Home / ACEH / 265.320 Pohon Sawit Ditebang di Aceh

265.320 Pohon Sawit Ditebang di Aceh

Pohon kelapa sawit yang ditebang di kawasan hutan lindung di pinggiran DAS Sungai Alas-Singkil (Lae Soraya) di Subulussalam, Provinsi Aceh, Kamis (10/1/2019). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, SUBULUSSALAM – Kerusakan hutan di Aceh saban hari terus terjadi tanpa henti. Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang termasuk kawasan yang dilindungi pun tak luput dari tangan-tangan rakus manusia baik itu karena perambahan maupun pembalakan liar. Deforestasi terus menyusutkan luas hutan Aceh, padahal hutan Aceh merupakan salah satu aset paling penting bagi dunia khususnya bagi Aceh. Selain sebagai paru-paru dunia, Leuser juga menampung serta mengaliri 12 Daerah Aliran Sungai (DAS) ke seluruh Aceh dan menjadi sumber air bagi manusia.

Leuser juga menjadi tempat yang sangat nyama 265.320 Pohon Sawit Ditebang di Aceh bagi keberlangsungan hidup flora dan fauna endemik yang keberadaannya kian langka dijumpai di alam bebas. Lebih dari 3.500 jenis fauna bisa dijumpai di daerah ini, bahkan yang paling langka mulai dari tumbuh-tumbuhan, jenis burung, reptil, amphibi, ikan, mamalia dan karnivora.

Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 190/Kpts-II/2001 menyatakan bahwa KEL memiliki area seluas 2.255.577 ha, berada di 14 Kabupaten dan Kota yang ada di Aceh serta untuk Provinsi Sumatera Utara melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No.10193/Kpts-II/2002, mencakup area seluas 384.294 ha.

Direktur Forum Konservasi Leuser (FKL) Rudi Putra mengatakan, hutan Aceh yang telah rusak atau mengalami deforestasi seluas 2.778 ha telah berhasil mengalami pemulihan atau restorasi yang tersebar di beberapa daerah diantaranya Aceh Tamiang, Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Subulussalam.

Lahan kelapa sawit yang ditebang di kawasan hutan lindung di pinggiran DAS Sungai Alas-Singkil (Lae Soraya) di Subulussalam, Provinsi Aceh, Kamis (10/1/2019). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Restorasi pertama kali dikatakan Rudi dilakukan oleh BPKEL di Aceh Tamiang seluas 800 ha. Hingga awal 2019 FKL telah merestorasi 1.200 ha kebun sawit di Aceh Tamiang yang masuk hutan lindung di Kawasan Ekosistem Leuser.

“Jika ditotal secara keseluruhan, jumlah sawit yang telah ditebang mencapai 265.320 batang di seluruh Aceh dengan asumsi 1 ha ditanami 120 sawit,” kata Rudi usai memantau proses restorasi 21 ha sawit di Lae Soraya, Subulussalam, Kamis (10/1/2019).

Rudi menjelaskan, restorasi yang sering dilakukan FKL dengan cara menebang sawit bukan berarti pihaknya menentang atau anti terhadap tumbuhan kelapa sawit.

Kawasan Ekosistem Leuser sejatinya adalah harta dunia dan menjadi salah satu hutan hujan utuh paling penting yang tersisa di dunia. Terbukti, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada di inti KEL telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Lahan kelapa sawit yang ditebang di kawasan hutan lindung di pinggiran DAS Sungai Alas-Singkil (Lae Soraya) di Subulussalam, Provinsi Aceh, Kamis (10/1/2019). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

“Kami hanya berusaha untuk melindungi dan menyembuhkan hutan dan memang hutan yang paling banyak rusak karena berubah jadi kebun sawit,” jelasnya.

Selain dijuluki sebagai ibukota Orangutan dunia karena kepadatan populasinya, Kawasan Ekosistem Leuser juga menjadi rumah bagi tiga rawa gambut yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan karbon paling kaya di dunia yakni Rawa Tripa, Rawa Kluet dan Rawa Singkil.

Hutan-hutan rawa gambut yang basah ini selain menyerap air saat banjir karena lahan gambut bersifat layaknya spon, juga berfungsi menangkap sebagian besar karbon dari atmosfer dan menyimpannya dengan aman di bawah tanah.

Aceh dengan luas wilayah 5.677.081 hektar, dikatakan Rudi memiliki luas hutan lebih dari setengah wilayah yaitu 3.050.316 hektare pada 2015. Namun, hutan Aceh mengalami deforestasi seluas 38.392 hektar sehingga hanya tersisa 3.011.924 hektar pada tahun 2017.

“Jumlah itu belum termasuk hutan yang rusak pada periode Januari-Juli 2018 seluas 3.290 ha. Periode kedua sedang kita hitung jumlahnya,” pungkasnya.

Baca Juga: Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Kian Kritis

FKL Inisiasi Gerakan Sekolah Hijau di Pedalaman Aceh Tamiang

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil