Home / BERITA TERBARU / We Are The Champions

We Are The Champions

Oleh Ari Askhara  [CEO Garuda Indonesia]

 

KLIKKABAR.COM, JAKARTA –  Sabtu KemarIn Saya menonton Bohemian Rhapsody Queen dan di akhir film disajikan lagu “We are the Champions” yang membuat semua penonton bergidik kagum dan bangga mengingat semua momentum kejayaan masing-masing pribadi dan tentunya band Queen itu sendiri.

Setelah menonton film itu,  saya membayangkan kondisi di masa tahun 1960-2000 di mana semua orang hanya tahu satu Airline yang mumpuni yaitu Garuda Indonesia.

Jelas sekarang sudah berbeda. Kita sekarang harus berjuang di tengah sesaknya persaingan baik domestik dan terlebih International.

Industri penerbangan terkenal sangat kompetitif, terlebih banyaknya pemain baru, rendahnya loyalitas penumpang dan rentan nya perusahaan atas kenaikan biaya fuel dan depresiasi mata uang.

Tapi apakah benar hal-hal menakutkan itu terjadi di semua perusahaan Airline? Tidak juga, kita lihat Southwest, salah satu perusahaan penerbangan di Amerika Serikat. Dalam kurun waktu 1973-2003 mereka menjadi perusahaan yang memberikan return on investment (ROI) terbesar mengalahkan GE, Walmart bahkan IBM.

Dalam hal incident pesawat, mereka bukan merupakan perusahaan yang selalu “lucky” yang tidak pernah mendapatkan musibah, contohnya pada April 2018, pesawat dengan rute New York-Dallas mengalami kecelakaan di mana terjadi ledakan kipas angin turbin sehingga menyebabkan salah satu jendela pesawat lepas dan memakan korban 1 penumpang.

Setelah kejadian itu bukan cercaan yang didapat namun pujian dari masyarakat karena penanganan oleh pilot dan air crew yang tenang terhadap kepanikan penumpang, ditambah penanganan di darat setelah kejadian cukup memuaskan penumpang dan keluarganya.

Setelah kecelakaan tersebut dari wawancara air crew didapat bahwa ketenangan mereka didapat dari pembentukan Culture Perusahaan yang sangat kuat yaitu  servant heart  dan rasa kebersamaan, di mana Captain Tammy Jo Shults (Capt pada penerbangan tersebut) dan air crew mendatangi setiap penumpang dan memastikan setiap penumpang dalam keadaan selamat.

Pembentukan Culture yang kuat tersebut tentunya didapat dari berbagai proses dengan salah satunya pembentukan departemen Culture yang memastikan budaya perusahaan benar-benar di implementasikan.

Kembali ke Garuda Indonesia, apakah kita bisa mengulangi kejayaan seperti tahun 1960-2000an?  Bersama kita pasti bisa, dengan rasa kebersamaan dan melayani dengan hati, Saya yakin itu hanya masalah waktu untuk mendapatkan nya kembali.

Selain itu kita perlu meningkatkan terus standard safety dan service kita. Kalau kita mau belajar bagaimana menerapkan standar perlu belajar dari Starbuck Coffee. Mereka menerapkan standar yang kuat di mana pelayanan di Starbuck New York tidak berbeda dengan pelayanan di Starbuck Yogyakarta atau Starbuck di Ciamis (ada gak ya di Ciamis?)

Ada 3 prinsip kita sebagai individu harus selalu terapkan, khususnya menghadapi zaman now dan penuh dengan disruption ini;

Pertama, kita harus sadar kita sendiri yang harus menjadi subjek karier dan kehidupan bukan atasan, orang lain atau alat canggih di sekitar kita. Kita harus terus menjalani rasa keingintahuan yang tinggi sehingga kita bisa terus menambah kapasitas dan value kita di perusahaan. Selalu belajar dan mencoba hal baru, akan membuat kita berbeda dan mempunyai nilai lebih dari sekitar kita.

Kedua, kita tidak boleh terjebak dalam konsep pilihan tunggal, kita harus selalu membuat plan B dan C dengan keyakinan pilihan plan ini bisa diimplementasikan.

Tidak ada satu solusi yang sama untuk semua keadaan, oleh karena itu kita harus menjadi manusia yang rakus akan pengalaman sehingga kesempatan lebih terbuka dan kemungkinan untuk mendapatkan solusi akan lebih banyak. Buatlah skenario-skenario sehingga kita tidak kecewa bila satu skenario tidak tercapai.

Ketiga, my network is my net worth, bahwa setiap individual tidak bisa lagi menyepelekan pertemanan, hubungan interpersonal dan hubungan kekeluargaan. Karena dari hubungan ini kreativitas, kesamaan tujuan dan kolaborasi di hidupkan untuk menciptakan sinergi dan energi yang besar bagi perusahaan.

Kita harus bisa “bounce back” atas kegagalan-kegagalan dan kesalahan-kesalahan  yang telah kita buat, berani berubah dan berbuat serta menciptakan New Normal (sesuatu yang baru namun bisa menjadi satu trend/kebiasaan). Kita tidak bisa lagi hanya diam dan akhirnya mati.

So bisa kah kita kembali menyanyikan We Are The Champions dan mengulang kejayaan kita dulu?

…and bad mistakes, I’ve made a few

I’ve had my Share of sand kicked in My face

But I’ve come through …

 

We are the champion my friends

We’ll keep fighting till the end….

 

One Family, One Nation, One Garuda Indonesia !