Home / ACEH / Yuk, Jalan-jalan ke Kawasan Ekosistem Leuser Via Google Earth

Yuk, Jalan-jalan ke Kawasan Ekosistem Leuser Via Google Earth

KLIKKABAR.COM – Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) menyusun sebuah kisah berbahasa Inggris tentang Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang tertuang dalam sebuah alat pemetaan raksasa internet Google yaitu Google Earth.

Kisah KEL di Voyager Google Earth tersebut dibuat untuk lebih mengenalkan KEL secara lebih luas terhadap publik.

Program Manager dari Google Earth Outreach, Tomomi Matsuoka memaparkan bahwa, fitur Voyager di dalam Google Earth itu merupakan inovasi canggih Google yang memberikan wadah untuk menuliskan kisah dengan cara baru. Google Earth ini dapat diakses dengan mudah di browser Chrome.

“Kita juga dapat membukanya di aplikasi Google Earth yang dapat diunduh di Play Store atau Apple Store. Aplikasi tersebut sangat popular ditunjukkan bahwa lebih 100 juta kali aplikasi ini pernah diunduh,” kata Tomomi di kantor Google di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Geographic Information System (GIS) Manager HAkA, Agung Dwinurcahya menjabarkan bahwa KEL merupakan sebuah area yang luasnya 2,6 juta hektar di provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Kawasan ini telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dari sudut pandang lingkungan hidup. Sebagian dari kawasan ini berupa Taman Nasional yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan hutan hujan tropis di Sumatera.

Tidak hanya itu, KEL juga diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) untuk dikelola secara lestari dan berkelanjutan. KEL merupakan tempat terakhir di muka bumi dimana badak, gajah, harimau dan orangutan Sumatera berada bersama di alam bebas.

“KEL sangat berperan sebagai penyedia air bagi jutaan orang yang tinggal di dalam dan sekitarnya, mitigasi perubahan iklim dan bencana dan sebagai penyerap karbon terbaik di dunia,” kata Agung.

Lebih lanjut, Agung menjelaskan walaupun KEL merupakan grup hutan terluas yang masih tersisa di Sumatera, KEL terus menerus mengalami penghancuran baik secara sistematis maupun sporadis.

Laju kerusakan hutan di KEL menurut data Yayasan HAkA mengalami penurunan, namun tetap saja kehilangan yang sangat besar bagi hutan di Aceh karena mempunyai peran penting dalam mengurangi dampak bencana ekologis yang kerap terjadi.

“Sayangnya kerugian yang begitu besar dari bencana tersebut tidak meningkatkan pemahaman untuk menjaga hutan di Aceh. Program-program yang mendorong kerusakan hutan masih dengan mudah ditemui dengan dalih meningkatkan ekonomi masyarakat,” timpal Agung.

Dalam kesempatan yang sama, Irham Hudaya Yunardi, Social Media Officer HAkA menjelaskan, Voyager KEL yang bisa diakses ini terdiri dari 8 panel berisi narasi beserta foto, video dan lokasi di peta Google Earth.

Setiap panel mempunyai topik tertentu, seperti Arti Penting KEL, Flora dan Fauna dan Ancaman di dalam KEL. Cerita pada panel tersebut juga didampingi dengan foto atau video dan lokasi di peta agar pembaca merasa mengikuti sebuah tur di KEL.

Panel pertama menggambarkan keanekaragaman hayati yang merupakan surga tersembunyi di dunia. Panel ini menampilkan video fauna langka seperti gajah, harimau, beruang dari kamera trap Forum Konservasi Leuser (FKL) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Panel kedua berisi tentang arti penting KEL yaitu antara lain sebagai pemasok air dan mitigasi perubahan iklim. Panel ketiga bercerita tentang flora dan fauna unik yang berada di KEL.

Ancaman terhadap kelestarian KEL seperti perambahan hutan, illegal logging dan perburuan berada di panel keempat. Panel ini juga disertai peta sebaran kerusakan hutan di KEL provinsi Aceh sejak tahun 2015 sampai dengan 2018. Selain itu juga ada kisah sukses restorasi lahan dari perkebunan kelapa sawit illegal di Hutan Lindung di panel kelima.

Video yang menceritakan pemusnahan sawit illegal dan mengembalikannya sebagai fungsi rute gajah Sumatera menjadi pengantar di panel ini. Panel keenam tentang pengamanan satwa liar yang menggambarkan kerja keras pemerintah dan para ranger penjaga hutan dan di KEL melindungi kawasan dan membasmi ancaman perburuan.

Panel ketujuh berisi kepedulian komunitas lokal terhadap fungsi KEL saat ini dan di masa depan serta panel terakhir kedelapan berisi tentang para pejuang lingkungan yang tetap gigih membela kepentingan KEL yang sejatinya itu semua untuk kepentingan manusia sendiri.

Tertarik untuk mengenal KEL lebih dekat? Klik link tautan https://g.co/earth/leuser dan sebarkan sebanyak-banyaknya agar pemerintah dan seluruh komponen masyarakat lokal, nasional bahkan internasional terdorong untuk lebih menjaga hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya demi kehidupan di masa mendatang yang lebih baik.

Baca Juga: Nasib Kawasan Ekosistem Leuser Kian Kritis

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil

PT Bumi Flora dan Kematian Gajah yang Terulang

7 Fakta Bunta, Gajah Jinak yang Mati di Aceh Timur