Home / ACEH / Menelusuri Tradisi Kanji Asyura di Aceh

Menelusuri Tradisi Kanji Asyura di Aceh

Ibu-ibu memasak kanji Asyura di Samalanga, Kamis (20/9/2018). (Istimewa)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Hari Asyura adalah hari ke-10 pada bulan Muharram. Tahun ini, hari Asyura jatuh pada Kamis, 20 September 2018. Dalam masyarakat Aceh, banyak cara dilakukan untuk merayakannya salah satu yaitu melakukan kenduri Hari Asyura. Kenduri ini dilakukan dengan menyediakan bubur kanji untuk warga yang melaksanakan puasa pada hari tersebut.

Tradisi memasak kanji Asyura sudah turun temurun hingga saat ini. Di beberapa daerah di Aceh, tradisi ini masih dilestarikan. Namun, ada juga sebagian sudah mulai melupakan.

Selain untuk warga yang melaksanakan puasa, kenduri kanji Asyura juga bisa dirasakan oleh warga lainnya yang tidak berpuasa. Misalnya, kenduri dilakukan pada suatu gampong atau desa, maka seluruh penduduk setempat dapat merasakannya.

Beberapa warga berkumpul di sebuah padang terbuka, membawa bahan-bahan untuk membuat bubur, dikumpulkan dan dimasak bersama-sama. Kemudian dibagikan kepada anak-anak. Sebahagian disisakan untuk orang-orang yang berpuasa.

Dikutip dari berbagai sumber, bahan untuk membuat kanji Asyura terdiri dari beras, ketela, ubi, jagung, pisang, kacang tanah, kacang hijau, nangka yang sudah masak, kacang merah, daun pandan wangi, gula, garam, dan santan.

Ubi, ketela dan pisang dipotong ukuran dadu atau sedikit lebih besar dari itu, kemudian dicampurkan dengan semua bahan tadi dalam sebuah wajan besar. Takaran manis dan kentalnya bisa di sesuaikan dengan selera. Jika ingin lebih kental, boleh menambahkan sedikit beureune (sagu kering).

Di Bireuen, tradisi ini masih dilestarikan di dayah-dayah. Seperti yang terlihat di Daya Putri Muslimat, Samalanga, Kamis (20/9/2018). Beberapa ibu-ibu dibantu santri dengan semangat memasak kanji Asyura. Tradisi ini diadakan setiap tahun.

Hal lainnya juga terlihat di Pidie. Bukan hanya di pesantren dan dayah, kenduri Asyura juga dilakukan oleh masyarakat biasa. Warga setempat bahu-mebahu memasak kenduri itu.

Ibu-ibu memasak kanji Asyura di Pidie, Kamis (20/9/2018). (Istimewa)

Lalu, bagaimana asal-usul memasak kanji Asyura pada 10 Muharram?

Dalam sebuah riwayat, tradisi Asyura ini berawal dari cerita Nabi Nuh saat selamat dari bencana dan terdampar di sebuah gunung. Maka, sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt, umat Nabi Nuh yang berada dalam kapal Nuh memasak makanan lezat dengan bahan biji-bijian dan lain-lain yang mereka bawa saat ikut dalam bahtera Nabi Nuh.

Namun, versi lain, asal-usul kanji Asyura ketika Nabi Nuh berlabuh dan turun dari kapal. Bersama pengikutnya, mereka merasakan lapar sedangkan perbekalan mereka sudah habis. Kemudian Nabi Nuh memerintahkan pengikutnya untuk mengumpulkan sisa-sisa perbekalan mereka.

Maka dengan cepat mereka mengumpulkannya, ada yang membawa segenggam biji gandum, ada yang membawa biji adas, ada yang membawa biji kacang, ada yang membawa biji himmash (kacang putih) dan lain-lain, sehingga terkumpul 7 (tujuh) macam biji-bijian.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Asyura. Setelah itu Nabi Nuh membaca basmalah pada biji-bijian yang sudah terkumpul lalu beliau memasaknya, setelah matang lalu mereka menyantapnya bersama-bersama sehingga kenyang semuanya. (Wallahu a’lam)