Home / BERITA TERBARU / Trump Kunjungi Korsel, Rudal-rudal Korut Mendadak Pasif

Trump Kunjungi Korsel, Rudal-rudal Korut Mendadak Pasif

Foto: Google.

KLIKKABAR.COM – Rudal-rudal rezim Kim Jong-un di Korea Utara (Korut) tiba-tiba pasif selama kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Korea Selatan (Korsel) dan negara-negara Asia lainnya. Menteri Luar Negeri Korsel Kang Kyung-wha menduga, Pyongyang sedang memikirkan ulang strateginya untuk melawan Washington dan sekutu-sekutunya.

Sebelumnya, rudal-rudal Korut terpantau satelit AS digerakkan dari Pyongyang menjelang lawatan Trump ke Asia. Namun, dalam beberapa hari terakhir, nyaris tak aktivitas terkait persenjataan rezim Kim Jong-un termasuk uji coba yang biasanya dilakukan sebagai kejutan.

“Mereka menggunakan jeda ini untuk menyempurnakan beberapa aspek teknis dari provokasi lebih lanjut yang mungkin mereka lakukan,” kata Kang, seperti dikutip dari NBC News, Kamis (9/11/2017).

”Provokasi lebih lanjut selalu mungkin dan kami sangat memperhatikannya. Tapi yang pasti, periode jeda ini memberi kami indikasi bahwa Korea Utara juga berhitung ulang,” ujarnya.

Kang mengatakan, Korea Utara menggunakan masa “ketenangan internasional” untuk menyempurnakan senjata rudalnya. Negara tertutup itu telah mengabaikan kecaman internasional dan nekat melanjutkan pengembangan senjata nuklir.

Presiden AS Donald Trump telah menganggap Korea Utara sebagai ancaman bagi dunia melalui senjata nuklirnya selama pidatonya di Seoul. Pemimpin Gedung Putih itu juga minta semua negara yang bertanggung jawab untuk bersatu menghentikan ancaman nuklir dari Pyongyang.

Dia telah memperingatkan rezim Kim Jong-un untuk tidak membuat ”kesalahan perhitungan yang fatal”, karena Perang Dunia III bisa saja pecah.

Joshua Pollack dari Royal United Services Institute (RUSI) mengatakan, Korea Utara masih dapat menembakkan senjatanya dalam demonstrasi kekuatan melawan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. “Pimpinan Korea Utara tidak diragukan lagi merasa terdesak ke sebuah sudut,” ujarnya.

”Urutan tindakan yang logis adalah mulai mengujinya sampai total ke Pasifik dan kemudian menggunakannya untuk uji coba nuklir langsung jika dianggap perlu untuk meyakinkan para pemimpin Amerika bahwa sebuah realitas baru telah muncul,” katanya. (Sindo)