Home / BERITA TERBARU / Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (4)

Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (4)

 

oleh Prof. Dr. dr. Mohd. Andalas, Sp.OG

Pengantar Redaksi: Redaksi klikkabar menurunkan pidato Mohd Andalas pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Dawood, MA.Kampus Unsyiah, Darussalam – Banda Aceh, Kamis, 27 September 2018

II.4 Imunologi Kehamilan Prematur
Dalam rangka menjaga dan mempertahankan kehamilan, respon imunitas manusia yang secara normalnya akan menghancurkan benda asing dalam tubuh akan membuat suatu pengecualian terhadap fetus. Sistem imun terdiri dari innate immunity dan adaptive immunity, peristiwa kehamilan akan memhubungani kedua sistem imun ini. Respon imun alami (innate immunity) melibatkan monosit, granulosit, sel mast, sel NK, komplemen dan protein fase akut (acute phase protein), komponen-komponen ini bertanggung jawab untuk memberikan respon segera terhadap patogen.

Sebaliknya, respon imun adaptif (adaptive immunity) yang terdiri dari sel T dan sel B bertanggung jawab atas respon yang lebih lambat namun sangat spesifik dan mempertahankan respon antiantigen. Kehamilan normal ditandai dengan berkurangnya sitokin proinflamasi TNF-α dan juga sitokin-sitokin Th-1 lainnya, IFN dan IL-2, dan meningkatnya sitokin-sitokin Th-2 seperti IL-4, IL-5 dan IL-10 (Cride et al, 2005)

Bukti-bukti ilmiah mendapatkan bahwa sel-sel innate immune system seperti neutrofil, makrofag dan sel mast memediasi proses kelahiran dengan mensekresi faktor proinflamasi seperti sitokin, kemokin dan MMP. Selain itu sel-sel adaptive immune system seperti sel T dan B juga berperan dalam menjaga toleransi fetomaternal selama kehamilan sehingga perubahan yang terjadi (termasuk yang disebabkan oleh hubungan genetik) atau jumlah yang tidak normal akan menyebabkan kelahiran prematur. Selain itu komponen yang menjembatani antara innate immune system dan adaptive immune system seperti sel natural killer (NK) dan sel dendritik (DC) juga berperan dalam kelahiran prematur.

Dalam review terbaru oleh Gomez-Lopez et al. (2014) disebutkan bahwa subset sel B memiliki hubungan yang erat dengan kehamilan. Misalkan sel B1 persentasenya pada perempuan hamil menurun selama kehamilan namun kembali ke ke proporsi normal setelah masa kehamilan berakhir. Sebaliknya, proporsi sel B2 tidak berubah selama kehamilan. Diketahui bahwa regulator sel B meningkat pada awal dan akhir kehamilan dan secara konstan memproduksi IL-10. Regulator sel B ini memegang peran penting dalam proses imunologikal toleransi fetomaternal sehingga kehadiran regulator ini pada masa kehamilan memiliki peran penting dalam mempertahankan kehamilan hingga masa kelahiran (Gomez-Lopez et al., 2014).

Penelitian mendapatkan bahwa sel B10 menekan sekresi TNF-α oleh sel T CD4+ selama kehamilan dan kondisi ini penting dalam meregulasi keadaan inflamasi sebelum kelahiran. Penelitian lain juga menemukan bahwa B sel yang diisolasi dari plasenta cukup bulan (term) menghasilkan IgG lebih tinggi yang diinduksi oleh IL-6, IL-10 dan IL-4 (Jensen et al., 2013). Oleh karena itu, keadaan abnormal (produksi terlalu tinggi atau rendah) pada beberapa sitokin derivat sel B dapat menyebabkan gangguan pada toleransi fetomaternal sehingga dapat menyebabkan kelahiran prematur (Gomez-Lopez et al., 2014).

Salah satu yang dapat memhubungani perubahan yang terjadi pada status inflamasi yang terjadi pada masa kehamilan sehingga dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur adalah infeksi seperti Bacterial vaginosis (BV). Bacterial vaginosis merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kelahiran prematur. Adanya BV dapat menyebabkan dilatasi servik.

Kehadiran bakteri akan merangsang pelepasan sitokin proinflamasi seperti TNF-α oleh makrofag, amnion, desidua dan miometrium (Holst et al., 2008). TNF-α seperti endotoksin yang dikeluarkan oleh bakteri Gram negatif akan meningkatan produksi prostaglandin, endotelin dan corticotropin releasing hormone (CRH) pada sel desidual, korionik dan sel amniotik. Prostaglandin dan endothelin akan merangsang kontraksi uterus. Disamping itu, TNF-α akan merangsang pelepasan IL-6 dari sel desidual dan sel korionik, merangsang pelepasan MMP dari sel korionik dan sel servikal yang akan mendegradasi matrik ekstraseluler segmen bawah uterus. Hal ini akan menyebabkan penurunan tekstur jaringan dan menyebabkan dilatasi servik pada saat terdapat tekanan pada uterus.

Pada saat terjadinya Bacterial vaginosis maka toll-like receptor (TLR) akan mengenali antigen bakteri penyebab BV dan menyebabkan sinyal kaskade yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi sitokin proinflmasi seperti TNF-α. Di sisi lain, sitokin antiinflamasi seperti IL-10 memegang peran penting dalam menghambat kaskade pro-inflamasi yang terjadi dan menghambat regulator downstream pada kaskade pro-inflamasi seperti TIMP dan PGDH sehingga berperan dalam mencegah terjadi kelahiran prematur. IL-10 juga memiliki fungsi dalam menurunkan IL-1β yang distimulus oleh LPS sehingga dapat menghambat induksi COX-2 dan pada akhirnya menurunkan prostaglandin 2 pada jaringan gestasional.

Selain itu, nampaknya, IL-10 dapat meningkatkan katabolisme prostaglandin oleh membran. Lebih lanjut IL-10 menghambat TNF-α dan IL-1β sehingga menurunkan ekspresi PGDH pada korion (Peltier, 2003). Dari bukti-bukti tersebut, SNP pada TNF-α dan IL-10 akan menghasilkan respon inflamasi yang terlalu lemah atau berlebihan sehingga memhubungani mortalitas dan morbilitas perinatal.

III. HARAPAN
Mengingat deteksi dini faktor risiko dari seorang ibu hamil yang berpotensi menimbulkan komplikasi baik dimasa kehamilan, persalinan dan pascasalin berupa perdarahan, hipertensi dalam kehamilan dan persalinan prematur sangat penting, maka disarankan peningkatan kualitas tenaga kesehatan reproduksi dijadikan prioritas utama oleh institusi terkait di kabupaten/ kota. Data menunjukkan faktor risiko penyebab kematian ibu dan kematian bayi tidak banyak berubah dari laporan sebelumnya seperti: perdarahan, hipertensi, infeksi dan partus lama. Maka saya berharap hal ini dapat terwujud seperti judul dari orasi ilmiah saya hari ini: PENINGKATAN KUALITAS TENAGA ILMU KESEHATAN REPRODUKSI DALAM UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN RISIKO PERSALINAN PREMATUR.

IV. PENUTUP
Universitas Syiah Kuala diharapkan dapat lebih berperan terkait pengembangan riset dalam bidang kesehatan reproduksi dengan fokus pada upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi dan berkiprah dalam skop nasional, regional dan internasional.

Penelitian yang dilakukan saat ini banyak dalam kasus klinik dan sebagian dalam biomolokuler dan dimasa depan diharapkan Unsyiah dapat menghasilkan karya penelitian yang berbasis sel dan dapat memberikan solusi dalam upaya menurunkan kasus morbiditas dan mortalitas bidang kesehatan reproduksi khususnya bidang maternal.

Harapan saya dan kita semua bagian obstetri dan ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala yang telah menjadi sentra ke 14 pusat pendidikan spesialis Obstetri dan Ginekologi di Indonesia dapat menjawab tantangan masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Propinsi Aceh secara khusus dan Indonesia secara umum sehingga dapat menurunkannya sesuai harapan Sustainable Development Goals (SDGs) yakni 70 pada akhir tahun 2030.

Melalui proses pembelajaran ilmu kesehatan reproduksi terkait faktor risiko penyebab kematian ibu bagi mahasiswa strata satu/ dokter dan strata pasca/ program pendidikan dokter spesialis (PPDS) obsteri dan ginekologi.