Home / ACEH / Misteri Kematian Johansyah, Buronan Bersenjata di Aceh

Misteri Kematian Johansyah, Buronan Bersenjata di Aceh

Lubang bekas tembakan di kaca jendela rumah milik Johansyah di Desa Blang Bitra, Peureulak, Aceh Timur, Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Lubang bekas tembakan di kaca jendela rumah milik Johansyah di Desa Blang Bitra, Peureulak, Aceh Timur, Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Kematian Johansyah, 31 tahun, warga Desa Blang Bitra, Kec. Peureulak, Kab. Aceh Timur, Provinsi Aceh, masih menyisakan luka yang mendalam bagi keluarganya.

Sebelumnya, Johan ditetapkan menjadi buronan polisi pasca kasus penembakan di salah satu rumah warga di Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara pada 13 April 2018 lalu. Ia juga diduga terlibat dalam beberapa kasus kejahatan lainnya.

Baca: OTK Berondong Rumah Warga, Selongsong Peluru Berserakan

Polisi lantas mengejar Johan hingga sampai terlibat baku tembak saat hendak ditangkap pada 19 Agustus 2018. Nasib baik, Johan berhasil kabur dan membawa serta senjata api jenis AK-56, namun dua rekannya masing-masing berinisial M (42) dan Z (36) berhasil diringkus. Polisi juga berhasil mengamankan pil ekstasi sebanyak 81 butir, sabu-sabu seberat 3,19 gram, timbangan, alat hisap, sejumlah uang tunai dan beberapa selongsong peluru.

Pengejaran terus dilakukan, hingga akhirnya pelarian Johan terhenti setelah berhasil diamankan di salah satu kawasan di Kota Medan, Sumatera Utara pada 14 September 2018 malam. Tim gabungan Polres Aceh Utara yang dibantu personel Subdit 3 Ditreskrimum dan BKO Brimob Polda Aceh segera membawa pulang Johan ke Aceh.

Kapolres Aceh Utara AKBP Ian Rizkian Milyardin melalui Kasat Reskrim Iptu Rezki Kholiddiansyah dalam keterangan yang diterima Klikkabar.com mengatakan, usai ditangkap, Johan langsung diinterogasi terkait senpi yang kemudian diakuinya disimpan di rumah orang tuanya.

“Setelah senpi AK-56 berhasil diamankan, pelaku mengaku juga menyimpan pistol jenis FN di rumahnya. Saat tiba disana, pelaku mencoba melawan petugas dan melarikan diri sehingga terpaksa kita lumpuhkan,” kata Iptu Rezki, Sabtu (15/9) malam.

Baca: Akhir Kisah Buronan Bersenjata di Aceh

Foto wajah Johansyah dan senjata AK-56 yang berhasil diamankan Polisi. (Foto: Istimewa)

Johan kemudian meninggal dunia setelah dibawa ke Puskesmas Lhoksukon dan selanjutnya dilakukan proses autopsi di RSUD Cut Meutia, Aceh Utara, sebelum dijemput oleh pihak keluarga untuk dibawa pulang ke rumah duka.

Keluarga Tak Terima

Merasa membutuhkan informasi lebih rinci, Klikkabar.com kemudian mencoba menggali informasi lain dengan mendatangi rumah orangtua Johan di Peureulak, Senin (17/9). Setiba disana, suasana duka masih terlihat jelas terutama dari tatapan mata pasangan Hanafiah dan Nurhamni, orang tua Johan. Begitu juga dengan saudara kandung dan saudara tirinya.

Setelah memperkenalkan diri, Klikkabar.com melemparkan beberapa pertanyaan kepada ayah kandung Johan untuk mencoba mengenal lebih jauh tentang sosok anak ketiga dari 6 bersaudara ini. Tiba-tiba saja, Muntasir, 35 tahun, abang kandung Johan, menyela pembicaraan yang sedang berlangsung.

“Bang, kita kesana saja (rumah Johan). Nanti saya cerita,” kata Muntasir.

Tanpa menunggu lama, kami pun segera menuju ke rumah yang dimaksud. Rumah yang belum siap 100 persen itu dulu ditempati Johan bersama istrinya sebelum mereka berpisah (cerai). Rumah yang berukuran tidak terlalu besar itu terlihat sedikit menyeramkan, karena telah berlubang terkena tembakan di sana-sini.

Di rumah ini lah, baku tembak pernah terjadi antara polisi dengan Johansyah dan 2 rekannya beberapa waktu lalu. Di rumah ini juga, menurut keterangan polisi, Johan mencoba melarikan diri sebelum akhirnya dilumpuhkan dengan tembakan sebanyak 2 kali pada Minggu (15/9).

Baca: Baku Tembak di Aceh Timur, 2 Orang Ditangkap

Sembari meihat-lihat isi rumah yang berserakan, Muntasir mengutarakan kekecewaan pihak keluarga atas kematian Johansyah. Lantas, ia membuat pernyataan yang amat mengejutkan.

“Kami menduga Johan tidak ditembak disini. Dia juga tidak pernah dibawa ke rumah ini,” kata Muntasir.

Dugaan tersebut dikatakannya bukan tanpa alasan, karena saksi yang juga anggota keluarga mereka di Medan mengaku melihat tangan Johan diborgol dan kakinya dirantai serta tidak melakukan perlawanan saat ditangkap.

“Dengan posisi seperti itu, tidak mungkin dia bisa melawan apalagi sampai melarikan diri,” ujarnya.

Ia juga meragukan Johan sama sekali tidak dibawa ke rumah karena ada saksi yang melihat kedatangan 2 mobil polisi, sebelum terdengar suara tembakan sebanyak 2 kali dari dalam rumah.

“Ada 2 lubang bekas tembakan baru di jendela, dan lokasi lubangnya berdekatan. Ini tidak masuk akal,” papar Muntasir.

Di sisi lain, ia juga kecewa dengan sikap polisi yang tidak segera membawa Johan ke rumah sakit terdekat, jika memang adiknya itu ditembak di rumahnya seperti keterangan yang diberikan oleh polisi.

“Kenapa harus dibawa jauh ke Lhoksukon (Aceh Utara), jaraknya terpisah 60 kilometer lebih. Ini kan semacam pembiaran,” timpalnya.

Dugaan kejanggalan atas kematian adik kandungnya itu, tambah Muntasir juga diperkuat dengan tidak ditemukan setetes darah pun di lokasi (rumah), padahal selang beberapa jam lamanya hingga jenazah dimandikan, darah segar terus mengucur dari badan Johan akibat 2 tembakan yang mengenai bagian pinggulnya.

“Kami menduga ada yang salah dari kejadian ini dan kami akan mencoba mencari keadilan. Kita menghormati proses hukum atas kesalahan yang telah dilakukan Johan tapi tidak seharusnya dia ditembak mati,” pungkas Muntasir.

Baca Juga: Saat Muntahan Peluru Kembali Bersileweran di Aceh Timur

Sebelum Ditembak Mati, Keuchik Muklis: ‘Peu Salah Long’?

Buru Pelaku Penembakan di Aceh Timur, Densus 88 Dilibatkan