Home / ACEH / YOSL-OIC dan Para Pejuang Restorasi di Gayo Lues

YOSL-OIC dan Para Pejuang Restorasi di Gayo Lues

Usman, Ketua Poktan Hijau Tongra memperlihatkan lahan restorasi di Desa Persada Tongra, Teurangun, Gayo Lues, Aceh, Kamis, 13 September 2018. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, BLANGKEJEREN – Gayo Lues adalah salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Aceh. Gayo Lues resmi menjadi kabupaten setelah mengalami pemekaran dari Aceh Tenggara pada 2002.

Daerah asal Tari Saman ini berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) serta Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Baca: Yuk, Jalan-jalan ke Kawasan Ekosistem Leuser Via Google Earth

Gayo Lues memiliki luas tutupan hutan paling luas di Aceh yakni 430,920 hektar atau sekitar 78 persen dari luas wilayahnya yang mencapai 554,991 hektar (Yayasan HAkA 2017). Namun, kerusakan hutan atau deforestasi yang terjadi terus saja mengikis hutan yang ada di Gayo Lues, bahkan kawasan yang dilindungi sekalipun.

Masih menurut data yang diperoleh Klikkabar.com dari HAkA, Gayo Lues mengalami deforestasi seluas 719 hektar sepanjang 2017 dan meningkat hampir dua kali lipat dengan laju deforestasi seluas 507 hektar (Januari-Juli 2018).

Ancaman kerusakan hutan tentu saja tidak hanya berpengaruh terhadap kehidupan manusia saja, juga berimbas terhadap keselamatan habitat flora dan fauna yang ada didalamnya.

Baca: Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Kian Kritis

Pemberdayaan Masyarakat di Gayo Lues

Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) adalah salah satu lembaga nirlaba yang selama ini gencar mengkampanyekan upaya pelestarian dan perlindungan hutan di Aceh.

Meski dari namanya hanya fokus pada upaya perlindungan dan pelestarian Orangutan dan hutan sebagai habitatnya, YOSL-OIC juga melakukan pendekatan serta melakukan beberapa upaya untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Salah satu upaya yang dilakukan YOSL-OIC saat ini adalah program pendampingan masyarakat. Ada dua jenis program yang sedang dijalankan yaitu Program Capable (Community Action to Protect and Advance Biodiversity in Leuser Ecosystem) dan Program GPC (Gayo Permaculture Center).

Kedua program ini dilaksanakan untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi atau hasil panen dan pengetahuan tentang pertanian organik yang ramah lingkungan. Selain itu, YOSL-OIC juga menggandeng mitra yang bertujuan untuk meminimalisir penebangan hutan, seperti yang dilakukan di Desa Melelang Jaya, Kec. Teurangun, Kab. Gayo Lues.

Di sini, YOSL-OIC telah membangun satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) untuk proses penyulingan minyak nilam dan serai wangi. Dua nama ini merupakan komoditas unggulan dari daerah yang memiliki julukan Negeri Seribu Bukit ini.

Namun, nilam dan sereh wangi berdampak negatif terhadap lingkungan dari segi kebutuhan kayu bakar yang sangat tinggi untuk proses penyulingan untuk menghasilkan minyaknya.

Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Unit Penyulingan Minyak Atsiri di Desa Melelang Jaya, Teurangun, Gayo Lues, Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

“Kebutuhan kayu untuk penyulingan dalam jumlah yang banyak membuat hutan terancam. Pohon-pohon ditebang oleh petani untuk dijadikan kayu bakar. PLTMH ini adalah solusi yang bisa menghemat kayu bakar, juga ramah terhadap lingkungan,” kata Manager Pemberdayaan Masyarakat YOSL-OIC, Binur Naibaho kepada Klikkabar.com saat berkunjung kesana pekan lalu.

Di sisi lain, Binur menjelaskan bahwa unit penyulingan yang mampu menyuling 9 kilogram minyak per hari itu memiliki beberapa kelebihan seperti harga jual yang lebih tinggi dari agen-agen yang biasanya membeli dari petani dengan harga yang murah, tapi dengan beberapa ketentuan.

Para petani dikatakannya akan mendapatkan nilai jual lebih jika terbukti memiliki lahan sendiri yang berada di luar kawasan hutan yang dilindungi apalagi hingga mampu menerapkan sistem pertanian organik.

“Kita hanya ingin membantu petani, mendorong mereka agar mau keluar dari kawasan hutan (tidak melakukan perambahan) dan mengurangi tekanan terhadap hutan (penebangan),” ujar Binur.

Restorasi Lahan

Sementara itu, di Desa Persada Tongra, Kec. Teurangun yang menjadi wilayah administratif terakhir Gayo Lues dan berbatasan langsung dengan Aceh Barat Daya, ada lahan seluas 50 hektar yang sedang mengalami pemulihan atau restorasi. Sebelumnya, lahan ini dirambah untuk diambil kayunya.

“Masyarakat mulai sadar saat hutan rusak, air sungai ikut berkurang. Sehingga kita mau menjalankan program restorasi yang diinisiasi oleh YOSL-OIC,” kata Ketua Poktan Hijau Tongra, Usman, saat dijumpai Klikkabar.com, Kamis (13/9/2018).

Usman sedang menanam bibit tanaman di lahan restorasi di Desa Persada Tongra, Teurangun, Gayo Lues, Aceh, Kamis (13/9/2018). (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Usman menjelaskan, saat ini Poktan Hijau Tongra yang memiliki anggota lebih dari 30 orang itu telah menanam sekitar 45 ribu bibit tanaman sejak program restorasi tersebut dimulai pada Februari 2018.

Sebagian besar yang ditanami diantaranya merupakan tanaman buah seperti durian, rambutan dan duku. Ada juga tamanam kayu seperti meranti, bayur dan salam.

Selain menguntungkan masyarakat saat musim panen, kata Usman, tanaman buah ini nantinya juga bisa membantu menyediakan pakan alami untuk satwa yang ada di hutan. Ia mengaku bahwa di daerah itu sering terlihat beberapa satwa seperti kijang, rusa, kedih hingga orangutan.

“Restorasi ini tidak hanya berguna untuk masyarakat saja, tapi juga untuk anak cucu kita serta untuk makhluk lainnya yang sama-sama hidup di kawasan ini,” timpal Usman.

Baca Juga: Rincian ‘Sumbangan’ Deforestasi dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh

Kasus Karhutla Kalimantan, Jokowi Ajukan Kasasi

Suaka Margastwa Rawa Singkil, ‘The Little Amazon in Aceh’

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil