Home / ACEH / 4 Potensi Kerawanan di Aceh

4 Potensi Kerawanan di Aceh

Apel gelar pasukan Operasi Ketupat Rencong Tahun 2019 di Lapangan Mapolda Aceh, Rabu 6 Juni 2018. (IST)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Wakapolda Aceh, Brigjen Pol Supriyanto Tarah memimpin apel gelar pasukan Operasi Ketupat Rencong Tahun 2019 di Lapangan Mapolda Aceh, Rabu 6 Juni 2018.

Apel itu ditandai penyematan tanda pita operasi oleh Wakapolda kepada perwakilan personel Polri, POM dan Dinas Perhubungan.

Wakapolda dalam apel itu membacakan amanat tertulis Kapolri Jenderal Polisi Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph. D, di antaranya mengatakan sebagai salah satu operasi kepolisian terpusat, operasi ketupat tahun 2018 diselenggarakan secara serentak di seluruh Polda jajaran selama 18 hari mulai tanggal 7 sampai dengan 24 Juni 2018.

“Operasi ini melibatkan sebanyak 173.397 personel pengamanan gabungan yang terdiri dari unsur Polri, TNI, Pemda, serta stakeholders terkait dan elemen masyarakat lainnya,” kata Wakapolda.

Dikatakan Wakapolda, pada pelaksanaan operasi tahun ini, setidaknya terdapat 4 potensi kerawanan yang harus diwaspadai bersama.

Potensi kerawanan pertama adalah stabilitas harga dan ketersediaan bahan pangan. Pada tahun ini, kata dia, potensi permasalahan masih berkisar pada masalah distribusi pangan, upaya penimbunan oleh kelompok kartel/mafia pangan, maupun perilaku negatif pelaku usaha yang menaikkan harga di atas harga yang ditetapkan.

“Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama dan langkah proaktif dari stakeholders terkait guna mengatasi hal ini,” kata Wakapolda.

Potensi kerawanan kedua adalah permasalahan kelancaran dan keselamatan arus mudik dan arus balik. Hasil survey jalan yang dilaksanakan oleh Korlantas Polri bersama Kementrian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Kesehatan, maupun Dinas Jasa Marga, dan Pertamina, mendapati sekurangnya terdapat enam lokasi rawan macet pada jalur utama mudik lebaran, kata Wakapolda.

“Sehubungan dengan hal tersebut, saya memberikan penekanan kepada seluruh Personel terutama pada titik rawan macet dan titik rawan kecelakaan, agar benar-benar melakukan pemantauan secara cermat,” sebut Wakapolda.

Ia juga menyerukan kepada seluruh personel supaya strategi bertindak yang telah ditetapkan agar diikuti dengan baik.

“Optimalkan pelayanan pada 3.097 pos pengamanan, 1.112 pos pelayanan, 7 pos terpadu, dan 12 pos check point yang tergelar selama penyelenggaraan operasi,” pinta Wakapolda.

Ia menambahkan, potensi kerawanan ketiga yang juga harus diantisipasi adalah potensi bencana alam dan gangguan Kamtibmas lainnya, seperti curat, curas, curanmor, copet, pencurian rumah kosong, begal, dan hipnotis.

Untuk itu, Wakapolda meminta para Kasatwil agar dapat mengambil langkah pre-emtif maupun preventif yang diperlukan sehingga bisa menekan potensi yang ada.

“Saya juga berharap, agar seluruh Kasatwil dapat terus menerus berkoordinasi dengan pihak Basarnas, BMKG. dan pihak terkait lainnya, dalam upaya mengantisipasi dan mewaspadai potensi bencana alam,” ujarnya.

Potensi kerawanan keempat adalah, ancaman tindak pidana terorisme. Guna mengantisipasi potensi aksi terorisme, Wakapolda menekankan kepada seluruh Kasatwil untuk terus meningkatkan kegiatan deteksi intelijen yang diimbangi dengan upaya penegakan hukum secara tegas (preemtif strike), melalui optimalisasi peran satgas anti teror di seluruh Polda jajaran.

Di samping itu, kata Wakapolda, pengamanan tempat ibadah, pusat keramaian, Mako Polri, serta aspek keselamatan personel pengamanan harus menjadi perhatian.

“Perkuat pengamanan pada objek-objek tersebut dan laksanakan pendampingan personel pengamanan oleh personel bersenjata (buddy system),” kata Wakapolda.

“Khususnya dalam mewujudkan keamanan secara umum, saya perintahkan kepada seluruh jajaran untuk terus menerus meningkatkan kerjasama dengan rekan-rekan TNI serta stakeholders terkait lainnya,” pungkasnya. []