Home / ACEH / KOTAKU Bangun 47 Titik Sumur BOR di Lhokseumawe

KOTAKU Bangun 47 Titik Sumur BOR di Lhokseumawe

Ist

KLIKKABAR.COM, LHOKSEUMAWE- Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) adalah program yang konsisten dengan isue-isue kumuh permukiman.

kriteria kumuh menurut KOTAKU dapat dilihat dari 7 (Tujuh) + 1 Aspek kumuh yaitu: Kondisi Bangunan, Kondisi Jalan Lingkungan, kondisi Drainase Lingkungan, Kondisi Penyediaan Air Bersih, Kondisi Pengelolaan Persampahan, Kondisi Pengelolaan Air Limbah, kondisi Pengamanan Kebakaran, dan Ruang Terbuka Publik.

Merujuk pada aspek kumuh tersebut di atas, Kota Lhokseumawe tahun 2018 masih memiliki permasalahan Air Bersih yang lumayan tinggi, kondisi tersebut dikarenakan belum tuntas penanganannya pada tahun 2017.

Selain itu, masyarakat memang masih memiliki kendala – kendala di lapangan seperti tidak memiliki akses ke jaringan PDAM, jikalaupun ada akses seperti sumur bor di desa, maka kapasitasnya sangat terbatas, sehingga sebagian msyarakat yang tidak memiliki akses langsung Air Bersih harus rela membeli per jerigen dan menggunakan Air Sumur gali yang kualitasnya sangat tidak layak pakai.

Fitriansyah selaku Koordinator Kota Program KOTAKU lhokseumawe menuturkan “Kota Lhokseumawe tahun 2018 masih memiliki permasalahan Air Bersih mencapai angka 38.14% berdasarkan data Baseline 100-0-100 dan perhitungan pengurangan kumuh  program KOTAKU awal tahun 2018 yang terdiri dari 15 (Lima Belas) desa berdasarkan SK kumuh Walikota Lhokseumawe tahun 2018 Yaitu; Blang Punteut, Ujong Blang, Ulee Jalan, Mon Geudong, Ulee Blang Manee, Kampung Jawa Lama, Keude Aceh, Mesjid Punteut, Batuphat Timur, Blang Naleung Mameh, Batuphat Barat, Blang Pulo, Pusong Lama, Pusong Baru, Meunasah Mesjid,” katanya kepada Klikkabar.com melalui siaran Pers, Kamis 31 Januari 2019.

Lebih lanjut, mengingat Air Bersih merupakan salah satu hal yang penting bagi masyarakat, permasalahan Air Bersih juga menjadi target pemerintah  untuk ditunaskan hingga pada tahun 2019.

Selain itu, kebutuhan akan Akses Air bersih juga ditunjang melalui data yang akurat melalui pemetaan di lapangan. Oleh karena hal itulah program KOTAKU sedikit menitikberatkan perencanaan  tahun 2018 pada pemenuhan Akses Air Bersih bagi masyarakat.

“Dana BDI yang masuk tahun 2018 jumlahnya lebih besar dari tahun sebelumnya, angkanya mencapai 13.5 Milyar untuk 15 desa. oleh karenanya dana tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya bersandar pada kebutuhan masyarakat dan program. Melihat kebutuhan itu salah satunya adalah kebutuhan akses Air Bersih bagi masyarakat. Maka pada tahun ini program KOTAKU telah membangun sebanyak 47 titik Sumur Bor beserta Tower yang tersebar di 12 (dua belas) desa penanganan yaitu; Blang Punteut, Ujong Blang, Mon Geudong, Ulee Blang Manee, Kampung Jawa Lama, Keude Aceh, Mesjid Punteut, Batuphat Barat, Blang Pulo, Pusong Lama, Pusong Baru, Meunasah Mesjid,”.

“Pembangunan sumur bor tersebut telah rampung pada bulan desember 2018 dan masyarakat sudah mulai memanfaatkanya, kemudian dengan dilakukannya pembangunan sumur bor tersebut, maka angka permasalahan Air Bersih pada akhir tahun 2018 menyisakan 12.26% lagi, dan akan dituntaskan pada tahun 2019 melalui dana kolaborasi dan BDI T.A 2019”tandasnya.

Ist

Dengan rampungnya pembangunan Sumur Bor pada Desember 2018 yang dibangun melalui program KOTAKU kucuran dana BDI T.A 2018 manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Semisal Nurjannah, ibu paruh baya yang berstatus janda di Gampong Mesjid Punteut ini memiliki keterbatasan ekonomi sehingga banyak kebutuhan dalam keluarga tidak dapat dipenuhinya, ia sudah lama mengharapkan adanya akses terhadap sumber Air yang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Biasanya untuk memenuhi kebutuhan Air Bersih, sehari-hari Janda dua anak ini terpaksa harus menggunakan air yang bersumber dari sumur gali yang kondisi airnya berwarna kuning, sangat tidak layak digunakan untuk memasak makanan apalagi diminum.

“Saya sangat berterimakasih dengan adanya Program KOTAKU dan pihak terkait yang telah memenuhi akses Air Bersih bagi kami, sehingga kami bisa memasak dan mencuci dengan air yang lebih layak” ujar Rani warga lainnya.