Home / ACEH / Saksi Ahli: Gajah Bunta Mati Akibat Diracun

Saksi Ahli: Gajah Bunta Mati Akibat Diracun

drh Taing Lubis, MM, saat memberikan keterangan dalam sidang lanjutan kasus Bunta di PN Idi, Rabu (7/11). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Aceh Timur menghadirkan saksi ahli dalam sidang lanjutan kasus kematian gajah Bunta di Pengadilan Negeri Idi, Rabu (7/11/2018).

Sekadar diketahui, saksi ahli adalah orang yang pendapatnya berdasarkan pendidikan, pelatihan, keterampilan atau pengalamannya, dapat dipertimbangkan oleh majelis hakim.

Dalam sidang yang diketuai oleh Irwandi, SH dan hakim anggota Khalid, SH serta Andy Efendi, SH, Rabu (7/11/2018), JPU yang terdiri dari Muliana, SH, Edi Suhadi, SH dan Fajar Adi Putra, SH, menghadirkan saksi ahli drh Taing Lunis, MM, dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Baca: 3 Saksi dan Gading Bunta Dihadirkan di Persidangan

Dalam keterangannya, Taing Lubis menyatakan bahwa kematian gajah Bunta yang sebelumnya ditempatkan di Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, diduga kuat akibat diracun.

“Berdasakan hasil uji Laboratorium Forensik (Labfor), gajah bunta yang mati di CRU Serbajadi, akibat menelan racun. Didalam perutnya juga ditemukan buah-buahan yang diduga menjadi perantara racun,” katanya.

Bahkan buah jenis yang sama juga ditemukan disisi bangkai gajah bunta. Hasil uji labfor, didalam organ dalam bangkai gajah saat nekropsi juga ditemukan benda asing sejenis pestisida.

Baca: Bunta, Gajah Jinak Sumatera Dibunuh di Aceh Timur

“Tidak mungkin didalam hutan ada pestisida dan disekitar bangkai gajah juga tidak ditemukan tanaman pisang dan kuini,” jelasnya.

Dua terdakwa, BW dan AL, terlihat hanya duduk mengikuti proses persidangan. Keduanya tidak memberikan komentar apapun. AL ikut didampingi penasehat hukum yakni Tgk. Indra Kusmera, SH.

Keduanya didakwa bersalah melanggar Pasal 21 ayat (2) huruf a jo Pasal 40 ayat (2) UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan ancaman pidana penjara lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Baca Juga: Dua Pembunuh Bunta Ditangkap

YARA: Bongkar Sindikat Pembunuh Bunta

7 Fakta Bunta, Gajah Jinak yang Mati di Aceh Timur