Home / BERITA TERBARU / Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (1)

Menurunkan Kematian Ibu & Risiko Persalinan Prematur (1)

Oleh  Prof. Dr. dr. Mohd. Andalas, Sp.OG

Pengantar Redaksi: Redaksi klikkabar menurunkan pidato Mohd Andalas pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Obstetri dan Ginekologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala di Gedung Academic Activity Center Prof. Dr. Dayan Dawood, MA.Kampus Unsyiah, Darussalam – Banda Aceh, Kamis, 27 September 2018

Bismillahhirrahmanirrahim

Assalamua’alaikum Wr.Wb.

Hadirin yang saya muliakan,
Pengukuhan guru besar ini mengharuskan saya untuk selalu komit dan bertanggung jawab sebagai pendidik, kepada almamater, serta bangsa dan negara. Sebagai tenaga pendidik saya sadar akan tugas untuk mensukseskan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.
Saya menyadari bahwa posisi saya yang harus ikut mengambil bagian dalam mempercepat capaian Universitas Syiah Kuala sebagai universitas berkelas dunia atau World Class University (WCU) dengan visi inovatif, mandiri dan terkemuka.

Izinkanlah dalam kesempatan yang berbahagia ini, menyampaikan pidato pengukuhan saya dengan judul: “Peningkatan Kualitas Tenaga Ilmu Kesehatan Reproduksi Dalam Upaya Menurunkan Angka Kematian Ibu Dan Risiko Persalinan Prematur”.

I. PENDAHULUAN
Sesuai kamus Oxford English Dictionary, kata obstetrics atau ilmu kebidanan didefinisikan sebagai sebuah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada persalinan dan perawatan serta tata kelola ibu hamil sebelum dan sesudah melahirkan. Ilmu Obstetriks konsen pada kesehatan reproduksi manusia terutama di bidang promosi kesehatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya melalui proses perawatan kehamilan yang baik. Perawatan kehamilan yang tepat dan baik terkait faktor risiko komplikasi ibu hamil, perawatan kehamilan, superfisi persalinan, kelahiran, perawatan masa nifas serta evaluasi lanjutan pasca lahir dalam merencanakan kehamilan berikutnya dengan penggunaan kontrasepsi. Pelayanan obstetriks dan hasil luaran perinatal yang tidak optimal menunjukkan tidak baiknya pelayanan kesehatan reproduksi khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil.

Indonesia sebuah negara berkembang dengan jumlah penduduk sekitar 262 juta jiwa, Berdasarkan laporan BAPPENAS dalam proyeksi pertumbuhan penduduk Indonesia 2010-2035, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2020 mencapai 271 juta jiwa. Bila pengendalian pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi ini tidak dapat dikendalikan dengan baik tentu akan menjadi masalah tersendiri dalam menata tumbuh kembang dan kesejahteraan mereka. Karena itu pemahaman yang baik tentang ilmu kesehatan reproduksi bagi masyarakat sangat penting untuk dimengerti, masyarakat mengetahui dan paham kurun waktu usia reproduksi sehat sehingga bisa merencanakan sebuah proses reproduksi yang tepat, paham rentang usia yang optimal dalam berkeluarga sehingga menjadi paham sebuah kehamilan yang berisiko terjadi komplikasi bila hamil bukan diwaktu tepat seorang wanita hamil sehingga paham upaya pencegahan dengan deteksi dini dan perencanaan kehamilan, dan memilih tempat persalinan dengan baik.

II. PENINGKATAN KUALITAS TENAGA ILMU KESEHATAN REPRODUKSI DALAM UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DAN RISIKO PERSALINAN PREMATUR

Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia masih tinggi termasuk juga di Provinsi Aceh bila dibandingkan dengan negara tetangga kita dalam lingkup ASEAN. Di Nasional, AKI tahun 2016 yaitu 305 per 100.000 kelahiran dan AKB tahun 2016 yaitu 4.192 kasus atau 25,5 per 1.000 kelahiran. Di Provinsi Aceh, AKI tahun 2017 sejumlah 148 kasus per 100.000 kelahiran dan AKB tahun 2017 sejumlah 930 kasus pertahun.

Bila dilihat pada faktor penyebab kematian ibu tidak banyak perubahan bermakna dari faktor penyebab, diantaranya, pendarahan saat kehamilan dan persalinan, hipertensi dalam kehamilan/ preeklamsia, dan infeksi. Faktor-faktor yang menjadi penyebab komplikasi tersebut bisa diminimalkan dengan peningkatan kapasitas ilmu tenaga pelayanan kesehatan (Yankes) di lapangan, peningkatan petugas dan sarana pelayanan obstetri-neonatal dasar (PONED) dan komprehensif (PONEK) di Puskesmas. Data Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, Provinsi Aceh saat ini Propinsi Aceh memiliki 62 rumah sakit, meliputi 27 rumah sakit kabupaten, 4 rumah sakit TNI/POLRI, dan 31 rumah sakit swasta.

Sedangkan total jumlah tenaga spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG) pada tahun 2017 di Provinsi Aceh tercatat 89 orang. Bila diestimasikan dalam 1 rumah sakit minimal ada 2 sampai 3 orang dokter obgin atau 1 dokter obgin untuk 25 ribu penduduk sehingga untuk pelayanan yang lebih baik dibutuhkan 124-200 orang dokter ahli obgin, maka masih dibutuhkan antara 35-105 dokter obgin.

Bila dilihat data keberadaan tenaga kesehatan secara nasional dalam 100 ribu penduduk seperti yang disampaikan MENKES pada kuliah utama di Kongres Obstetri dan Ginekologi Semarang, Selasa 24 juli 2018, jumlah Dokter Spesialis target, 10,6, realisasi 14,6, Bidan target 112, realisasi 195,7, Tenaga Gizi, target, 12,4 realisasi 13,4, perawat target 171,2, realisasi 121. Untuk keberadaan bidan sendiri Provinsi Aceh salah satu daerah dengan realisasi tertinggi jumlah bidan di Indonesia tetapi masalah pemerataan distribusi dan kualitas masih menjadi kendala.

Distribusi dokter ahli obstetri dan ginekologi masih belum merata menumpuk didaerah kota besar atau daerah dengan daya tarik lain yang lebih menjanjikan, maka apa yang dilakukan pemerintah saat ini melalui wajib kerja dokter spesialis (WKDS) yang dimotori oleh perhimpunan dokter Obstetri dan Ginekologi Indonesia yang menurut penulis telah menjadi sebuah solusi sementara yang tepat. Di masa mendatang disarankan program pembukaan sentra pendidikan spesialis ilmu obstetri dan ginekologi atau bidang keahlian lain sebaiknya di Fakultas Kedokteran negeri yang terakreditasi baik yang difokuskan untuk kebutuhan daerah setempat seperti apa yang dilakukan Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia saat ini, menurut saya perlu kita dukung dan pertahankan, bukan pada daerah kota besar yang para dokter ahlinya sudah banyak.