Home / ACEH / 7 Fakta Bunta, Gajah Jinak yang Mati di Aceh Timur

7 Fakta Bunta, Gajah Jinak yang Mati di Aceh Timur

Bunta (paling depan) salah satu gajah jinak yang ada di CRU Serbajadi, Aceh Timur. (Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, ACEH TIMUR – Kematian Bunta masih menyisakan luka yang mendalam bagi para pegiat dunia konservasi terutama para Mahout (pawang gajah) yang ada di Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi, Aceh Timur.

Tidak ada yang menyangka, Bunta pergi secepat ini di usianya yang baru mencapai 27 tahun. Sabtu (9/6) kemarin, ia ditemukan mati di areal CRU Serbajadi dengan kondisi yang mengenaskan.

Baca: Bunta, Gajah Jinak Sumatera Dibunuh di Aceh Timur

Bunta dibunuh oleh pemburu dengan cara diracun untuk diambil gadingnya. Bunta merupakan gajah jinak yang selama ini ditempatkan di CRU Serbajadi sejak tahun 2016 silam.

Keberadaan CRU Serbajadi bersama empat ekor gajah jinak yang ada disana, termasuk Bunta adalah untuk meminimalisir tingkat gangguan serta menggiring kawanan gajah liar yang kerap turun ke lahan penduduk kembali ke habitatnya.

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut data dan fakta tentang Bunta yang berhasil dirangkum Klikkabar.com.

Mahout dan gajah jinak CRU Serbajadi saat sedang melaksanakan patroli gajah liar di pedalaman Aceh Timur. (Zamzami Ali/Klikkabar).

Gajah Liar Terlatih

Pada awalnya, Bunta merupakan gajah liar dan berhasil ditangkap pada 2006 di kawasan Aceh Utara. Bunta lalu dilatih di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree dan pada 2016 secara resmi bertugas dan mengabdi di CRU Serbajadi bersama 3 ekor gajah jinak lainnya, Lilik, Lia dan Nonik.

Sangar dan Berani

Tidak sembarangan orang bisa mendekati Bunta, meski sudah jinak seperti gajah lainnya. Para Mahout selalu mengingatkan jurnalis, fotografer atau pengunjung agar menjaga jarak dengan gajah jantan ini, karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Terbukti, Mahout saja pernah memiliki pengalaman buruk akibat ‘diserang’ Bunta. Dia kerap melampiaskan emosi dan amarah terhadp sesuatu hal yang tidak disenanginya.

Bahkan, setiap hendak diambil dari tambatan seperti ketika mau mandi atau mau minum, Mahout harus mendapat pendampingan dari Mahout lainnya karena Bunta tidak bisa dikendalikan sendirian.

Mahout dan gajah jinak di CRU Serbajadi, Aceh Timur. (Zamzami Ali/Klikkabar)

Sang Pemimpin

Bunta telah didapuk menjadi pemimpin gajah patroli dan penghalau di CRU Serbajadi. Bersama Lilik, Lia dan Nonik, Bunta selalu berjalan di depan. Tidak salah memang, Bunta dianugerahi tubuh yang kekar serta dibekali gading yang besar dan kuat.

Pernah Disambangi Leonardo DiCaprio

Pada 2016 lalu, Leonardo DiCaprio pernah berkunjung ke CRU Serbajadi. Pemeran utama Film Titanic itu bersama rombongan datang kala itu menggunakan 2 unit helikopter dari Medan sebelum melanjutkan kunjungannya ke Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

Rp 30,5 Juta dan Ngopi Gratis Seumur Hidup

Kematian Bunta jelas merupakan kejadian yang tidak bisa diterima. Bunta yang selama ini mengemban tugas mulia selain karena statusnya yang dilindungi oleh undang-undang, tega dibunuh dengan cara yang sangat keji.

Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh pun berinisiatif untuk memberikan hadiah sebesar Rp 10 juta kepada siapa saja yang memberikan informasi pasti tentang keberadaan dan identitas si pemburu.

Sejumlah NGO pun ikut ambil andil, seolah bersemangat memburu si pemburu dan bersedia menambahkan hadiahnya.

Mereka adalah Forum Konservasi Leuser (FKL), Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Wildlife Conservation Society (WCS), Orangutan Informastion Center (OIC) dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL). Total hadiah yang disediakan mencapai Rp 30,5 juta.

Tidak hanya itu, pemilik salah satu warung kopi di Banda Aceh juga menawarkan hadiah fantastis. Si pemberi informasi dijanjikan bisa menikmati kopi seumur hidupnya secara gratis di Leuser Coffee yang ada di kawasan Lampineung, Banda Aceh.

Rp 100 Juta dari Gubernur Aceh

Rabu (13/6) atau hari kelima pasca kematian Bunta, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf memberikan responnya.

Baca: Irwandi Hadiahkan Rp 100 Juta Buru Pembunuh Bunta

Tidak tanggung-tanggung, pria yang akrab disapa Bang Wandi itu menyediakan hadiah sebesar Rp 100 juta bagi siapa saja yang mampu memberi informasi akurat tentang si pemburu sehingga total hadiah bertambah menjadi Rp 130,5 juta.

Petugas BKSDA Aceh saat melihat bangkai Bunta, gajah jinak yang dibunuh di CRU Serbajadi, Aceh Timur. (Zamzami Ali/Klikkabar)

Pemburu Belum Ditangkap

Minggu, 1 Juli 2018 atau hari ke 22 pasca terbunuhnya Bunta, sang pemburu belum juga ditemukan. Meski pihak kepolisian sedang mengusut kasus dan memburu keberadaan pemburu dan jaringannya, banyak pihak yang pesimistis terhadap hal tersebut.

Hal ini dikarenakan banyak kasus gajah mati yang mengambang lalu hilang begitu saja dan jika pun ada yang tertangkap, sudah menjadi rahasia umum para pelaku kejahatan konservasi akan dihukum sangat ringan.

ZAMZAMI ALI

Baca Juga: Oh CRU Serbajadi, Nasibmu Kini

Kembali Bahas Konflik Gajah Liar, BKSDA dan FKL Temui Bupati Aceh Timur

Kembali Bahas Konflik Gajah Liar, BKSDA dan FKL Temui Bupati Aceh Timur

Kembali Bahas Konflik Gajah Liar, BKSDA dan FKL Temui Bupati Aceh Timur