal.

Suatu ketika, penulis berpapasan dengan Prof. Teuku Iskandar di Perpustakaan KITLV. Ia menanyai.

“Kapan datang ke rumah saya lagi?” Katanya lagi, “Kalau orang Belanda, kalau kita mau datang ke rumahnya, harus janjian dulu. Tapi kalau datang ke rumah saya, Pon Cut silakan datang kapan saja. Tidak perlu janjian dulu.” Penulis menjawab,”Baik Prof.”

Tiga hari kemudian sepulang dari kampus, penulis mampir ke rumah Prof. Teuku Iskandar dan kami pun berdiskusi.