Home / ACEH / Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil

Menguak Kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil

Salah satu alat berat terlihat sedang bekerja di dalam kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Desa Ie Meudama, Kec. Trumon, Kab. Aceh Selatan. Foto direkam beberapa waktu lalu. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Dibalik segala keindahan dan kelebihannya, Suaka Margasatwa Rawa Singkil ternyata menyimpan permasalahan yang luar biasa. Apalagi kalau bukan musuh utama kelestarian hutan, deforestasi.

Rawa Singkil bak gadis molek dari desa yang mempesona. Keindahan dan kekayaan yang ada disana membuat banyak orang berlomba-lomba menjarah isinya. Deforestasi tak mampu dibendung. Rawa Singkil sedikit demi sedikit kehilangan keindahannya.

Baca: Suaka Margastwa Rawa Singkil, ‘The Little Amazon in Aceh’

Deforestasi sendiri dapat diartikan sebagai proses penghilangan hutan alam dengan cara penebangan untuk diambil kayunya atau mengubah peruntukan lahan hutan menjadi non hutan seperti pembukaan lahan dan pembukaan jalan baru serta pembangunan lainnya.

Kawasan yang masuk kedalam area konservasi sekalipun juga diincar oleh para pihak dengan berbagai dalih, seperti pembukaan lahan untuk dijadikan area perkebunan.

Salah satu potret kerusakan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Desa Ie Meudama, Kec. Trumon, Kab. Aceh Selatan. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

Berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.859/MenLHK/Setjen/PLA.2/11/2016, SM Rawa Singkil memiliki area seluas 81.802.22 hektar.

Namun nyatanya, SM Rawa Singkil telah kehilangan banyak luasnya. Hal tersebut disampaikan oleh Manager GIS Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), Agung Dwi Nurcahya saat diwawancarai Klikkabar.com, Selasa, 10 April 2018.

Pada tahun 2006, HAkA mencatat Rawa Singkil memiliki luas 79.880 ha, lalu 79.761 ha pada 2009, kemudian 78.375 pada 2014, 77.433 ha pada 2015, 77.227 pada 2016 dan tersisa 76.707 ha pada tahun 2017.

“Jika dihitung secara keseluruhan, sejak 2006 hingga 2017 Rawa Singkil telah mengalami deforestasi seluas 3.237 ha,” ujarnya.

Baca: Tahun 2017, 17.333 Hektare Hutan Aceh Rusak

Ini Rincian ‘Sumbangan’ Deforestasi dari 23 Kabupaten/Kota di Aceh

Di tahun 2018, HAkA dikatakan Agung juga telah mengumpulkan data terbaru terkait luas kerusakan SM Rawa Singkil. Pihaknya mencatat sepanjang Januari hingga Februari 2018, SM Rawa Singkil mengalami kerusakan sekitar 65 ha.

Manager GIS Yayasan HAkA memperlihatkan peta kerusakan yang terjadi di SM Rawa Singkil. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

“Berdasarkan data yang kita miliki, luas SM Rawa Singkil saat ini tersisa sekitar 76.642 ha,” kata Agung Dwi Nurcahya.

Selain itu, HAkA juga mendeteksi titik api yang disebabkan oleh kebakaran lahan baik yang disengaja   atau tidak di Aceh sepanjang 2017. Dari 4.344 titik api yang terdeteksi, 89 titik diantaranya berasal dari kawasan SM Rawa Singkil.

Aktivitas Illegal Kehutanan di SM Rawa Singkil

Sementara itu Direktur Forum Konservasi Leuser (FKL) Rudi Putra, secara terpisah mengatakan pihaknya mencatat sebanyak 47 aktivitas illegal kehutanan terjadi di SM Rawa Singkil sepanjang tahun 2017.

Putra asli Aceh Tamiang yang juga ahli Biologi itu merincikan, berdasarkan penemuan pihaknya di lapangan, ada 20 kasus pembalakan liar dan 27 kasus perambahan lahan yang terjadi di SM Rawa Singkil.

“Itu hanya penemuan di SM Rawa Singkil saja, kalau secara keseluruhan di kawasan KEL, kita menemukan 1.528 kasus pembalakan, 1.368 kasus perambahan, 24 tambang dan 729 kasus perburuan liar,” kata Rudi Putra.

Baca: Tahun 2017, Ada 1.528 Temuan Illegal Logging di Kawasan Ekosistem Leuser

Sumber: Forum Konservasi Leuser (FKL).

Khusus di SM Rawa Singkil, pihaknya mencatat ada 6 kasus pembukaan jalan yang dilakukan didalam kawasan SM Rawa Singkil dengan panjang sekitar 13,5 kilometer.

Rudi Putra yang pernah mendapatkan penghargaan dari Goldman Environmental Prize, dalam usahanya memerangi pembalakan liar dan perambahan hutan itu juga berharap para pihak agar semakin sadar terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan terutama SM Rawa Singkil yang ada didalam kawasan KEL, demi masa depan yang lebih baik di kawasan tersebut.

“Dengan segala kelebihannya, SM Rawa Singkil saat ini membawa banyak manfaat  untuk masyarakat di sekitarnya. Jika tidak dijaga bersama, manfaat yang ada akan hilang, malah bencana yang akan menghampiri,” pungkas Rudi Putra.

ZAMZAMI ALI

Baca Juga: Rawa Singkil, ‘Pengendali Air’ yang Terancam di Pesisir Selatan Aceh

FKL: Deforestasi Faktor Utama Pemicu Konflik Gajah dan Manusia

FKL Inisiasi Gerakan Sekolah Hijau di Pedalaman Aceh Tamiang