Home / BERITA TERBARU / 5 Motivator Termahal Indonesia, Tarif Rp 150 juta/Jam

5 Motivator Termahal Indonesia, Tarif Rp 150 juta/Jam

KLIKKABAR.COM, JAKARTA – Nasihati orang, tapi dibayar ratusan juta rupiah. Itulah kerja motivator yang jago orator dan menulis buku. Berikut ini 5 motivator Indonesia seperti dikutip dari smartmoney, Selasa (16/10/2018).

1. Mario Teguh

Belasan tahun namanya sangat terkenal di seantoro Indonesia. namun dalam beberapa tahun namanya redup karena kasus keluarganya. Tarif motivator pada 2016 mencapai Rp 150 juta/jam, minta fasilitas tiket pesawat bisnis, jemputan dengan Alphard, kamar hotel presidential suite. Namanya makin terkenal sebagai motivator ketika dia sering muncul di MetroTV, yaitu Mario Teguh Golden Ways.

2. Bong Chandra

Bong Chandra adalah motivator termuda yang lahir pada tahun 1987. Saat SMA, dia memutar otak mencari peluang usaha baru. Alhasil, Bong Chandra jualan parfum yang dia beli dari toko-toko kecil di dekat rumah. Selain parfum, dia juga menjual baju, dan seragam yang diproduksi di Bandung.

Pria yang terkenal santun ini memulai usaha event organizer (EO) ketika duduk di bangku kuliah. Akan tetapi, bisnis EO itu berfokus pada kegiatan training motivasi. Dan, bukan rahasia lagi kalau Bong Chandra memang pandai berbicara.

Lambat laun, EO yang didirikannya makin besar, dan Bong dinobatkan seabgai Motivator Termuda di Asia pada tahun 2010.

3. Merry Riana

Kisah motivator Indonesia yang satu ini bahkan pernah difilmkan. Film itu diperankan oleh Chelsea Islan, dan Dion Wiyoko. Ayah perempuan kelahiran 1980 ini adalah karyawan yang resign dari perusahaan karena ingin menjadi seorang entrepreneur.

Di tahun 1998, Merry gagal masuk Trisakti karena kerusuhan, orangtuanya memindahkannya ke Singapura dengan modal pas-pasan.

Di Singapura lah Merry mulai belajar hidup yang sesungguhnya, mengingat apapun serbamahal di negara tersebut. Sementara itu, uang saku yang dia bawa di sana gak banyak.

Merry bertemu Alva yang kini menjadi suaminya. Dan, Alva yang menggaransikan utang Merry untuk menjalankan studi. Usai lulus kuliah, Merry bekerja sebagai seorang sales asuransi demi melunasi utang pendidikannya yang berjumlah SG$ 40 ribu.

Berkat kerja kerasnya, Merry berhasil jadi manajer dan keberhasilannya itulah yang membuatnya menjadi figur muda dengan penghasilan besar yang merdeka finansial. Hal itulah yang memotivasinya mendirikan Merry Riana Organization (MRO) pada tahun 2004.

Alhasil, di usia yang masih 26 tahun, dia sudah bisa meraup uang US$ 1 juta! Itulah sebabnya dia kerap dipandang sebagai pengusaha sekaligus motivator tersukses di Indonesia. Saat ini, Merry bisa meraup belasan juta per jam .

4. Andrie Wongso

Motivator Indonesia kelahiran Malang, 1954 ini, tarifnya lumayan mahal. Kabarnya, mencapai Rp 75 juta untuk dua jam saja. Andrie Wongso lulusan SD! Waduh, gimana kalau audiensnya lulusan S1, S2, atau S3?

Tenang aja, pendidikan akademis itu juga gak menjamin seseorang bisa sukses di masa depan. Andrie justru punya kisah hidup yang luar biasa inspiratif bagi kita semua.

Pria yang pernah menyabet penghargaan The Best Motivator versi Kompas ini tak terlahir dari keluarga kaya. Semasa remaja, Andrie sudah kerja dengan jualan kue di pasar. Namun, di usianya ke-20, dia merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai salesman hingga pernah jadi pelayan toko.

Karier motivatornya dimulai ketika dia pulang dari luar negeri. Awalnya, Andrie cuma sering iseng menulis kata-kata mutiara ke dalam buku harian untuk memotivasi diri. Tapi, kata-kata itu malah menginspirasi temannya. Alhasil, dia memulai bisnis pertamanya, yaitu membuat kartu ucapan yang berisi kata mutiara.

5. Tung Desem Waringin

Nama Tung Desem Waringin (TDW) tentu gak asing di dunia motivator Indonesia. Sebagai motivator mahal yang pada 2013 dibayar Rp 100 juta per jam, TDW juga gak lahir dari keluarga kaya.
Kehidupan orangtua TDW memang cukup miris, mereka berbisnis kain dan sempat gagal membuka toko emas. Kelahiran TDW ke dunia ini ternyata dibantu oleh sanak saudaranya yang ikut patungan membayar biaya persalinan ibunda TDW.

Saat sembilan tahun, pria kelahiran Solo, 1967 ini diajari berbisnis dan ikut membantu toko orangtuanya. Namun, toko tersebut akhirnya bangkrut dan orangtuanya pun menangis.