Home / BERITA TERBARU / Usai Pertemuan Trump dan Jong-un, Dolar AS Kian Perkasa

Usai Pertemuan Trump dan Jong-un, Dolar AS Kian Perkasa

Ilustrasi.

KLIKKABAR.COM – Nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang lainnya termasuk rupiah, usai penandatanganan kesepakatan ‘komprehensif’ antara Donald Trump dengan Kim Jong Un.

Penandatangan dokumen antara pemimpin AS dan Korea Utara itu dilakukan dalam pertemuan bersejarah yang ditujukan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea di Singapura, Selasa (12/6).

Trump menyebut bahwa dokumen yang ditandatangani keduanya sangat komprehensif. Ia juga mengatakan proses denuklirisasi Korea Utara akan berlangsung dalam waktu yang cepat.

Pada perdagangan di pasar spot, dolar AS menguat 34 poin atau 0,24 persen terhadap rupiah ke level Rp13.966 per dolar AS. Pada pekan lalu, dolar AS sempat melemah cukup signifikan hingga sempat mencapai level Rp13.878 per dolar AS pada awal pekan lalu.

Dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang dan won Korea masing-masing sebesar 0,16 persen dan 0,18 persen. Sedangkan terhadap yuan China, dolar AS hanya menguat tipis 0,05 persen.

Dikutip dari Reuters dan CNN, dolar AS menguat 0,2 persen terhadap sekeranjang mata uang lainnya.

Kim sebelumnya mengatakan pertemuannya dengan Trump adalah pendahuluan yang baik untuk perdamaian. Hal tersebut disampaikan hanya beberapa bulan usai keduanya melontarkan hinaan satu sama lain terkait program nuklir yang dijalankan Korut.

Kendati demikian, ada beberapa kegelisahan di kalangan investor tentang hasil dari pembicaraan mengingat hubungan yang tegang antara kedua negara.

Di bursa saham Asia, perdagangan saham bergejolak dengan indeks Nikkei Jepang yang menguat 0,33 persen dan SGX Singapura menguat 0,14 persen. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan melemah 0,05 persen dan China.

“Perdamaian di semenanjung Korea dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi Korea Utara dan Korea Selatan, termasuk berpotensi menjadi re-rating untuk saham Korea Selatan,” terang Analis di DBS Singapura mengatakan dalam sebuah riset.

Analis tersebut juga menyebut pertemuan puncak penting ini akan membantu menghilangkan risiko utama bagi pasar dan ekonomi kawasan itu.

Namun, banyak analis tidak yakin tentang dampak keseluruhan atas pertemuan ini pada ekonomi dan pasar keuangan global yang tengah dihadapkan pada risiko perang dagang internasional. Risiko perang dagang di nilai masih jauh lebih besar terhadap pertumbuhan dunia.

Baru saja pekan lalu, Trump mengacaukan upaya Kelompok Tujuh untuk menunjukkan front persatuan, memilih untuk mundur dari komunike bersama sebelumnya. Aksi itu memancing kecaman dari Jerman dan Prancis.

Usai pertemuan Kim dan Trump, ekonomi dan pasar keuangan global bakal dihadapkan pada kebijakan Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa, serta pemilihan RUU Brexit di parlemen Inggris.