Guru

PENULIS: INDAH RAHMATILLAH*

ERIN Gruwell bangun pagi dengan antusiasme melebihi hari-hari biasa, itu adalah hari pertamanya mengajar Bahasa Inggris di Woodrow Wilson High School yang berada di kawasan Long Beach, California, dia diterima mengajar di kelas yang di isi oleh para remaja yang terjebak dalam kehidupan tawuran antar geng, narkoba, pertentangan ras, dan tuna wisma.

Namun, apa yang di dapatnya pada hari itu benar-benar membuatnya terkejut, siswa-siswa itu tidak pernah ingin bersekolah, mereka memilih sekolah karena itu adalah pilihan yang lebih baik dari penjara, hampir semuanya datang terlambat, konflik antar ras mereka bawa sampai ke kelas, semua duduk dengan kelompoknya masing-masing, tidak ada yang menghiraukan Gruwell yang sedang mengajar, bahkan diantara mereka ada yang berkelahi saat proses belajar sedang berlangsung, tentu tak ada guru yang mengharapkan kejadian seperti itu di hari pertamanya mengajar.

Hari-hari selanjutnya tidak jauh berbeda dengan hari pertamanya, anak-anak itu terang-terangan mengatakan bahwa seorang wanita kulit putih yang hidup normal tak akan bisa mengajar orang yang hidup amburadul seperti mereka, anak-anak itu sedikitpun tidak mengerti istilah sopan santun, bahkan ada yang berani membuat karikatur yang menghina dirinya. Pihak sekolah sendiri menganggap kelas itu hanyalah sebuah ruang “penampungan” bagi sampah masyarakat, tidak berharap lebih, mereka dianggap tak akan mampu lulus dari sekolah itu.

Gruwell, setelah melewati masa-masa sulit akhirnya menyadari, anak-anak itu tidak membutuhkan sekedar belajar bahasa inggris, mereka membutuhkan pendidikan, mereka butuh seseorang yang memahami diri mereka lengkap dengan masalah-masalah rumit yang mereka hadapi, mereka tak suka digurui. Dia lalu mengubah metodenya dengan meminta para siswa itu menuliskan kehidupan pribadi masing-masing, mereka dibebaskan untuk menuliskan apa saja, semacam sarana curhat.

Gruwell merasa sangat berempati dengan kepahitan hidup yang mereka alami, kekerasan, pembunuhan, perdagangan narkoba, tawuran adalah hal yang akrab dengan mereka. dia mulai memahami persoalannya, mereka hanyalah korban dari pertarungan ras yang terjadi di kota itu, lalu, dia memberikan buka The Diary of Anne Frank pada semua siswa untuk memberitahukan mereka bahwa ada orang yang telah mengalami hal yang lebih pahit dari mereka, Anne Frank adalah seorang anak perempuan Yahudi yang terpaksa bersembunyi dari kejaran Nazi Jerman.

Pelan-pelan anak-anak bengal itu mulai menerima kehadiran Gruwell. Lebih dari seorang pengajar bahasa inggris, Gruwell bahkan bekerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang demi bisa mengajak anak-anak ini jalan-jalan ke luar kota mengunjungi Museum Holocoust, dia ingin menunjukkan pada mareka bahwa kekerasan tidak akan memiliki manfaat sama sekali.

Mrs. G, begitulah para murid itu memanggilnya, akhirnya berhasil mengubah mereka kembali menjadi anak remaja yang normal, mereka pun meninggalkan dunia gelapnya masing-masing, sebagian besar dari mereka kemudian menjadi orang pertama dalam keluarganya yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Catatan harian para siswa ini lalu dibukukan dan di terbitkan dengan Judul The Freedom Writers’s Diary pada tahun 1999, pada tahun 2007 kisah ini diangkat menjadi sebuah film, yang diperankan oleh Hilary Swank sebagai Erin Gruwell.

200 tahun sebelum kisah Gruwell di ketahui oleh dunia, seorang jurnalis sekaligus sejarawan Amerika Serikat, Henry Adam menulis sebuah kalimat yang indah “Menggandeng tangan, Membuka pikiran, Menyentuh hati, Membentuk masa depan, Seorang Guru berpengaruh selamanya, Dia tidak pernah tahu kapan pengaruhnya berakhir.” Guru bukan lah sekedar orang yang berdiri di depan kelas sambil mendikte pelajaran untuk murid-muridnya, lebih dari itu ia adalah seorang teman sekaligus orang tua yang membantu para murid menjadi manusia seutuhnya.

Bagi murid, takzim adalah kewajiban, bagi guru, kasih sayang adalah syarat mendapatkan takzim, mengharapkan takzim murid tanpa pernah memberikan kasih sayang adalah anomali. Terkadang, ada guru yang memposisikan dirinya sebagai orang berkuasa, murid-murid harus tunduk dan patuh tak peduli dia benar atau salah, murid di paksa untuk mengikuti pelajaran dengan kepala tertunduk ketakutan, guru yang seperti ini menerjemahkan arti mendidik sebagai dominasi, tak ada ruang bagi murid untuk dipahami dan dirasakan hatinya.

“Pasal 1: guru tak pernah salah, Pasal 2: kalau salah kembali ke pasal 1”, bagi guru yang menganut filosofi tersebut, murid adalah kambing hitam dari seluruh kegagalan proses pendidikan, mereka melupakan sebuah pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Murid-murid sekolah hanyalah anak-anak yang sedang tumbuh, belum menemukan jati diri yang se utuhnya, tugas guru adalah membantu menyempurnakan pertumbuhan mereka. “Anak-anak di dalam kelas kita, mutlak lebih penting daripada pelajaran yang kita ajarkan kepada mereka ” seru Meladee McCarty suatu ketika.

Di India, seorang anak bernama Ishaan Awasthi mengalami tekanan yang hebat dari para gurunya hanya karena dia menderita penyakit dyslexia, penyakit yang membuat dia susah mengenal huruf-huruf dengan baik, nilai rapornya selalu merah, semua guru menganggapnya pemalas yang tidak mau belajar, makian yang setiap hari di terimanya membuat ruang kelas terasa seperti neraka baginya. Sebenarnya dia memiliki bakat luar biasa dalam melukis, namun tak ada yang mau peduli dengan itu, bahkan orang tuanya sendiri. pihak sekolah akhirnya merekomendasi orang tuanya untuk mengirim Ishaan ke sekolah asrama yang memiliki aturan pendidikan yang lebih ketat.

Di sekolah barunya, tekanan yang diterima Ishaan semakin dahsyat, guru-guru disana lebih keras dibanding sekolahnya yang dulu, mentalnya ambruk, di hantui ketakutan setiap hari, bahkan dia tidak mau lagi melukis. Hingga seorang guru bernama Ram Shankar Nikumbh masuk menggantikan guru seni yang sedang cuti, nikumbh melihat seorang anak ketakutan setiap kali menghadapi gurunya, itulah Ishaan. Akhirnya Dia tahu bahwa anak tersebut menderita dyslexia, Nikumbh mencoba memberikan semangat padanya dengan menumbuhkan kembali hobi melukisnya.

Nikumbh meminta izin pada kepala sekolah untuk melaksanakan lomba melukis yang di ikuti oleh seluruh guru dan murid, dia bermaksud menunjukkan pada Ishaan bahwa dirinya bukanlah anak yang tak berguna, sembari menohok para guru yang otoriter agar mereka bisa melihat bahwa semua anak memiliki kelebihan, di akhir lomba Ishaan berhasil memenangkan perlombaan, dan lukisannya di jadikan sampul majalah sekolah, dari situ semangat belajar dan keceriaannya kembali hadir.

Kisah Ram Shankar Nikumbh memang hanyalah fiksi dalam sebuah film berjudul Tare Zamen Paar, yang di bintangi Amir Khan (Nikumbh) dan Darsheel Safary (Ishaan), namun, pada dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai Ishaan-Ishaan lainnya yang menjadi korban dari ke-egois-an guru, sayang nya, tak semua bisa mendapatkan seorang guru penyelamat seperti Nikumbh, hingga sampai besar mereka tidak tumbuh dengan semestinya.

Sebagian guru berpikir tugas mereka adalah menggurui, padahal menjadi guru dengan menggurui tak hanya sekedar perbedaan biasa, keduanya lebih cocok kita sebut antonim untuk satu sama lain, perbedaannya selayak obat dan racun. Menjadi guru adalah soal hati, menggurui adalah nafsu, nafsu akan dominasi.

*Penulis merupakan mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Unsyiah