Home / ACEH / PSSI Diduga Tunggak Rp1,5 Miliar Tsunami Cup 2017

PSSI Diduga Tunggak Rp1,5 Miliar Tsunami Cup 2017

Pemain Timnas Indonesia, Osvaldo Haay mencoba melepaskan diri dari pemain Kirgizstan dalam lanjutan AWSC 2017 di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Rabu (6/12/2018). (Muhammad Fadhil/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – PSSI diduga masih menunggak Rp1,5 miliar pembagian hak siar turnamen internasional bertajuk Aceh World Solidarity Tsunami Cup (AWSC) 2017.

Ketua Panitia Pelaksana Tsunami Cup 2017, Sa’dan Abidin dikutip dari CNN Indonesia, menyebut PSSI baru membayar Rp500 juta dari total pembagian hak yang disepakati sebesar Rp2 miliar.

Seperti diketahui, turnamen internasional itu diikuti oleh empat negara di Asia. Mereka adalah Kirgyzstan, Mongolia, Brunei Darussalam, dan tuan rumah Indonesia.

Dalam turnamen setengah kompetisi ini, Kirgyzstan keluar sebagai juara setelah mengalahkan Indonesia dengan skor 1-0 pada laga terakhir.

Sementara tuan rumah Indonesia harus puas berada di posisi runner up. Turnamen ini disiarkan secara langsung oleh RCTI (MNC Group).

“Iya benar. Kami hampir satu tahun menunggu realisasi pelunasan hak siar yang dijanjikan PSSI,” kata Sa’dan Abidin, Selasa (6/11/2018).

Kata Sa’dan, pihak panitia kecewa karena tak ada tanggapan sama sekali dari PSSI. Padahal, pihaknya sudah dua kali menyurati PSSI.

Surat pertama dilayangkan panitia pada 8 Juni 2018 ke PSSI melalui Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria, namun tak mendapatkan respons. Panitia Tsunami Cup kemudian kembali mengirim surat kedua pada 18 Oktober 2018 dan kembali tak berbalas.

“Terkait dengan surat yang kami terima dari PSSI dengan nomor : 3833/UDN/2312/XII-2017 tertanggal 20 Desember 2017 perihal : Surat Pemberitahuan Pembagian Hak Siar untuk Turnamen Tsunami Cup 2017 yang ditandatangani oleh Ibu Ratu Tisha selaku Sekretaris Jenderal PSSI.”

“Bahwa sampai saat ini PSSI baru melakukan pembayaran sebesar Rp500 juta dari total kewajibannya sebesar Rp2 milyar, dan masih menyisakan hutang pembayaran Hak Siar tersebut sebesar Rp. 1,5 Milyar yang belum kami terima hingga saat ini,” demikian isi surat kedua tersebut per tanggal 17 Oktober 2018. []