Home / BERITA TERBARU / Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (2)

Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (2)

 

Ilustrasi bayi prematur

Oleh Prof. Dr. dr. Mohd. Andalas, Sp.OG

Pengantar Redaksi: Redaksi klikkabar menurunkan pidato Mohd Andalas pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Dawood, MA.Kampus Unsyiah, Darussalam – Banda Aceh, Kamis, 27 September 2018

Beberapa langkah preventif yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi.

Premarital Konseling

Program ini sangat baik jika dilakukan dengan optimal mengingat perencanaan kehamilan yang baik menjadi kunci suksesnya sebuah proses kehamilan dan persalinan dengan mendapatkan hasil luaran (outcome) bayi yang baik. Konseling yang diberikan terkait usia yang tepat untuk berumah tangga karena dihubungkan dengan struktur anatomis panggul seorang wanita yang relatif muda kurang dari 18 tahun belum tumbuh optimal, selain dirinya sendiri masih dalam proses tumbuh kembang sehingga secara psikologis dia belum siap menghadapi sebuah proses menjadi seorang ibu.

Saat ini premarital konseling hanya dilakukan oleh kantor urusan agama (KUA) terkait pemahaman seorang keluarga dalam bingkai syariah. Diharapkan tenaga kesehatan ikut terlibat dalam proses ini sejak awal selain menjelaskan hal terkait ilmu kespro juga untuk deteksi kelainan kesehatan secara umum, misal masih dijumpai kasus seorang calon mempelai wanita dengan kelainan jantung bawaan, begitu dia menjadi seorang wanita yang hamil maka dia berisiko menjadi payah jantung atau sakitnya bisa lebih berat dan mengancam jiwanya. Saat ini peran dokter hanya dalam memberikan surat keterangan imunisasi saja dalam sebuah proses premarital di KUA.

Prenatal Skrining

Pengertian pranatal disini adalah pengawasan sejak proses kehamilan terjadi sampai mencapai usia kehamilan cukup bulan (280) hari. Deteksi dini sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi hal tumbuh kembang janin mengingat semakin banyak dijumpai janin dengan kelainan kongenital dengan harapan hidup rendah jika dilanjutkan kehamilannya dan menjadi beban sosial keluarga.

Pada kehamilan lanjutan dengan skrining pranatal ini khususnya pada kelompok ibu/ wanita hamil berisiko, seperti ibu dengan riwayat obstetri buruk, hamil dengan diabetes melitus, kelainan letak plasenta dan lain sebagainya. Adanya faktor risiko diharapkan yankes dapat mengevaluasi tumbuh kembang janin sehingga bisa dilakukan intervensi bisa ditermukan adanya kelainan tertentu.

Pelayanan kontrasepsi efektif terpilih

Terlalu sering melahirkan dan terlalu rapat jarak antar kelahiran menjadi satu faktor risiko komplikasi saat persalinan/perdarahan pascasalin, karena rahim seorang ibu terlalu lelah, maka jika para petugas yankes terampil dalam pelayanan kontrasepsi pasca salin menjadikan seorang ibu segera dapat mengatur atau merencanakan kehamilan berikutnya dengan baik, tindakan ini juga bisa dilayani segera bagi seorang ibu yang melahirkan secara operasi sesar tentunya bila ibu dan keluarga bersedia pasca mendapat penyuluhan dari petugas pelayanan kesehatan.

Salah satu hal yang menjadi faktor risiko komplikasi bagi ibu hamil dan bayi adalah persalinan prematur pada ibu yang menyebabkan tingginya angka kematian bayi akibat asfiksia neonatorum. Hasil pelayanan obstetric yang belum optimal seperti masih tingginya, kelahiran prematur, hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan saat kehamilan dan persalinan akan mempengaruhi indeks pembangunan manusia. Berikut kami bahas mengenai kehamilan prematur yang bisa di jadikan peluang melakukan berbagai riset unggulan oleh Unsyiah dalam upaya menjawab tantangan SDGs.

II.1 Definisi Kelahiran Prematur

Kelahiran prematur (preterm birth) adalah kelahiran bayi yang terjadi pada usia gestasi kurang dari 37 minggu atau 259 hari. Bayi-bayi yang lahir secara prematur memiliki angka kejadian yang lebih tinggi terhadap kejadian cerebral palsy, kelainan sensori, ketidakmampuan belajar (learning disability) dan penyakit saluran nafas dibandingkan dengan anak yang lahir cukup bulan.
II.2 Epidemiologi Kelahiran Prematur

Kelahiran prematur meliputi 6–10% kelahiran pada negara barat dan diperkirakan menyebabkan dua per tiga kematian dari semua kematian perinatal (Murphy, 2007). Angka kelahiran prematur di beberapa negara mengalami penurunan. Seperti di Swedia, rata-rata kelahiran prematur menurun dari 6.3% pada tahun 1984 menjadi 5.6% pada tahun 2001 (Morken et al., 2005). Di Inggris didapatkan angka kelahiran prematur spontan 5% (Murphy, 2007).

Di Amerika Serikat, peningkatan kelahiran prematur mencapai 29% dari tahun 1981 hingga 2002 (Martin et al., 2003). Perubahan ini bisa disebabkan oleh faktor sosial ekonomi, umur maternal, status perkawinan, imigrasi, antropometri maternal, dan keterpaparan terhadap rokok, obat-obatan dan alkohol (Murphy, 2007). Namun berdasarkan laporan WHO tahun 2005, secara umum angka kelahiran prematur di seluruh dunia adalah 9,6%. Perbedaan insidensi kelahiran prematur di berbagai wilayah di dunia