Home / BERITA TERBARU / Serbuan CEO-CEO Dunia dari India

Serbuan CEO-CEO Dunia dari India

Penulis dan mahasiswi JNU di Jawaharlal Nehru University. [Foto: Teuku Cut Mahmud Aziz]

Oleh: Teuku Cut Mamud Aziz, S.Fil, M.A

[Penerima Hibat Riset dan Anggota Tim Market Intelligence BPPK Kemlu RI Tahun 2018 & Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim]

Banyak pemuda India yang berusia di bawah 30 tahun telah bergelar doktor. Di usia 30-an tahun telah menyelesaikan post doktoral. Saya bertanya kepada seorang yang sedang mengambil Program Post Doktoral di JNU, mengapa setelah selesai S3 tidak bekerja dulu, baru setelah itu melanjutkan studi lanjutan.

Ia mengatakan mencari pekerjaan di India tidak mudah, ketat persaingan. Lebih baik katanya, melanjutkan kuliah post doktoral, dan baru setelah itu mencari pekerjaan. Tidak menutup kemungkinan ia akan melamar pekerjaan di luar negeri. Perihal ini menjadi fenomena yang umum di Negara Anak Benua.

Jumlah populasi di India mencapai 1,32 miliar jiwa. Ada negara bagian yang jumlah penduduknya hampir setara dengan jumlah penduduk Indonesia. Belum lagi secara kultural, mereka hidup di tengah budaya kasta. Dapat dibayangkan, di tengah begitu banyak orang yang sekolah dan melanjutkan pendidikan, bagaimana kompetisi yang harus mereka hadapi?

Sejak di bangku sekolah mereka sudah sangat tekun belajar dan menyelesaikan PR di rumah. Bahkan sudah belajar untuk meningkatkan skil. Tidak ada budaya seperti kita yang nongkrong di pinggir jalan atau berleha-leha atau nongkrong di warung-warung kopi (seperti di Aceh). Hidup mereka keras. Karena mereka sadar bahwa tantangan hidup di depan sangat berat.

Tidak mengherankan ketika mereka berkompetisi dengan negara yang penduduknya secara kualifikasi SDM masih rendah dan kemampuan skilnya masih kurang, tentu akan sangat mudah bagi mereka untuk bersaing.

Bahkan mereka bisa “menaklukkan” negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa. Orang-orang hebat di dunia yang bekerja di banyak perusahaan terkemuka terutama industri dan perusahaan IT, kebanyakan adalah orang-orang keturunan India. Pendidikannya banyak yang ditempuh di kampus-kampus di India, bukan kampus-kampus top di Amerika atau Eropa.

Mereka CEO-CEO terkenal dunia, seperti Sundar Pichai (CEO Google), Indra Krishnamurthy Nooyi (CEO PepsiCo), Satya Nadella (CEO Microsoft), Shantanu Narayen (CEO Adobe Systems), Francisco D’Souza (CEO Cognizant), Anshuman Jain (CEO-bersama Deutsche Bank), Dinesh Paliwal (CEO Harman), Ajay Banga (CEO MasterCard), dan Sanjay Kumar Jha (CEO GlobalFoundries) (Serambi Indonesia Januari 2019).

Tahun lalu, dunia dikejutkan dengan remaja asal kota kecil di Tamil Nadu, berusia 18 tahun Rifath Shaarook, yang berhasil memenangkan kompetisi NASA dengan menciptakan satelit ukuran kecil dan paling ringan (64 gram) di dunia. Ia menamakan satelitnya dengan nama “KalamSat.” Diambil dari nama mantan Presiden India, Abdul Kalam yang berhasil menginspirasinya. Abdul Kalam merupakan pelopor aeronautika di India (Bbc.com, Mei 2017).

Pekerjaan yang mereka geluti di Amerika selain IT, adalah menjadi dokter, akademisi dan peneliti, sastrawan, wartawan, dan pengusaha. Semua lini pekerjaan profesional mereka masuki. Dunia mengenal ilmuwan para peraih nobel keturunan India, seperti Rabindranath Tagore (bidang Sastra), C V Raman (bidang Fiskia), Hargobind Khorana (bidang Kedokteran dan Fisologi), Subramaniam Chandrasekar (bidang Fisika), Amartya Sen (bidang Ekonomi), VS Naipaul (bidang Sastra), dan Ramakrishnan (bidang Kimia) (Liputan6.com, 2009).

India layak disebut bangsa besar karena telah melahirkan para peraih nobel dan filsuf. Apa yang dicapai India saat ini sebagai negara yang berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia setelah Amerika dan Tiongkok dengan pertumbuhan ekonomi hingga 7%, bukanlah capaian dan prestasi yang didapat dalam waktu yang singkat. Seperti membalik telapak tangan! Semua itu diraih dalam waktu yang panjang yang dimulai dengan mencetak tenaga ahli bidang teknologi informasi.

Di India khususnya di Bangalore telah tumbuh Silicon Valley yang merupakan Lembah Silikon yang kedua setelah Amerika. Di zona ini ada sekitar 200 industri besar peranti lunak yang telah menampung ratusan ribu karyawan. Tidak hanya unggul di industri peranti lunak, saat ini industri otomotis India bakal menyaingi Jepang, Jerman, dan Korea Selatan.

Di industri film juga demikian, industri bollywood tumbuh pesat dan menguasai pangsa pasar global. Disusul dengan kemajuan di industri kedokteran dan farmasi, perbankan, tekstil, dan industri layanan jasa serta pariwisata.

Jumlah orang kaya baru juga mengalami peningkatan setiap tahunnya dan tercepat di dunia. Dulu orang menganggapnya sebagai Negara miskin dan kumuh. Saat ini ia telah berhasil membuktikan kepada dunia bahwa ia adalah bangsa yang bermartabat dan maju. Tidak hanya barang industri yang diekspor ke penjuru dunia tapi juga menjadi negara eksportir SDM terbaik dunia.