Home / BERITA TERBARU / Kebebasan Berpikir di Era Teknologi

Kebebasan Berpikir di Era Teknologi

Oleh: Ir Ferry Suferilla (alumni SMAN 3 Banda Aceh)

Ketika saya di Le Generale Cafe Banda Aceh menikmati secangkir Coffee Americano atau Cappuccino, pikiran saya melambung jauh dalam narasi ekonomi. Kopi dihadapan saya sama dengan rasa kopi tempat lain. Walau ada perbedaan rasa namun kopi tetap kopi. Dari secangkir kopi cappuccino itu proses ekonomi terjadi.

Perhatikan, ada engineering metal yang supply ke pabrikasi mesin pembuat Cappuccino. Di dalam mesin itu ada perangkat lain yang didukung oleh supply chain seperti Modem control termperatur. Ini manufacure electronika.

Ada LCD sebagai monitor processing. Ini manufaktur rekayasa gelas yang high konduksi. Ada steam sebagai pemanas. Ini melibatkan supply chain rotor steam. Cukup ? belum. Ada lagi susu. Ini melibatkan supply chain peternakan sapi dan pabrik susu.

Sebagai pemanis rasa cappuccino perlu ada gula. Ini melibatkan Industri gula dan perkebunan Gula. Dan saya yang menikmati gadget saya, itu karena tersedia fitur sosial media pada gadget saya, baik untuk webmail sebagai alat komunikasi bisnis maupun untuk interkasi sosial. Tetapi tahukah anda bahwa itu semua datang berkat sistem ekonomi bekerja.

Tidak akan mungkin interaksi sosial media itu terjadi bila tidak didukung jaringan telekomunikasi berkecepatan cahaya. Itu melibatkan supply chain fiber optic untuk menghasilkan jaringan komunikasi berskala global. Itu juga melibatkan jasa teknologi instalasi jaringan fiber optic baik didarat maupun didasar laut.

Bukan itu saja, juga diperlukan jaringan cadangan satelite. Ini memerlukan pabrikasi satelit dan segala perangkat hight tekhnology di bidang rekayasa electronika.

Cukup ? belum. Masih ada lagi. Dengan adanya jaringan super cepat itu, maka lahir jasa pengembangan perangkat lunak yang berkecepatan tinggi. Dari ini lahir supply chain developer software, Design database and application. Agar perangkat lunak itu dapat diterjemahkan sebagai bahasa komunikasi publik maka diperlukan server communication. Server ini memerlukan processor untuk menterjemahkan perintah menjadi gambar, suara, dan data. Dari sini lahir industri processor dan server.

Agar komunikasi multimedia menjadi menarik maka lahirlah content provider yang menjaring komunitas dalam satu gateway seperti Facebook, WA. Istagram, Telegram, WeChat dll, ecommerce.
Sampai di sini Anda akan memahami bagaimana ekonomi itu bekerja efektif. Mengapa itu terjadi ? Karena adanya kebebasan pasar. Dari kebebasan pasar itulah lahir kreativitas mengubah peradaban dan melahirkan aktivitas ekonomi untuk terjadi proses kehidupan yang berkesinambungan.

Sebagai contoh, pekerja produsen Iphone di China satu pabrik saja jumlah angkatan kerja mencapai 250.000 orang. Itu sama dengan jumlah penduduk satu kota di luar jawa. Di China ada 11 pabrik Iphone yang diperkirakan menampung angkatan kerja 3 juta orang. Itu sama dengan populasi penduduk satu provinsi di luar Jawa. Semua dihidupi dengan masa depan terjaga.

Itu hanya satu contoh dari rantai pasok dari cappucciono dan komunitas sosmed yang nongkrong di Le Generale. Belum lagi yang lain seperti mereka yang terlibat dalam mata rantai pemasok fiber optic, electronica, satelite, metal, susu, gula, petani dan perternak.
Belum lagi jasa pendukung yang ada di antara pemasok dan produsen seperti jaringan logistik dan distribusi.

Dua pertiga penduduk planet ini tidak hidup dari SDA tetapi dari value add berkat teknologi dan akal manusia. Luas bumi tidak bertambah tetapi terasa lapang berkat adanya teknologi. Perubahan terjadi untuk terjadinya keseimbangan.

Jadi kalau Anda masih berpikir makmur karena SDA maka Anda akan selalu mengutuki harga naik. Padahal secara ekonomi bukan harga yang salah tetapi penghasilan Anda yang tidak berubah atau kalah cepat dengan kenaikan harga dipasar. Ubahlah mindset maka penghasilan berubah. Kata kuncinya adalah kebebasan berpikir.