Home / BERITA TERBARU / Ketika India Menggeser Yahudi di Antwerp

Ketika India Menggeser Yahudi di Antwerp

Oleh: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A

[Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim]

KLIKKABAR.COM, INDIA – Universitas Almuslim menerima kunjungan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD, Kamis (14/3/ 2019). Kehadiran Sofyan Djalil untuk memberikan Kuliah Umum “Kesiapan Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0.”

Dalam kuliah itu, selain menyampaikan nasehat dan pesan-pesan motivasi kepada mahasiswa, Sofyan  menceritakan kejujuran yang dimiliki komunitas Jain, yang merupakan orang India penganut agama Jainisme.

Karena kejujuran yang dimilikinya, mereka orang-orang yang sangat dipercaya dan banyak yang berhasil menjadi pengusaha besar seperti pengusaha berlian di Antwerp di Belgia. Keberhasilan di Antwerp justru menggeser bisnis berlian yang selama berabad-abad lamanya dimonopoli oleh perajin dan pengusaha Ortodoks Yahudi.

Mendengar kata “Antwerp atau Antwerpen, Berlian, dan Yahudi” mengingatkan penulis memori di tahun 2010. Di tahun tersebut penulis mengunjungi Kota Antwerp yang terkenal sebagai pusat perdagangan berlian dunia atau banyak yang mengatakan “Ibukota Berlian Dunia.”

Kota yang indah, tenang, dan makmur itu, terkenal juga sebagai kota pelabuhan, kota seni dan fashion, dan kota coklat di Belgia. Di waktu itu penulis adalah visiting researcher di Leiden Universiteiet yang melakukan penelitian tentang sejarah Yahudi di Indonesia.

Banyak data sejarah yang penulis temukan di samping melakukan interview kepada orang-orang Yahudi yang punya ikatan historis dengan Indonesia. Supervisor penulis, Dr. Clara dan beberapa rekan peneliti menyarankan untuk berkunjung ke Antwerp, kota di Belgia yang berjarak 141,7 km dari Kota Leiden dengan waktu tempuh naik kereta sekitar 1 jam 30-an menit.

Di sana, penulis sebagai peneliti dapat melihat langsung kehidupan komunitas Yahudi Ortodoks yang banyak menjadi pengusaha berlian di kota tersebut. Hal ini penting untuk dapat menambah wawasan dan pengalaman sebagai peneliti.

Antwerp menjadi kota terkaya dan pasar uang utama di Eropa pada abad ke-16. Yang kemudian mengalami penurunan dan bangkit kembali di abad ke-19. Penduduk Kota Brussel, Ibukota Belgia menggunakan bahasa Prancis dan Flemish (bahasa Vlaams, Belanda-Belgia), sedangkan di Antwerp, kota terbesar kedua di Belgia, penduduknya berbahasa Flemish. Khusus komunitas Yahudi, ditambah satu bahasa lagi, yaitu bahasa Yiddish (Jpost.com, 2018).

Sebagai kota bisnis, Antwerp tidak terimbas dengan tipe bangunan-bangunan modern berskala besar. Karena kota sejarah, ia tetap mempertahankan identitasnya dengan bangunan-bangunan tua berarsitektur gotik.

Seperti keindahan arsitektur yang terlihat di Stasiun Kereta Api Antwerp. Rasanya, penulis tidak percaya ada stasiun kereta seindah dan semegah itu. Lebih mirip bangunan istana daripada stasiun kereta. Penduduk di sana sering menjulukinya “katedral kereta api.”

Jika kita berdiri dari kejauhan maka akan terlihat menara stasiun (seperti menara istana atau katedral) yang menjulang tinggi. Ketika menyusuri jalan-jalan di kota Antwerp, agak tidak tersesat, penulis berpatokan pada menara tersebut.

Di jalan-jalan kota banyak terlihat orang-orang Yahudi. Dari pakaiannya memperlihatkan mereka penganut Yahudi Ortodoks. Mereka mengenakan mantel panjang berwarna hitam, memiliki jambang yang panjang, dan memakai fedora (topi bundar).

Di dekat jalan besar berdiri sebuah tugu yang di tengahnya ada lambang bintang david. Yang di atasnya ada patung keluarga, terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang menjadi simbol sejarah kedatangan orang-orang Yahudi di Kota Antwerp.

Orang Yahudi tiba di Antwerp pada abad ke-13. Berlanjut di abad ke-16 hingga 18 dan mengalami puncaknya setelah tahun 1880. Umumnya keturunan Polandia dan Rusia. Mereka umumnya golongan Yahudi Ortodoks (penganut gerakan Hassidic ultra-Ortodoks) dan dikenal sebagai komunitas yang taat (Bh.org.il, 2017).

Komunitas yang berjumlah 15.000-18.000 jiwa tersebut, 90% nya bekerja di industri berlian. Setidaknya ada enam sekte Yahudi yang menetap di Antwerp, yaitu Gur, Belz, Satmar, Lubavitch, Chortkov, dan Vizhnitz (Jpost.com, 2018 dan Gutwirth, Jacques, 1968).

Lokasi bisnis para pemotong, pemoles, dan pedagang berliau berdekatan dengan stasiun kereta. Kalau kita keluar dari pintu depan stasiun, kita dapat mengarah perjalanan ke arah sebelah kiri. Di seberang jalan akan terlihat etalase toko berlian yang jumlahnya banyak dan berjejer di sepanjang jalan.

Kita dapat menyusuri dengan masuk ke gang-gang dan jalan-jalan di sekitar lokasi tersebut. Bisnis berlian menampung ribuan pekerja dengan jumlah toko yang juga ribuan.