Home / ACEH / Jembatan Penghubung Kecamatan Kaway XVI ke Pante Ceureumen Runtuh

Jembatan Penghubung Kecamatan Kaway XVI ke Pante Ceureumen Runtuh

Ilustrasi | Merdeka

KLIKKABAR.COM – Jembatan Ulee Raket yang berkonstruksi rangka baja menghubungkan Kecamatan Kaway XVI-Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat runtuh karena terseret arus sungai yang deras, Senin dini hari.

Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, Maimun, di Meulaboh, Senin, mengatakan kondisi  jembatan itu sudah lama rusak dan terus tergerus derasnya air sungai. Namun tidak ada korban dalam kejadian itu.

“Penanganan darurat tidak bisa kita lakukan karena jembatan itu panjang dan secara fisik memang sudah tidak bisa digunakan lagi oleh masyarakat. Apalagi sudah ada garis polisi yang menandakan sudah tidak boleh dilintasi,” katanya.

Jembatan Ulee Raket sepanjang 150 meter itu berada di wilayah Desa Sawang Teubee, Kecamatan Kaway XVI yang menghubungkan  Pante Ceureumen.

Sebelum jembatan itu runtuh, kondisi badan jalan di abutment  (bangunan bawah jembatan yang terletak pada kedua ujung pilar jembatan) hanya tersisa sekitar 2,5 meter. Sudah beberapa kali mobil jatuh ke bawah tebing jembatan itu.

Jhon Sabri, warga Pante Ceureumen, menyampaikan bahwa saat ini warga harus menggunakan jalur alternatif atau jembatan gantung lewat Desa Pasie Jeumpa sehingga membutuhkan jarak tempuh yang lumayan jauh.

“Warga yang hendak menuju Kecamatan Pante Cereumen atau dari Pante Cermen tujuan ke Meulaboh harus melewati jalan alternatif jembatan gantung di desa lain, atau pun lewat jalan lingkar dari Kecamatan Meureubo,” katanya.

Warga Desa Sawang Teubee sudah sering melakukan upaya perbaikan darurat secara swadaya. Malahan pernah menanam pohon pisang di atas abutment jembatan yang sudah berlubang itu sebagai tanda, untuk menghindarkan warga dari kecelakaan.

Akan tetapi, usaha warga setempat hanya sebatas menekan risiko para pelintas terjatuh ketika lewat, terutama pada malam hari, mengingat jembatan tersebut urat nadi transportasi masyarakat dari desa ke kota.

Berdasarkan informasi, sudah beberapa kali dilakukan pengusulan kepada pemerintah terkait untuk membangun lagi konstruksi jembatan. Pada dua tahun lalu pernah dilakukan pembangunan tebing dan abutment,  tetapi tidak efektif karena kondisi sungai yang deras terus menggerus.

Banyak pula warga setempat berkomentar tentang perlunya pemindahan lokasi jembatan ke tempat lain yang lebih aman atau alur sungainya yang diluruskan. (antara)