Home / BERITA TERBARU / Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (3)

Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (3)

 Oleh Prof. Dr. dr. Mohd. Andalas, Sp.OG

 

Pengantar Redaksi: Redaksi klikkabar menurunkan  pidato Mohd Andalas pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar  dalam Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi pada Fakultas Kedokteran  Universitas Syiah Kuala di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Dawood, MA.Kampus Unsyiah, Darussalam – Banda Aceh, Kamis, 27 September 2018

 

II.3 Faktor Risiko Kelahiran Prematur

Banyak faktor risiko yang berperan pada kelahiran prematur diantaranya faktor maternal, faktor fetus, faktor paternal, faktor lingkungan dan faktor genetik (Murphy, 2007).

II.3.1 Faktor Maternal

Faktor maternal yang berhubungan terhadap kelahiran prematur adalah demografik, riwayat obstetrik dan pengobatan yang didapatkan selama kehamilan. Perbedaan ras dan etnik memperlihatkan hubungan yang bermakna terhadap kelahiran prematur dari berbagai penelitian yang dilakukan (Heaman et al., 2005; Simhan dan Bodnar, 2006; Baker dan Hellerstedt, 2006). Peningkatan berat badan ibu yang rendah selama kehamilan berhubungan dengan kelahiran premarur (Dietz et al., 2006). Aktivitas ibu terlalu banyak (Misra et al., 1998), kesehatan fisik ibu saat mengandung (Haas et al., 2005), umur ibu di bawah 18 tahun (Da Silva et al., 2003) dan terdapatnya penyakit menular seksual (PMS) saat mengandung (Eure et al., 2002) meningkatkan risiko kelahiran prematur. Selain itu, riwayat obstetrik terdahulu seperti riwayat kelahiran prematur (Anath et al., 2006), riwayat keguguran (Buchmayer et al., 2004; Weiss et al., 2004), waktu antara kelahiran yang kurang dari 12 bulan (Hsieh et al., 2005), amniosintesis pada trimester ke-2 (Medda et al., 2003) juga meningkatkan risiko kelahiran prematur.

II.3.2 Faktor Fetal

Jenis kelamin bayi yang dikandung laki-laki, fertilisasi secara in vitro dan kehamilan kembar meningkatkan risiko kelahiran prematur (Murphy, 2007).

II.3.3 Faktor Paternal

Penelitian yang dilakukan pada penduduk mendapatkan bahwa umur ayah yang terlalu tua meningkatkan frekuensi kelahiran prematur (Murphy, 2007).

II.3.4 Faktor Lingkungan

Perubahan keseimbangan flora vaginal, peningkatan jumlah Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae (Carey dan Klebanoff, 2005), Bacterial vaginosis (Leitich et al., 2003, Romero et al., 2004) meningkatkan angka kelahiran prematur. Selain itu infeksi periodontal kronik juga disebutkan berhubungan dengan peningkatkan angka kelahiran prematur (Offenbacher et al., 2006). Tingkat sosial ekonomi yang rendah (Fairley dan Leyland, 2006), tingkat pendidikan yang rendah (Grjibovski et al., 2005), adanya kekerasan fisik (Covington et al., 2001), stres (Wadhwa et al., 2001) serta ansietas dan depresi (Dayan et al., 2002) selama kehamilan juga memiliki hubungan dengan kelahiran prematur.

 

Wanita yang mengkonsumsi alkohol (Parazzini dan  Benzi, 2003; Albertsen et al., 2004), rokok (Nabet et al., 2005; Kyrklund et al., 2005), dan kokain (Bada et al., 2005) juga lebih sering mengalami kelahiran prematur. Nutrisi wanita hamil juga memiliki hubungan terhadap kelahiran prematur, kekurangan multivitamin saat hamil lebih meningkatkan angka kelahiran prematur (Vahratian et al., 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Olsen dan Secher (2002) menemukan bahwa konsumsi seafood pada saat kehamilan merupakan faktor protektif terhadap kelahiran prematur.

 

Faktor lingkungan lain yang dapat meningkatkan kelahiran prematur adalah polusi udara seperti nitrogen oksida (NO) (Maroziene  dan Grazuleviciene, 2002) dan sulfur dioksida (Sagiv et al., 2005). Peningkatan NO sebesar 10µg/m3 meningkatkan 25% faktor risiko terhadap kelahiran prematur (Maroziene dan Grazuleviciene, 2002).

 

Meskipun penyebab pasti timbulnya kelahiran prematur pada setengah total kasus masih tidak diketahui, infeksi dipandang sebagai penyebab yang berperan penting pada terjadinya kelahiran prematur. Bukti-bukti mikrobiologis menunjukkan bahwa infeksi berkontribusi pada 25% kelahiran prematur, dengan angka kolonisasi bakteri sebanyak 79% kasus pada kelahiran di usia 23 minggu gestasi (Onderdonk et al. 2008), dan 11% pada kelahiran di usia 31-34 minggu gestasi (Watts et al. 1992). Pada sebagian besar kasus persalinan prematur, infeksi intrauterin tidak terbukti secara klinis (Watts et al.1992; Romero et al. 1989; Goldenberg et al. 2000).

 

Bagaimanapun, sering dijumpai adanya bukti histologi terjadinya inflamasi di decidua, membran fetal atau tali pusar. Kita dapat mengambil 2 kesimpulan dari fenomena ini, yaitu: (1) inflamasi dapat menggambarkan adanya aktivasi awal dari kaskade persalinan normal, dimana mediator-mediator pro-inflamasi seperti sitokin dan prostanoid terinduksi; (2) inflamasi yang terjadi menunjukkan bahwa terjadinya infeksi lokal atau sistemik yang tidak muncul pada hasil kultur standar cairan amnion (Smith, 2007; Cassell,1993).

 

II.3.5 Faktor Genetik

Banyak gen yang memiliki hubungan dengan kelahiran prematur selain gen TNF-α dan IL-10 adalah gen metiltetrahidrofolat reduktase (Valdes et al., 2004), dihidrofolat reduktase (Johnson et al., 2005), VEGF (Papazoglou et al., 2004), MMP (Wang et al., 2004; Vasku et al., 2004; Orsi et al., 2007), gen PAI-2 (Gibson et al., 2007), gen AGT (Valdes et al., 2007), IFN-γ (Moura et al., 2009), reseptor β2 adrenergik (Landau et al., 2002). Disamping itu, SNP gen faktor Leiden V, faktor VII, faktor XIII dan protrombin juga memiliki hubungan dengan frekuensi kelahiran prematur (Hartel et al., 2005). SNP gen sitokrom P450IA1 (CYP1A1), glutathione S-transferase µ 1 (GSTM1) (Suh et al., 2008), gen toll like receptor (TLR) (Lorenz et al., 2002) dan gen inhibitor kompetitif IL-1 (Genc et al., 2004) juga berhubungan dengan terjadinya kelahiran prematur.

 

Sebuah penelitian menghubungkan SNP IL-4 yang terdapat pada urutan nukleotida ke –590 dengan terhadap prematur spontan. Didapatkan bahwa alel IL-4 T lebih tinggi pada ibu yang mengalami kelahiran prematur spontan (2.6; 95% CI, 1.1-5.9). Lebih lanjut didapatkan bahwa wanita yang memiliki alel IL-4 T homozigot mengalami kelahiran prematur spontan mencapai 11,2 kali lebih banyak dibandingkan wanita yang tidak memiliki genotipe T (Kalish et al., 2004).

 

MMP8 merupakan enzim yang mendegradasi fibrillar kolagen yang mempertahankan kekuatan pada membran fetus (fetal membrane) yang diekspresikan oleh leukosit dan sel sitotrofoblas korionik (chorionic cytotrophoblast cell). Terdapat tiga SNP pada MMP8 yaitu pada posisi 2799C/T, 2381A/G dan 117C/G dari transcription start site utama MMP8 yang memiliki aktivitas transkripsi yang berbeda dimana alel minor memiliki aktivitas tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan alel mayor. Dari hasil penelititian yang dikaitkan dengan kelahiran prematur didapatkan bahwa tiga haploid alel minor pada gen MMP8 berhubungan dengan kelahiran prematur (OR=4,63; p<0.0001) sedangkan alel mayor memperlihatkan sifat protektif tehadap kelahiran prematur (OR=0,52; p<0.0002). Namun tidak ada satupun alel minor secara individu berhubungan dengan kelahiran prematur secara bermakna (Wang, 2004).

 

TLR-4  merupakan reseptor utama endotoxin-signaling dan merupakan bagian penting dalam menghasilkan respon imun terhadap bakteri Gram negatif. Terdapat dua SNP pada gen TLR-4 yang sudah diketahui yaitu the TLR-4 polymorphisms Asp299Gly dan Thr399Ile. Penelitian menjukkan bahwa alel 299Gly dan Asp/Gly atau genotipe Gly/Gly pada bayi tunggal yang prematur atau bayi kembar yang prematur lebih tinggi dibandingkan bayi tunggal atau bayi kembar yang lahir matur. Hal ini menunjukkan bahwa variasi alel TLR-4 berhubungan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur (Lorenz et al., 2002). Penelitian lain di Amerika Selatan menunjukkan bahwa selain meningkatkan kelahiran prematur ternyata SNP TLR-4 Asp299Gly juga meningkatkan kejadian kelahiran prematur (Rey et al., 2008).

 

Kelahiran prematur melibatkan banyak faktor risiko genetik dan lingkungan. Namun demikian banyak pula wanita yang mengalami kelahiran prematur tidak memiliki faktor risiko apapun (idiopatik), dan tidak jarang intervensi yang dilakukan gagal untuk mengurangi risiko kelahiran prematur. Penelitian yang dilakukan di sini merupakan langkah awal dalam menganalisa hubungan antara variasi genetik dengan risiko terjadinya kelahiran prematur. Penelitian ini secara umum tidak dirancang untuk menganalisa interaksi antar gen (gen-gen) dan gen-lingkungan yang berhubungan dengan risiko terjadinya kelahiran prematur. Perlu dilakukan replikasi penelitian serupa dengan jumlah sampel lebih besar dan dilengkapi dengan informasi kelompok ras/ etnis, selain itu perlu dilakukan analisis subgrup sebelum kita dapat mengetahui dampak adanya polimorfisme pada individu dengan risiko kelahiran prematur (Crider, 2005)

 

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik sepertinya berperan penting bukan hanya karena peran tunggal genetik namun juga karena adanya kombinasi dengan faktor genetik lain dan juga dengan faktor lingkungan. Temuan ini mengungkapkan pentingnya memahami kelahiran prematur sebagai suatu kelainan umum yang kompleks yang melibatkan interaksi gen-gen dan gen-lingkungan (Muglia, 2010).

Meskipun saat ini faktor genetik telah diakui sebagai determinan penting kelahiran prematur, namun tidak diketahui sejauh mana genetik berkontribusi terhadap perbedaan risiko di populasi dengan sejarah leluhur yang berbeda. Faktor-faktor lingkungan umum jelas memhubungani perbedaan ras pada jalannya kehamilan. Hubungan-hubungan ini dapat memhubungani efek yang sepertinya terlihat sebagai suatu perbedaan genetik yang kecil (Muglia, 2010).