Home / ACEH / Asai Nanggroe Bak Rimba Tuhan, Refleksi Earth Day 2018

Asai Nanggroe Bak Rimba Tuhan, Refleksi Earth Day 2018

‘Pohon Terakhir’ yang ada di salah satu perkebunan sawit di pedalaman Aceh Timur, Aceh. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Asai nanggroe bak rimba tuhan.. Huteun beuraleun hana manusia.. Teuka endatu meeususah payah.. Rimba le geucah geu ilah-ilah daya.. Geupeuna tanoeh blang bak geumeugoe.. Geupuga gampoeng bak geumeu nanggroe.. Geupeuget rumoh bak geupeuniyoh.. Ngak bek payah eh cong bak kayee-kayee raya.

Kalimat diatas adalah penggalan lirik lagu dari musisi senior yang juga anggota Dewan Perwakilan Daeerah (DPD RI) asal Aceh, Rafly Kande. Lirik yang ada di lagu Asai Nanggroe itu menceritakan tentang asal muasal wilayah atau daerah yang ditempati oleh manusia saat ini.

Ia mengisahkan, negeri saat ini dulunya berasal dari hutan atau belantara yang tidak berpenghuni. Berikut terjemahannya:

Asal negeri dari hutan rimba.. Hutan belantara tidak ada manusia
Datang nenek moyang bersusah payah.. Rimba ditebang dengan usaha berat.. Dijadikan sawah untuk bercocok tanam.. Dipugar kampung jadi tempat bermukim.. Dibuat rumah jadi tempat beristirahat.. Supaya tidak perlu tidur diatas pohon-pohon besar.

Dapat dibayangkan, sejatinya negara ini dulunya adalah hutan yang tidak berpenghuni sama sekali termasuk Provinsi Aceh yang saat ini memiliki luas hutan sekitar 53 persen dari luas wilayah keseluruhan.

Sumber: Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), pada tahun 2017 hutan Aceh memiliki luas 3.011.924 hektar dari luas daratan yang mencapai 5.677.081 hektar.

Dari jumlah hutan seluas itu, 40 persen diantaranya merupakan bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 190/Kpts-II/2001, wilayah KEL tercatat memiliki luas 2.255.577 hektar dan berada di 14 Kabupaten dan Kota yang ada di Aceh serta untuk Provinsi Sumatera Utara melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No.10193/Kpts-II/2002, mencakup area sluas 384.294 hektar.

Sumber: Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).

Kawasan ini sejatinya merupakan kawasan perlindungan dan menjadi tempat yang sangat nyaman bagi keberlangsungan hidup flora dan fauna endemik yang keberadaannya kian langka kita jumpai di alam bebas.

Lebih dari 3.500 jenis flora bisa dijumpai di daerah ini seperti bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. Micropylora) yang keberadaannya kian langka. Selain itu, fauna yang ada disini juga tidak kalah mengagumkan. Mulai dari jenis burung, reptil, amphibi, ikan, mamalia hingga karnivora.

Bahkan yang paling langka seperti Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus), Beruang Madu (Helarctos Malayanus), Burung Rangkong Papan (Buceros Bicornis), Siamang (Hylobates Syndactylus), Kambing Hutan (Capricornis Sumatraensis), Rusa Sambar (Cervus Unicolor), Mawas/Orang Utan (Pongo Pygmaeus Abelii), Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis) dan Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), adalah contoh fauna yang bisa dijumpai di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Sumber: Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).

Keberagaman dan berbagai kelengkapan flora dan fauna ini pula yang membuat Unesco menetapkan KEL sebagai salah satu Cagar Biosfir terbaik yang ada di dunia. Namun, ancaman perubahan fungsi hutan menjadi non hutan (Deforestasi) mengancam semua kekayaan yang kita miliki saat ini.

Jangan pula kita berbangga diri, semua itu akan lenyap begitu saja jika hutan Aceh terus menerus dibabat dan kita akan semakin sering mendengar kekeringan, banjir bandang, longsor serta berbagai bencana lainnya yang akan menghampiri negeri ini.

Penampilan Rafly Kande di acara pameran Foto Lingkungan di Banda Aceh, 21 April 2018. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

“Saya mengecam para pelaku perambahan hutan di daerah Aceh yang sangat kita cintai ini,” kata Rafly dalam orasinya di pelantaran Pasar Aceh dalam acara Pameran Foto Kerusakan Lingkungan Aceh, Sabtu (21/4).

Acara tersebut digelar oleh Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh dalam rangka Peringatan Hari Bumi (Earth Day) 2018. Ada sekitar 40 frame foto karya fotografer dan jurnalis yang memantau isu lingkungan yang dipajang.

Ketua PFI Aceh, Fendra Tryshanie mendampingi Ketua DPRA Tgk. Muharuddin melihat foto di acara Pameran Foto Lingkungan di B. Aceh, Sabtu, 21 April 2018. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

Wagub Aceh, Nova Iriansyah, Ketua DPRA Tgk. Muharuddin, Kepala BKSDA Sapto Aji Prabowo dan Ketua DPRK Arif Fadillah serta para aktivis lingkungan ikut menyaksikan serta memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang sangat positif tersebut.

“Kita apresiasi kegiatan yang diharapkan mampu menyadarkan masyarakat Aceh khususnya, betapa hutan Aceh kini dalam kondisi kritis. Hutan yang sangat penting sebagai penyangga kehidupan ini harus selalu kita jaga sebagai warisan yang paling berharga bagi anak cucu kita nanti,” kata Tgk. Muharuddin.

ZAMZAMI ALI

Baca Juga: Suaka Margastwa Rawa Singkil, ‘The Little Amazon in Aceh’

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil

Tahun 2017, Ada 1.528 Temuan Illegal Logging di Kawasan Ekosistem Leuser

FKL: Deforestasi Faktor Utama Pemicu Konflik Gajah dan Manusia

Ini Rincian ‘Sumbangan’ Deforestasi dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh