Home / ACEH / Bayi Gajah yang Terjerat di Aceh Diberi Nama Amirah

Bayi Gajah yang Terjerat di Aceh Diberi Nama Amirah

Amirah, bayi gajah yang terkena jerat saat menjalani perawatan di PKG Saree, Aceh Besar, Kamis, 3 Mei 2018.(Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Amirah terbaring lemah. Sesekali ia mencoba bangkit, tapi tak bertahan lama dan ia kembali berbaring. Tubuhnya terlihat sama sekali tak bertenaga.

Amirah adalah bayi Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) betina liar yang baru tiba di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree, Aceh Besar, Provinsi Aceh pada Kamis, 3 Mei 2018 dinihari WIB.

Tim Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang dipimpin oleh Kepala Seksi Wilayah 1, Dedi Irvansyah serta dibantu oleh tim medis dari Usnyiah berhasil mengevakuasi bayi gajah malang tersebut dari kawasan hutan Geumpang di Kabupaten Pidie.

Baca: Bayi Gajah Sumatera Terjerat di Aceh

Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo kepada Klikkabar.com mengatakan, usia nama Amirah belum lah sampai satu hari alias baru diberi nama.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, dikatakannya diberi kehormatan untuk menamai bayi gajah betina itu.

“Beliau memberikan nama Amirah, yang berarti Ratu kepada bayi gajah yang dievakuasi dari hutan Geumpang, Pidie,” kata Sapto Aji Prabowo, Jum’at (4/5) malam.

Amirah, bayi gajah yang terkena jerat saat menjalani perawatan di PKG Saree, Aceh Besar, Kamis, 3 Mei 2018.(Zamzami Ali/Klikkabar)

Sementara itu, ia juga menjelaskan hingga saat ini kondisi Amirah mulai membaik setelah tim medis membersihkan dan mengobati luka di kaki kiri Amirah, yang diduga karena terkena jerat atau perangkap rusa yang dipasang oleh pemburu di hutan.

Luka luar yang diderita oleh Amirah memang terlihat cukup parah. Kakinya terlihat hampir putus dan menyulitkannya untuk sekedar berdiri apalagi untuk berjalan.

“Semoga lukanya tidak sampai menimbulkan infeksi karena akan membahayakan kondisi Amirah,” tutup Sapto Aji Prabowo.

Gajah Sumatera sejatinya merupakan sub spesies dari Gajah Asia yang habitatnya cuma ada di pulau Sumatera. Gajah ini mempunyai postur lebih kecil daripada sub spesies Gajah India. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam kelangsungan hidupnya.

Gajah diburu dan dibunuh oleh manusia, terutama untuk diambil gadingnya. Kebanyakan kasus yang ditemukan, gajah tersebut dibunuh dengan cara diracun.

Sebagian besar habitat gajah pun telah hilang dan berganti menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan yang agresif terutama kelapa sawit. Hal ini pula mengakibatkan konflik gajah dengan manusia terus menerus terjadi dan seolah tidak pernah berhenti.

Sejak 2012 sampai dengan 2017, tercatat ada 55 ekor gajah yang mati di Aceh. Gajah Sumatera kini diprediksi hanya tersisa kurang lebih 1.500 ekor dan lebih sepertiga diantaranya diyakini hidup di kawasan hutan Aceh.

Baca Juga: FKL: Deforestasi Faktor Utama Pemicu Konflik Gajah dan Manusia

Kembali Bahas Konflik Gajah Liar, BKSDA dan FKL Temui Bupati Aceh Timur

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil