Home / BERITA TERBARU / Garuda Indonesia Ambil Alih Sriwijaya Air

Garuda Indonesia Ambil Alih Sriwijaya Air

(Foto: flightsnation.com)

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) melalui anak usahanya Citilink Indonesia mengambil alih pengelolaan keuangan dan operasional Sriwijaya Air dan NAM Air. Meski demikian, pengambilalihan tersebut tidak mengubah kepemilikan pemegang saham Sriwijaya Air.

Direktur Utama PT Sriwijaya Air, Chandra Lie mengatakan, kerja sama operasional (KSO) biasa dilakukan. Dengan ada kerja sama tersebut juga tidak mengubah kepemilikan saham.

“Kepemilikan saham Sriwijaya Air Group tidak berubah masih dimiliki pemegang saham saat ini 100 persen,” kata Chandra dikutip dari Liputan6.com, Senin (19/11/2018).

Disebutkannya, kerja sama tersebut baik untuk mengangkat image merek grup Sriwijaya Air. Diharapkan dapat membuat maskapai menjadi maju, modern dan berkelanjutan bersama grup Garuda Indonesia.

Sebelumnya, Komisaris Utama PT Garuda Indonesia Tbk Agus Santoso mengatakan, KSO juga diharapkan dapat meningkatkan aspek dari sisi pemeliharaan maskapai (maintenance).

Lewat penandatanganan KSO itu, keseluruhan operasional Sriwijaya Air Group, termasuk keuangan akan berada di bawah pengelolaan dari KSO ini.

“Keuangan mereka kurang sehat. Tapi walaupun Sriwijaya LCC, track record keselamatannya bagus. Airline yang bagus perlu diselamatkan, caranya ya KSO ini, supaya maintanance,” tutur dia di Jakarta, Kamis 15 November 2018.

“Jadi selain Garuda melakukan amanah dengan melayani, namun juga memberikan rangsangan kepada industri-industri lain untuk melakukan hal yang sama,” tambah dia.

Sementara itu, VP Corporate Secretary PT Garuda Indonesia Tbk, Ikhsan Rosan menuturkan, kerja sama joint operation itu bertujuan untuk mengembangkan potensi masing-masing maskapai.

“Kaitan sama KSO ini poin bagusnya adalah untuk mengembangkan potensi masing-masing,” ujarnya.

Ikhsan menegaskan, KSO tidak hanya melihat aspek utang semata dari pihak Sriwijaya Air.

“Kita enggak hanya melihat itu (utang) industri penerbangan. Memang harus kita kerja sama karena potensi ke depan semakin besar,” kata Ikhsan. []