Home / ACEH / 6 Peraturan di Aceh yang Bikin Heboh

6 Peraturan di Aceh yang Bikin Heboh

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan Hukum Pidana Syari’ah atau yang diatur di dalam Qanun Jinayat. Setiap penduduk di Aceh atau pendatang yang terbukti melanggar Syari’at Islam akan ditangkap oleh Wilayatul Hisbah (Polisi Syari’at).

Jika pelanggaran yang dilakukan tergolong ringan, maka hukuman yang akan diberikan hanya sebatas teguran atau diberikan surat peringatan. Tapi, jika perbuatan yang dilanggar termasuk kedalam kategori berat, maka hukuman cambuk akan diterapkan.

Penerapan hukuman cambuk, dibalik segala kontroversi dari pihak luar yang menyebutnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia, adalah anugerah tersendiri bagi rakyat Aceh yang telah mendambakan penerapan Syariat Islam secara menyeluruh di daerah yang berjuluk Serambi Mekah ini.

Disamping penerapan Qanun Jinayat tersebut, berbagai aturan berbentuk amaran atau himbauan yang dikeluarkan oleh beberapa kepala daerah di tingkat kabupaten di Aceh, tak jarang juga menuai reaksi dari publik Aceh sendiri.

Pelanggar Syariat Islam saat menjalani hukuman cambuk beberapa waktu lalu di Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Banda Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Pelanggar Syariat Islam saat menjalani hukuman cambuk beberapa waktu lalu di Masjid Baiturrahim Ulee Lheu, Banda Aceh. (Zamzami Ali/Klikkabar.com)

Berikut 6 peraturan di Aceh yang sempat membuat heboh publik baik di tingkat nasional maupun internasional yang dirangkum Klikkabar.com dari berbagai sumber.

Wanita Dilarang Pakai Celana, Aceh Barat

Mulai Januari 2010, perempuan muslim di Aceh Barat dilarang oleh Bupati Ramli MS memakai celana ketat dan celana jeans. Penggunaan celana dibolehkan dengan syarat harus lebar dan menutupi mata kaki.

Celana juga bisa digunakan sebagai dalaman rok panjang yang lebar. Jika melanggar, maka pelaku harus mengganti celana yang dipakainya dengan rok yang disediakan khusus oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat. Sementara, celana yang mereka pakai akan digunting.

Pegawai Pria Dilarang Pakai Celana Ketat, Aceh Barat

Pada April 2018, Bupati Ramli MS kembali mengeluarkan peraturan yang menuai reaksi publik. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melarang pegawai laki-laki memakai celana ketat dan memasukkan ujung baju kedalam sisi celana karena dianggap tidak mencerminkan penampilan bersyariat islam.

Wanita Dilarang Ngangkang, Lhokseumawe

Pemerintah Kota Lhokseumawe di bawah kepemimpinan Walikota Suaidi Yahya, mengeluarkan surat edaran larangan mengangkang bagi perempuan saat dibonceng sepeda motor. Surat edaran dan larangan ini dikeluarkan pada Januari 2013 silam.

Jam Malam Bagi Perempuan

Pada Juni 2015, Walikota Banda Aceh Hj. Illiza Sa’aduddin Jamal membuat gempar lantaran mengeluarkan instruksi yang mengatur jam malam bagi setiap perempuan di Kota Banda Aceh. Perempuan dilarang keluar rumah melebihi pukul 22.00 WIB bersama laki-laki yang bukan mahram.

Tapi, Illiza saat itu mengatakan bahwa larangan itu merupakan instruksi dari Gubernur Aceh dan disampaikan kepada semua bupati/wali kota se-Provinsi Aceh. Artinya, jam malam bagi perempuan ini tidak hanya berlaku di Banda Aceh, tapi juga di seluruh Aceh.

Instruksi tersebut disesuaikan dengan kondisi Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi. Jadi jam malam ini diperpanjang hingga pukul 23.00, di antaranya bagi pekerja kafe, warung kopi dan pusat perbelanjaan.

“Mereka ini diperbolehkan hingga pukul 11 malam. Dan ini disesuaikan dengan aturan ketenagakerjaan. Jika ada mempekerjakan lewat jam 11, bisa dicabut izinnya,” kata Illiza.

Pramugari Wajib Jilbab, Aceh Besar

Pada Januari 2018, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mengeluarkan selembar surat berisikan aturan wajib berpakaian muslimah bagi pramugari semua maskapai yang mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar.

Surat bernomor 451/65/2018 dan bertanggal 18 Januari 2018 itu ditandangani Bupati Aceh Besar, Ir Mawardi Ali serta ditujukan kepada pimpinan delapan maskapai yang melayani rute Aceh, yakni Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Citilink, Sriwijaya Air, Wings Air, AirAsia, dan Firefly.

“Kepada semua pramugari diwajibkan mengenakan jilbab/busana muslimah yang sesuai dengan aturan syariat Islam,” bunyi salah satu poin surat tersebut.

Dalam surat itu disebutkan, landasan Pemerintah Aceh Besar mengimbau para pramugari untuk mengenakan pakaian muslimah jika mendarat di Aceh, sesuai dengan aturan yang berlaku di Aceh yaitu UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Qanun Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syariat Islam di bidang Aqidah, Ibadah dan Syiar Islam, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh.

Pria dan Wanita Dilarang Ngopi Semeja, Bireuen

Kali ini, Kabupaten Bireuen berhasil ‘mencuri perhatian’ setelah Bupati Saifannur mengeluarkan imbauan atau seruan mengenai standarisasi warung kopi ataupun cafe dan restoran pada 30 Agustus 2018.

Dalam kertas itu, ada 14 poin imbauan yang tertera. Dua di antara 14 poin itu adalah berisi larangan kepada pemilik warung kopi, cafe maupun restoran menerima pelanggan yang jenis kelamin perempuan di atas jam 21.00 WIB.

Dilarang melayani pelanggan wanita di atas pukul 21.00 WIB kecuali bersama mahramnya,” demikian salah satu isinya.

Kemudian, poin lainnya juga disebutkan bahwa pemilik warung kopi, cafe maupun restoran melarang pelanggan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram untuk duduk satu meja.

Haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya,” bunyi poin lainnya.

Dalam surat himbauan itu, Bupati Saifannur juga meminta kepada seluruh pemilik warung kopi, cafe maupun restoran untuk membuka usahanya hanya dari pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 24.00 WIB.

Baca Juga: Bireuen Larang Pria & Wanita Semeja di Kedai Kopi

Pasangan Gay di Aceh Dicambuk 87 Kali

Abi Muhib: Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh Tidak Boleh Ada Intervensi Siapapun