Home / BERITA TERBARU / Islam Simbolik Vs Islam Maslahat

Islam Simbolik Vs Islam Maslahat

Foto: Istimewa.

Oleh: Dr. Sri Yunanto (Ketua Umum Majelis Dakwah Kebangsaan)

Reuni Akbar 212 pada tanggal 2 Desember 2018 yang dihadiri puluhan hingga ratusan ribu umat Islam telah selesai. Misi dari reuni itu disebut awal adalah untuk silaturahmi umat Islam mengenang gerakan Islam yang menuntut gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipidanakan karena tuduhan penistaan agama.

Misi itu berhasil. Ahok masuk penjara sampai dengan reuni akbar ini dilaksanakan Puluhan ribu umat Islam dengan bersemangat menggunakan simbol pakaian putih topi putih membawa bendera bertuliskan kalimat Tauhid.

Panitia reuni awalnya mengaku bahwa perhelatan itu tidak punya misi politik. Tapi faktanya sebagian besar kalau tidak hampir semua dari tokoh-tokoh Partai Politik dan tokoh-tokoh Islam pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno seperti Amin Rais, Zulkifli Hasan dari PAN, Prabowo Subianto, Fadli Zon dari Gerindra, Hidayat Nurwahid, M Sohibul Iman dari PKS dan tokoh lainnya.

Intinya mereka membawa semangat Islam dan simbol Islam untuk tujuan politik yaitu memenangkan pasangan Prabowo Sandi walaupun misi ini tidak diucapkan tapi diimplementasikan di lapangan.

Pada awalnya saya mendengar bahwa Presiden Jokowi akan diundang oleh panitia untuk hadir dalam acara tersebut. Belakangan undangan ke Presiden Jokowi dibatalkan oleh panitia. Versi panitia pembatalan tersebut karena fatwa Habib Riziek Shihab di Arab Saudi. Informasi lain menyebutkan bahwa pembatalan undangan presiden Jokowi karena intervensi pihak sponsor acara yang tidak berkenan dengan kehadiràn Jokowi.

Padahal Jokowi adalah seorang Muslim sejak lahir dan telah menunjukkan keislamannya sebagai pribadi maupun kepala negara. Beliau rajin silaturahmi dengan ulama pesantren membela Palestina, Rohingya dan mendorong Islam Washathiyah (moderat).

Tapi saya sadar akhirnya bahwa tokoh-tokoh yang hadir mempunyai posisi politik yang berbeda. Padahal sebenarnya Presiden Jokowi dan KH Ma’ruf Amin juga sebagai alumni 212 . Beliau pada waktu gerakan 212 pada tahun 2016 hadir di Monas bersama beberapa tokoh-tokoh yang hadir.

Saya kemudian mencari cari dimana Presiden Jokowi pada saat Reuni Akbar 212 ini. Ternyata saya melihat di TV pada tanggal 2 Desember 2018 Presiden Jokowi memberikan 60 ribu sertifikat sambungan listrik gratis kepada masyarakat Jawa Barat yang tidak mampu.

Sebelumnya pada tanggal 1 Desember Presiden memberikan Kado status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang setara dengan Pegawai Negeri.

Sebagai seorang Muslim yang menjadi kepala negara, saya percaya bahwa tindakan presiden Jokowi dijiwai oleh ajaran Islam yaitu memberikan kemaslahatan kepada orang banyak 60 ribu penduduk Jawa Barat dan ribuan Guru Honorer yang menerima P3K.

Jadi pada tanggal 1 dan 2 Desember 2018 ini kita menyaksikan 2 Fenomena. Pertama puluhan ribu alumni 212 yang membawa simbol Islam untuk tujuan politik pragmatis memenangkan paslon Capres dan Cawapres dan Presiden Jokowi yang juga alumni 212 juga yang memberikan kemaslahatan kepada puluhan ribu penduduk Jawa Barat.

Apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi itu sejalan dengan pernyataan ketua umum Pimpinan Muhammadiyah pada tgl 2 Desember 2018 saat dilaksanakan Reuni 212 . “Demo itu hak demokrasi setiap warga bangsa. Namun Indonesia jika ingin maju sungguh memerlukan intensitas kerja kerja keilmuan dan aksi produktif yang membawa keunggulan merebut masa depan”.

Pada tanggal 2.12 presiden Jokowi sebagai kepala negara tidak menginstrusikan untuk melarang kegiatan berkumpul alumni menyatakan pendapat alumni 212 karena itu hak demokrasi.

Sementara itu beliau fokus untuk kerja kerja memberikan maslahat kepada orang banyak untuk Indonesia yang modern dan berkemajuan.

Baca Juga: Ada Awan Mirip Lafaz Allah Saat Reuni 212 di Monas

Reuni 212 Cerminan Persatuan Umat Islam

Reuni 212 Berkah bagi Perekonomian Jakarta