Home / BERITA TERBARU / Ada Memek di PKA

Ada Memek di PKA

Banda Aceh – Memek, makanan khas dari Kabupaten Simeulue yang terbuat dari campuran beras dan pisang dijual di stand Simeuleu di areal Festival Kuliner Taman Sultanah Safiatuddin, Banda Aceh. Memek dimasukkan ke cup (gelas plastik) dan dijual Rp 5.000 perporsi. Makanan ini disediakan dari siang hari.

“Sejak hari pertama banyak pengunjung yang mencari memek di stand milik daerahnya. Bahkan, ada beberapa pengunjung PKA yang membeli memek untuk dibawa ke Jakarta,” ungkap penjaga stand Simeulue Almawati, Jumat (10/8/2018).

Disebutkan, banyak yang cari memek ini bahkan sudah sampai ke Jakarta. Rata-rata penasaran dengan makanan khas Simeulue ini. Memek terbuat dari beras ketan gongsen, pisang, santan yang sudah dipanasin, gula dan garam. Proses pembuatannya butuh waktu sekitar satu jam. Setelah masak, memek dapat disantap dingin atau biasa.

Menurutnya, nama memek berasal dari mamemek yang berarti mengunyah-ngunyah atau menggigit. Namun saat ini masyarakat di Simeulue lebih populer menyebutnya sebagai memek.

“Jadi ini namanya memek. Gak boleh diganti karena dari nenek moyang kami namanya yaitu memek,” jelas Almawati dikutip dari rilis info PKA, Sabtu (11/8/2018).

Memek tidak setiap hari bisa dijumpai di sana. Soalnya, makanan ini biasanya disajikan bukaan bulan Ramadan. Pada bulan itu, hampir semua masyarakat membuat memek untuk disantap ketika buka puasa.

“Tapi kalau hari-hari biasa kalau dipesan ada juga. Karena ini bahannya santan jadi tidak tahan lama. Kami tidak pakai pengawet sehingga tidak ada efek samping saat dimakan,” ujar Almawati.

Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Irmayani mengatakan, Aceh sangat kaya dengan berbagai macam kuliner khasnya. Dari 23 kabupaten/kota di Aceh masing-masing memiliki makanan khas tersendiri.

Memek kuliner dari Simeulue

Melalui PKA-7 ini, semua jenis makanan dan kuliner khas tersebut ditampilkan. Dalam event tersebut juga ada festival kuliner.“Ini semua tujuannya agar kuliner khas tersebut terus dipertahankan. Jangan sampai tergerus zaman,” pungkas Irmayani.