Home / ACEH / Rawa Singkil, ‘Pengendali Air’ yang Terancam di Pesisir Selatan Aceh

Rawa Singkil, ‘Pengendali Air’ yang Terancam di Pesisir Selatan Aceh

Aksi pembakaran lahan di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Desa Ie Meudama, Kec. Trumon, Kab. Aceh Selatan. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

KLIKKABAR.COM, BANDA ACEH – Membahas Suaka Margasatwa Rawa Singkil seolah tidak ada habisnya. Kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati dan non hayati tersebut memang memiliki banyak kelebihan dibanding dengan daerah lain, terutama potensi gambutnya.

Baca: Surga Kehidupan Itu Bernama Rawa Singkil

Peneliti Ekologi dan Konservasi Hutan Tropika, Onrizal, PhD, saat dimintai tanggapannya mengenai kekayaan potensi gambut yang ada di SM Rawa Singkil mengatakan, sekitar 83 persen area SM Rawa Singkil dari luas keseluruhan 81.802.22 hektar berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.859/MenLHK/Setjen/PLA.2/11/2016, adalah lahan yang ditumbuhi hutan rawa gambut.

Selain itu sisanya ditumbuhi oleh hutan pantai, hutan mangrove, hutan hujan dataran rendah dan vegetasi riparian yang tumbuh di sisi kiri dan kanan sungai.

Lahan basah ini dikatakan Onrizal merupakan tempat hidup dan berkembangbiaknya biota air terutama puluhan jenis ikan dan udang dan menjadi lahan pendapatan yang menjanjikan bagi penduduk disana.

“Produktivitas hasil tangkap ikan di kawasan tersebut tidak kurang dari 360.000 kg setiap tahunnya. Bila rata-rata Rp 10.000 saja per kg, nilainya mencapai Rp 3,6 miliar setahun, belum ditambah hasil lain seperti lebah madu, pandan dan rotan” kata Onrizal kepada Klikkabar.com, Minggu, 8 April 2018.

Gambut Sebagai Pencegah Banjir dan Penyedia Air

Lahan gambut yang mendominasi SM Rawa Singkil, terbentuk sejak jutaan tahun lalu melalui tumpukan serasah bagian pohon dan tumbuhan lain yang mati. Ketebalan tanah gambutnya juga sangat bervariasi.

“Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, kedalaman lapisan gambut di Rawa Singkil ada yang melebihi 7 m. Sangat dalam. Tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali bobotnya dan secara alami sangat berperan secara hidrologi, yakni mencegah banjir saat musim hujan dan menjaga ketersediaan air saat musim kemarau sehingga wilayah sekitarnya tidak dilanda kekeringan,” jelasnya.

Hutan rawa gambut dan hutan mangrove juga dikatakan Onrizal tercatat sebagai hutan dengan simpanan karbon tertinggi di dunia dibandingkan kawasan hutan lainnya.

Namun, kondisi Rawa Singkil kini semakin mengkhawatirkan akibat kian maraknya aksi perambahan. Aksi illegal logging kerap terjadi serta pembakaran lahan sering dilakukan baik itu di luar maupun di dalam kawasan SM Rawa Singkil.

Kerusakan yang terjadi di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Desa Ie Meudama, Kec. Trumon, Kab. Aceh Selatan. (Foto: Zamzami Ali/Klikkabar)

“Hasil penelitian kami sebelumnya, simpanan karbon di kawasan tersebut berkisar antara 496,54 – 3.325,65 ton karbon/ha tergantung kedalaman gambutnya. Sangat besar. Sehingga hutan rawa gambut dan hutan mangrove di Rawa Singkil sangat besar perannya bagi iklim global,” pungkas Onrizal.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto aji Prabowo, M.Si, juga mengutarakan kekhawatirannya jika SM Rawa Singkil rusak akibat terus dirambah secara illegal.

Lahan gambut yang berfungsi sebagai spon (penyerap air) di Rawa Singkil yang notabene nya adalah daerah daerah buangan air karena terletak di DAS Alas Singkil, dikatakan Sapto akan terganggu fungsinya dan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa kembali berfungsi seperti semula.

Mata pencaharian sekitar 26.702 jiwa penduduk yang tersebar di 8 kecamatan dan 47 desa yang ada di sekitar SM Rawa Singkil dari hasil alam yang disediakan oleh Rawa Singkil dapat dipastikan juga akan terganggu.

Kenyataan diatas juga diperparah dengan bahaya bencana alam berupa banjir yang akhir-akhir ini sudah sangat sering terjadi di Aceh Selatan, Subulussalam dan Aceh Singkil.

“Selain menyerap air dengan baik saat musim hujan, lahan gambut juga menjamin ketersediaan air saat musim kemarau tiba sehingga daerah tersebut terhindar dari kekeringan. Jika terus rusak, ini bisa menjadi masalah besar,” ujar Sapto Aji Prabowo, M.Si.

ZAMZAMI ALI

Baca Juga: Suaka Margastwa Rawa Singkil, ‘The Little Amazon in Aceh’